BANYAK YANG MAMPU, TAPI SEDIKIT YANG TERGERAK!” — Sulitnya Menggugah Hati Manusia untuk Berqurban di Tengah Gaya Hidup yang Kian Mementingkan Diri Sendiri.

Kabar Negeri Plus | Religi — Tak sedikit orang mampu membeli kendaraan baru, mengganti ponsel setiap tahun, hingga menghabiskan jutaan rupiah demi gengsi dan hiburan.

Namun ketika ajakan berqurban datang, tiba-tiba hati terasa berat, alasan demi alasan bermunculan, dan pengorbanan terasa begitu mahal.

Inilah ironi yang kini perlahan menjadi wajah kehidupan modern: manusia rela mengeluarkan uang untuk kesenangan dunia, tetapi sulit mengeluarkan sebagian hartanya untuk ibadah yang penuh keberkahan.

Padahal, qurban bukan semata tentang menyembelih sapi atau kambing. Qurban adalah ujian keikhlasan. Tentang seberapa besar cinta manusia kepada Allah dibanding cintanya kepada harta benda yang ia kumpulkan siang dan malam.

Kisah Nabi Ibrahim AS seharusnya menjadi tamparan keras bagi hati manusia. Ketika Allah memerintahkan sesuatu yang paling dicintainya untuk dikorbankan, Nabi Ibrahim tidak menunda, tidak mencari alasan, dan tidak berpaling.

Namun hari ini, banyak manusia bahkan sulit mengorbankan sedikit dari rezeki yang justru Allah titipkan kepadanya.

Yang membuat hati semakin miris, di tengah kemewahan yang dipamerkan di media sosial, masih banyak kaum dhuafa yang hanya bisa menatap iri ketika Hari Raya Idul Adha tiba.

Ada anak-anak kecil yang berharap bisa merasakan daging setahun sekali, sementara sebagian orang yang hidup berkecukupan justru sibuk menghitung kerugian jika harus berqurban.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah terbesar bukan terletak pada kurangnya harta, melainkan kerasnya hati dan lemahnya rasa syukur.

Qurban sejatinya adalah cara Allah membersihkan manusia dari sifat kikir, sombong, dan cinta dunia berlebihan. Sebab harta yang terus digenggam tanpa kepedulian kepada sesama, pada akhirnya hanya akan menjadi beban yang dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Momentum Idul Adha seharusnya menjadi ruang perenungan. Bahwa hidup bukan hanya tentang menikmati, tetapi juga berbagi. Bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga belajar melepaskan.

Karena sesungguhnya, yang paling sulit dalam qurban bukan membeli hewannya, melainkan menyembelih ego, keserakahan, dan rasa terlalu cinta terhadap dunia.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *