Kematian Itu Pasti: Tapi Mengapa Kita Hidup Seolah Tidak Akan Pergi?

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 25 Mei 2026)

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kenyataan yang paling pasti dalam hidup manusia, tetapi paling sering dihindari untuk dipikirkan: kematian.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Dalil

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 185)

Inti Pesan

Tidak ada manusia yang bisa lari dari kematian.

Cepat atau lambat,
miskin atau kaya,
kuat atau lemah,
semuanya akan sampai pada titik itu.

Namun anehnya, manusia sering hidup seolah kematian masih sangat jauh.

Masih menunda taubat.
Masih merasa punya banyak waktu.
Masih sibuk mengejar dunia tanpa memikirkan akhir perjalanan hidupnya.

Padahal kematian tidak pernah menunggu seseorang siap.

Ia datang kepada yang muda maupun tua.
Datang kepada yang sehat maupun sakit.
Dan sering kali datang saat manusia sedang sibuk dengan dunianya.

Rasulullah ﷺ, manusia terbaik yang paling dekat dengan Allah pun tetap merasakan kematian. Menjelang wafatnya, beliau mengingatkan umatnya tentang salat, amanah, dan kehidupan akhirat. Dari situ kita belajar: sebesar apa pun kehidupan dunia, akhirnya semua manusia tetap akan kembali kepada Allah.

Kematian bukan sekadar akhir kehidupan.

Tetapi awal dari perjalanan yang sebenarnya.

Hari ini banyak manusia takut kehilangan dunia, tetapi jarang takut datang menghadap Allah dalam keadaan hati yang kosong dari amal. Padahal saat kematian tiba, yang menemani bukan harta, jabatan, atau popularitas—melainkan amal dan iman yang pernah dijaga selama hidup.

Kunci: kematian bukan pertanyaan “apakah akan datang”, tetapi “sudah siap atau belum”.

Dan sering kali yang membuat manusia lalai bukan karena tidak tahu tentang kematian, tetapi karena merasa masih punya banyak waktu. Padahal tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu kapan perjalanan ini selesai.

Baca Juga:

Dunia Hanya Singgah: Mengapa Kita Terlalu Sibuk Mengejarnya?

 

Aksi Hari Ini

Mulai mengingat kematian sebagai pengingat hidup:

  • Jangan menunda taubat
    Karena tidak ada jaminan kita masih memiliki hari esok.
  • Perbaiki salat dan hubungan dengan Allah
    Sebab itulah yang pertama kali akan dipertanggungjawabkan.
  • Kurangi kesombongan terhadap dunia
    Semua yang dimiliki hari ini suatu saat pasti ditinggalkan.
  • Minta maaf dan perbaiki hubungan dengan sesama
    Jangan sampai ada penyesalan ketika kesempatan sudah tidak ada.
  • Gunakan hidup untuk amal yang bernilai
    Karena hanya itu yang akan tetap tinggal setelah kita pergi.

Kadang manusia baru sadar berharganya waktu ketika tubuh sudah lemah, usia sudah habis, dan kesempatan mulai tertutup. Padahal kematian tidak pernah meminta tanda sebelum datang. Dan yang paling menyedihkan bukan meninggal dunia, tetapi pulang kepada Allah tanpa persiapan iman yang cukup.

Penutup

Kematian bukan untuk ditakuti secara berlebihan,
tetapi untuk diingat agar hidup tidak salah arah.

Karena pada akhirnya, semua yang berjalan di bumi ini akan pulang kepada Allah.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *