Mahasiswa Mau Sidang atau Main Petak Umpet?” — Dosen Pembimbing Sulit Ditemui, Dunia Kampus Dinilai Sedang Tidak Baik-Baik Saja!.

Kabar Negeri Plus | Pendidikan — Fenomena mahasiswa tingkat akhir yang kesulitan menemui dosen pembimbing kini bukan lagi cerita lama yang dianggap biasa.

Di berbagai kampus, persoalan ini justru berubah menjadi “momok” yang memicu stres, keterlambatan wisuda, hingga dugaan matinya empati dalam dunia akademik.

Di saat mahasiswa dikejar deadline, tekanan biaya kuliah, dan tuntutan keluarga agar segera lulus, sebagian dosen pembimbing justru disebut sulit ditemui, lambat merespons, bahkan terkesan menghindar saat mahasiswa hendak mengurus persetujuan jadwal sidang.

Akibatnya, banyak mahasiswa mengaku seperti sedang bermain “petak umpet” demi mendapatkan tanda tangan bimbingan.

“Yang bikin capek bukan revisi skripsi, tapi ngejar dosennya,” keluh seorang mahasiswa tingkat akhir dengan nada frustrasi.

Keluhan itu kini ramai membanjiri media sosial. Mulai dari mahasiswa yang harus bolak-balik kampus tanpa kepastian, menunggu berjam-jam di depan ruangan dosen, hingga berkali-kali menghubungi lewat chat yang hanya berakhir centang biru tanpa jawaban.

Ironisnya, keterlambatan respons dosen sering berdampak langsung pada tertundanya jadwal sidang mahasiswa.

Tidak sedikit yang akhirnya gagal wisuda tepat waktu hanya karena proses persetujuan yang berlarut-larut.

Situasi ini memunculkan kritik keras terhadap sistem akademik kampus yang dinilai masih feodal dan terlalu bergantung pada “mood” personal dosen pembimbing.

“Kalau mahasiswa telat satu hari saja bisa kena sanksi, kenapa ketika mahasiswa dipersulit bertemu dosen justru dianggap hal biasa?” ujar salah satu aktivis mahasiswa.

Sorotan publik semakin tajam karena persoalan ini dianggap bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan menyangkut hak mahasiswa sebagai peserta didik yang telah membayar biaya pendidikan tidak sedikit.

Bahkan, sebagian mahasiswa mengaku mengalami tekanan mental akibat ketidakjelasan jadwal sidang.

Ada yang kehilangan semangat menyelesaikan skripsi, merasa dipermainkan sistem, hingga harus menambah semester karena pengurusan administrasi yang tak kunjung selesai.

Fenomena ini membuat publik mulai mempertanyakan wajah asli dunia pendidikan tinggi saat ini.

Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembinaan intelektual justru dinilai berubah menjadi tempat yang melelahkan secara psikologis bagi mahasiswa tingkat akhir.

Di tengah gencarnya kampus mempromosikan slogan “pelayanan akademik modern”, realita di lapangan justru memperlihatkan masih banyak mahasiswa yang harus berburu dosen demi sekadar mendapatkan tanda tangan sidang.

Kini, pertanyaan besar mulai menggema di kalangan mahasiswa: apakah sulitnya menemui dosen pembimbing memang karena kesibukan akademik, atau justru karena budaya birokrasi kampus yang selama ini dibiarkan tanpa evaluasi?
Satu hal yang pasti, persoalan ini bukan lagi keluhan individu.

Ini sudah menjadi keresahan massal yang diam-diam dirasakan hampir seluruh mahasiswa tingkat akhir di Indonesia.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *