
Lembut kepada Sesama, Dicintai oleh Allah
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 5 Agustus 2026 | Hari 5 Minggu I)
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh.
Setelah kita belajar tentang keikhlasan, tawadhu’, kejujuran, dan memaafkan, hari ini kita melengkapi akhlak seorang mukmin dengan satu sifat yang sangat indah, yaitu bersikap lembut kepada sesama.
Kita hidup di zaman yang penuh dengan amarah.
Sedikit berbeda pendapat langsung bermusuhan.
Sedikit tersinggung langsung memutus silaturahmi.
Sedikit kecewa langsung melukai dengan kata-kata.
Padahal Islam tidak dibangun dengan kekerasan hati.
Islam disebarkan dengan kelembutan.
Banyak hati yang tidak mampu ditaklukkan oleh kekuatan.
Tetapi luluh hanya karena akhlak yang lembut.
Kata-kata yang baik.
Senyuman yang tulus.
Dan kasih sayang yang lahir dari hati yang bertakwa.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā.
Allah mencintai kelembutan.
Dan orang yang menghadirkan ketenangan bagi orang lain akan memperoleh ketenangan dari-Nya.
Dalil
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman kepada Rasulullah ﷺ:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 159)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah memberikan karena kelembutan sesuatu yang tidak diberikan karena kekerasan.”
(HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:
“Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Inti Pesan
Kelembutan bukan berarti lemah.
Kelembutan adalah kekuatan yang mampu mengendalikan emosi.
Orang yang lembut bukan berarti tidak memiliki keberanian.
Justru ia mampu memilih kata-kata yang menenangkan ketika orang lain memilih kemarahan.
Kasih sayang adalah ciri orang yang mengenal Allah.
Semakin dekat seseorang kepada Allah.
Semakin lembut lisannya.
Semakin santun sikapnya.
Semakin besar kepeduliannya kepada orang lain.
Sebaliknya.
Hati yang keras sering kali lahir karena jauh dari dzikir, sedikit bersyukur, dan enggan memaafkan.
Karena itu kelembutan adalah buah dari hati yang hidup bersama Allah.
Kisah Teladan
Salah satu kisah paling menyentuh tentang kelembutan Rasulullah ﷺ terjadi ketika seorang Arab Badui datang ke masjid lalu buang air kecil di salah satu sudut masjid.
Para sahabat marah dan segera ingin menghentikannya dengan keras.
Namun Rasulullah ﷺ berkata,
“Biarkan dia menyelesaikannya.”
Setelah itu beliau meminta seember air untuk membersihkan tempat tersebut.
Kemudian Rasulullah ﷺ menasihati orang Badui itu dengan kata-kata yang lembut.
Beliau menjelaskan bahwa masjid adalah tempat untuk berzikir, salat, dan membaca Al-Qur’an.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada hinaan.
Tidak ada kemarahan.
Akibat kelembutan itu, orang Badui tersebut memahami kesalahannya dan semakin mencintai Rasulullah ﷺ.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa hati manusia lebih mudah menerima kebenaran ketika disampaikan dengan kasih sayang daripada dengan kemarahan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Hari ini cobalah memperhatikan cara kita berbicara.
Apakah ucapan kita membuat orang lain tenang?
Atau justru melukai hati mereka?
Bagaimana sikap kita kepada pasangan?
Anak-anak?
Orang tua?
Tetangga?
Rekan kerja?
Kasih sayang tidak selalu diwujudkan dengan pemberian yang besar.
Kadang cukup dengan mendengarkan.
Mengucapkan terima kasih.
Menghargai pendapat.
Tersenyum.
Atau menahan emosi ketika sedang marah.
Semua itu adalah amal yang dicintai Allah.
Kunci
Kelembutan adalah bahasa hati yang mampu membuka pintu-pintu kebaikan yang tidak dapat dibuka oleh kemarahan dan kekerasan.
Baca Juga:
Setiap Langkah Kebaikan Akan Dipertanggungjawabkan
Aksi Hari Ini
Tersenyumlah kepada setiap orang yang engkau temui
Karena senyum yang tulus adalah sedekah.
Jagalah lisan ketika emosi datang
Diam sesaat lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang melukai.
Perlakukan keluarga dengan penuh kasih sayang
Karena akhlak terbaik dimulai dari rumah.
Berdoalah agar Allah melembutkan hatimu
Karena hati yang lembut adalah nikmat yang sangat besar.
Muhasabah sebelum tidur
Tanyakan kepada diri sendiri,
“Apakah hari ini kehadiranku membawa ketenangan atau justru meninggalkan luka bagi orang lain?”
Orang yang dicintai Allah bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga menghadirkan rasa aman, damai, dan kasih sayang bagi siapa pun yang berada di sekitarnya.
Penutup
Saudaraku yang dirahmati Allah.
Kita tidak akan mampu mengubah seluruh dunia.
Tetapi kita bisa mengubah suasana di sekitar kita dengan akhlak yang lembut.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan seorang Arab Badui dengan kasih sayang hingga hatinya menerima kebenaran, marilah kita menjadikan kelembutan sebagai cara berdakwah, mendidik keluarga, bekerja, dan bergaul dengan sesama.
Jangan biarkan kerasnya dunia mengeraskan hati kita.
Tetaplah lembut.
Tetaplah penyayang.
Tetaplah menjadi penyejuk di tengah banyaknya kemarahan.
Karena orang yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang paling banyak menebarkan rahmat kepada makhluk-Nya.
Semoga Allah menghiasi hati kita dengan kasih sayang, melembutkan lisan dan perilaku kita, menjadikan kita pribadi yang membawa kedamaian di mana pun berada, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dicintai karena kelembutan akhlaknya.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

