Menggenggam Bara Api di Akhir Zaman, Saat Menjaga Tauhid Terasa Semakin Berat

Mengenggam Bara Api di akhir Zaman.
‎Bertahan dalam Tauhid dan kebenaran
‎saat semua orang melepasnya.
‎
‎”Seperti Menggenggam Bara Api”
‎Bukan lebay, bukan dramatis, tapi memang seperti itu rasanya, menjaga
‎tauhid dan kebenaran di akhir zaman
‎sekarang.
‎
‎Kenapa terus semakin berat.?
‎Dulu orang takut berbuat salah, zaman
‎sekarang takut di anggap beda. Dulu
‎dosa di sembunyikan, zaman sekarang
‎dosa di tonton bahkan diperlihatkan
‎di medsos bahkan di mata umum.
‎
‎Media sosial bikin yang salah terlihat
‎wajar, yang wajar terlihat kuno, bahkan
‎ketinggalan zaman, yang taat di anggap
‎fanatik, yang jujur di anggap tidak flek
‎sibel.
‎
‎Maka menjaga iman hari ini bukan
‎cuma soal tahu mana yang benar dan
‎yang salah, tapi berani tetap di jalan
‎yang benar meski sendirian. Itulah panas
‎bara api.
‎
‎Api itu menggenggam bara api.?
‎Bayangan kita Menggenggam bara api,
‎panas, perih, ingin di lepas kenapa..?
‎Karena kita tahu, kalau di lepas, yang
‎kita lepaskan bukan sekedar bara tapi
‎perinsip hidup kita.
‎
‎Menjaga Tauhid hari ini artinya, tetap
‎yakin hanya Allah tempat bergantung,
‎tidak menyekutukanNya, dengan pangkat
‎harta dan jabatan manusia atau popu-
‎leritas, tidak mengandalkan iman demi
‎diterima lingkungan.
‎
‎Tidak membenar
‎kan yang salah demi terlihat aman. itu
‎berat tapi bernilai.
‎
‎Tantangan Zaman Sekarang.
‎

  1. ‎Tekanan sosial. Semua orang juga begitu, kalimat paling berbahaya di zaman ini, karena banyak orang lebih takut di jauhi teman, dari pada di jauhkan dari kebenaran.
  2. ‎Normalisasi dosa. Yang dulu jelas salah, sekarang dibilang pilihan, yang dulu memalukan, sekarang dibilang kebebasan, kalau tidak hati-hati, hati bisa kebal.
  3. ‎Imformasi tanpa saring. Semua orang bisa bicara, tidak semua orang benar, kalau tidak kuat pondasi tauhidnya, iman bisa goyah hanya karena satu konten viral.
  4. ‎Ujian kenyamanan. Terkadang bukan ancaman yang bikin kita lepas bara Tapi kenyamanan, karena memperta hankan kebenaran sering bikin, a. Kehilangan relasi. b. Kehilangan peluang. c. Kehilangan popularitas. tapi justru di situ nilai perjuangan nya, kenapa harus tetap bertahan, karena tauhid, bukan sekedar identitas, tauhid adalah fondasi hidup, kalau fondasi retak, bangu nan runtuh, kalau tauhid goyah, niat mudah rusak, prinsip mudah di jual kebenaran mudah di tukar dengan kenyamanan, yang harus kita ingat Allah tidak pernah menilai kita dari seberapa ramai yang ikut kita. “Menggenggam Bara”  Tetap jujur walau rugi, tetap menolak yang haram walau menggiurkan dan menggairahkan, tetap menjaga batas walau di ejek, tetap beribadah walau sibuk, tetap rendah hati walau sendirian, mereka mungkin tidak viral tidak trending tidak ramai di puji, tapi mereka di kenal di langit.
  5. ‎Cara menguatkan genggaman, agar tidak melepas bara, an:
    ‎
    ‎- Perkuat ilmu, iman tanpa ilmu mudah    goyah.
    ‎
    ‎- Jaga lingkungan, dekat dengan orang baik itu seperti sarung tangan pelindung.
    ‎
    ‎- Luruskan niat, jangan ingin terlihat benar, api ingin benar di hadapan Allah.
    ‎
    ‎- Perbanyak do’a, karena hati kita mudah bolak balik.
    ‎
    ‎- Jangan takut terlihat beda, kalau semua orang berjalan kearah jurang, justru yang beda adalah yang selamat. Kebenaran memang tidak selalu ramai, tapi ia selalu punya cahaya, dan bara api itu, meski panas ia juga cahaya.
    ‎
    ‎- Penutup.
    ‎
    ‎Mengenggam bara api itu memang menyakitkan, tapi lebih sakit lagi kalau suatu hari kita sadar, kita sudah melepas kebenaran hanya demi di terima dunia.
    ‎
    ‎Kalau hari ini kita merasa berat menjaga iman, berarti kita semua masih menggenggamnya, dan itu bukti hati
    ‎kita masih hidup. Amin.
    ‎
    ‎(Dok. KN+ Jakfar sidik.)
    ‎

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *