24 tokoh di satu meja, Rocky Gerung masuk Wantimpres: Prabowo rangkul beragam perspektif Indonesia

JAKARTA — Kabar Negeri Plus, Jumat, 2 Oktober 2026. Istana Negara kembali menjadi panggung penting dalam perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Bukan sekadar pelantikan pejabat, momentum Jumat sore itu memperlihatkan hadirnya beragam latar belakang tokoh nasional dalam satu lembaga yang bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden.

Dalam susunan tersebut, Pratikno dipercaya sebagai Ketua, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, sedangkan Muhammad Qodari menjadi Sekretaris merangkap anggota.

Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026), dan disaksikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

Yang menarik, susunan Wantimpres kali ini mempertemukan tokoh dari berbagai latar belakang. Ada tokoh agama, akademisi, pengusaha, politisi, mantan pejabat negara, purnawirawan, ahli hukum, hingga figur yang selama ini dikenal aktif menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. 

Di dalamnya terdapat nama M. Quraish Shihab, Sinta Nuriyah Wahid, Yahya Cholil Staquf, Said Aqil Siradj, Anwar Iskandar, Agum Gumelar, Budi Gunawan, Chairul Tanjung, Dato’ Sri Tahir, Margarito Kamis, Anwar Usman hingga Rocky Gerung.

Komposisi tersebut membuat Wantimpres tidak hanya menjadi ruang konsultasi politik, tetapi juga menarik perhatian publik karena membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda ke dalam satu forum pertimbangan Presiden.

Rocky Gerung: bukan kritik, tetapi kritis terhadap kebijakan
Salah satu nama yang paling mendapat sorotan adalah Rocky Gerung.

Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal publik sebagai akademisi dan pengamat yang kerap menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Kini, ia justru berada di dalam struktur resmi yang memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Namun Rocky menegaskan bahwa masuknya dirinya ke Wantimpres tidak berarti meninggalkan sikap kritis.

Usai pelantikan, Rocky mengatakan bahwa fungsi Wantimpres adalah bersikap kritis terhadap kebijakan, bukan sekadar melakukan kritik.

“Kalau mengkritik, dewan ini justru fungsinya kritis, bukan kritik ya, beda tuh. Kritis terhadap kebijakan,”

Menurut Rocky, setiap kebijakan pemerintah berpotensi melahirkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

Karena itu, anggota Wantimpres perlu melihat persoalan secara lebih mendalam, menggunakan kepekaan etis serta kemampuan membaca detail persoalan sebelum memberikan pertimbangan kepada Presiden. 

Rocky juga menjelaskan bahwa pertimbangan Wantimpres nantinya menjadi salah satu bahan bagi Presiden dalam mengambil keputusan. Ia menggambarkan mekanisme tersebut melalui tahapan dalam sebuah keputusan: mengingat, menimbang, memutuskan dan menetapkan.

Menurut dia, Wantimpres berada pada wilayah mengingat dan menimbang, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden. 

Ketika ditanya mengenai alasannya menerima tawaran tersebut, Rocky memberikan jawaban singkat:
“Alasan gue menolak apa?”
Pernyataan itu menjadi salah satu perhatian publik setelah pelantikannya.

Dari pesantren, ekonomi hingga hukum
Keberagaman Wantimpres juga terlihat dari latar belakang para anggotanya.

Ada perspektif keagamaan dan kebangsaan yang dibawa tokoh seperti Quraish Shihab, Sinta Nuriyah Wahid, Yahya Cholil Staquf, Said Aqil Siradj dan Anwar Iskandar.

Dari dunia ekonomi dan usaha terdapat nama Chairul Tanjung, Dato’ Sri Tahir serta sejumlah tokoh lainnya.

Sementara pengalaman pemerintahan, keamanan dan politik diwakili antara lain oleh Agum Gumelar, Budi Gunawan, Bambang Soesatyo dan Soekarwo.

Di bidang hukum tata negara, terdapat Margarito Kamis dan Anwar Usman. Sedangkan Rocky Gerung membawa latar belakang akademik serta pengalaman panjang dalam perdebatan publik mengenai kebijakan dan politik.

Dengan komposisi tersebut, Wantimpres kini memiliki ruang yang mempertemukan pengalaman, keahlian dan sudut pandang yang berbeda.

Ketua Wantimpres Pratikno sendiri menyampaikan bahwa para anggota baru berasal dari berbagai bidang, agama dan profesi serta memiliki pengalaman dalam pengabdian kepada bangsa. 

Kini publik menunggu bagaimana meja Wantimpres bekerja
Pelantikan tersebut pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi Wantimpres.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana seluruh pengalaman dan perspektif tersebut diterjemahkan menjadi pertimbangan yang benar-benar berguna bagi Presiden.

Wantimpres memiliki posisi strategis sebagai ruang pemberian pertimbangan kepada Kepala Negara.

Karena itu, kualitas lembaga tersebut akan sangat ditentukan oleh kemampuan para anggotanya dalam membaca persoalan secara objektif, mendengar berbagai kepentingan dan menyampaikan pertimbangan secara jernih.
Publik tentu berharap perbedaan latar belakang tidak berhenti sebagai daftar nama.

Justru perbedaan itulah yang diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk menguji sebuah gagasan sebelum menjadi kebijakan.

Meja Wantimpres idealnya menjadi tempat berbagai perspektif bertemu: pengalaman pemerintahan, pertimbangan ekonomi, suara masyarakat, wawasan keagamaan, perspektif hukum, hingga pandangan kritis dari kalangan akademisi.

Di sinilah kehadiran Rocky Gerung menjadi menarik untuk diamati. Bukan semata karena kontroversi namanya, tetapi karena ia sendiri menegaskan bahwa fungsi Wantimpres membutuhkan sikap kritis terhadap kebijakan.

Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan Presiden. Namun sebelum keputusan itu diambil, publik menunggu apakah ruang pertimbangan tersebut mampu menghadirkan masukan yang tajam, objektif dan bertanggung jawab.

Sebab, sebuah kebijakan publik tidak hanya membutuhkan keberanian untuk memutuskan, tetapi juga keberanian untuk mengingat, menimbang dan menguji kembali gagasan sebelum keputusan ditetapkan.

Pelantikan 2 Oktober 2026 pun membuka babak baru bagi Wantimpres.

Kini, publik menunggu bagaimana “meja” yang mempertemukan 26 tokoh dari berbagai latar belakang itu bekerja untuk kepentingan bangsa dan masyarakat.

Semoga amanah dan istiqomah dalam menjaga kepercayaan negara.


(Dok. KN+ / Jakfar-Junaidi)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *