
DI TENGAH TERIK MINA, JUTAAN LANGKAH MENUJU AMPUNAN TERUS BERGERAK!” — Jamaah Haji Lanjutkan Lempar Jumrah di 12 Dzulhijjah dengan Penuh Haru dan Pengorbanan
Kabar Negeri Plus | Mina — Suasana Mina pada 12 Dzulhijjah kembali dipenuhi lautan manusia berpakaian ihram putih yang bergerak perlahan menuju Jamarat.
Di bawah terik matahari yang menyengat dan kepadatan jutaan jamaah dari berbagai negara, rangkaian ibadah haji terus berlangsung dengan penuh kekhusyukan, kesabaran, dan pengorbanan.
Sejak pagi hari, para jamaah mulai meninggalkan tenda-tenda Mina untuk melaksanakan lontar jumrah tiga titik, yakni Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Ritual ini menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan sekaligus bentuk ketaatan total kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.
Meski fisik mulai kelelahan setelah menjalani puncak haji di Arafah dan mabit di Muzdalifah, semangat para tamu Allah tak surut sedikit pun.
Kalimat takbir, tahmid, dan talbiyah terus menggema di sepanjang jalan menuju lokasi jumrah. Banyak jamaah terlihat menahan haru, menangis, dan berdoa panjang usai melontarkan batu kerikil yang telah mereka kumpulkan sejak malam sebelumnya.
Petugas haji dari berbagai negara tampak bersiaga penuh untuk memastikan keamanan dan kelancaran arus jamaah. Layanan kesehatan, distribusi air minum, hingga pengaturan jalur keberangkatan terus diperkuat mengingat suhu di Mina yang cukup ekstrem dan kepadatan yang terus meningkat pada hari tasyrik kedua tersebut.
Bagi sebagian jamaah, 12 Dzulhijjah menjadi momentum paling emosional karena menandai semakin dekatnya akhir perjalanan spiritual mereka di Tanah Suci.
Tak sedikit jamaah yang memanfaatkan waktu di Mina untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta memanjatkan doa bagi keluarga dan negeri asal mereka.
Sebagian jamaah memilih melakukan nafar awal dengan meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam pada 12 Dzulhijjah setelah menyelesaikan lontar jumrah.
Namun banyak pula yang memutuskan tetap bermalam untuk melanjutkan ibadah pada 13 Dzulhijjah demi menyempurnakan rangkaian hari tasyrik.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah, semangat persaudaraan umat Islam dunia tampak begitu nyata.
Jamaah saling membantu, berbagi air minum, memberi jalan kepada lansia, hingga menolong mereka yang kelelahan di perjalanan.
Pemandangan itu menjadi bukti bahwa ibadah haji bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kemanusiaan, kesabaran, dan persatuan umat.
12 Dzulhijjah bukan sekadar hari dalam kalender hijriah. Di Mina, hari itu menjadi saksi jutaan manusia yang datang membawa dosa dan pulang dengan harapan ampunan dari Allah SWT.
(Dok.KN +/Admin)

