“Bukan yang Kaya Dipanggil, Tapi yang Dipanggil Akan Dicukupkan!” — Tausiah Haji di Lampung Guncang Ribuan Jemaah, Tangis Pecah di Asrama Haji.

BANDAR LAMPUNG | Kabar Negeri Plus —
“Pulang haji kok masih galak? Berarti ada yang belum selesai dengan hajinya.”

Kalimat tajam itu langsung menghantam batin ribuan calon jemaah haji Lampung yang memadati Aula Asrama Haji Rajabasa, Rabu malam, 6 Mei 2026.

Suasana yang awalnya khidmat berubah haru. Tangis pecah. Sebagian jemaah tertunduk, sebagian lainnya mengusap air mata.

Bukan karena takut menghadapi panasnya Tanah Suci. Tapi karena tausiah yang disampaikan malam itu terasa seperti tamparan spiritual bagi banyak orang.

Dalam pembekalan Kloter Terakhir Embarkasi Lampung tersebut, Ustadz Muhammad Hafiz menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Mekkah, melainkan panggilan langit yang tidak bisa diukur dengan kekayaan materi.

“Allah tidak memanggil orang kaya ke Tanah Suci. Tapi Allah mengayakan orang yang Dia panggil,” tegasnya
disambut gemuruh takbir para jemaah.

Pernyataan itu sontak mengguncang aula. Banyak calon jemaah mengaku selama ini berpikir haji hanya bisa diraih oleh mereka yang berkecukupan secara finansial.

Padahal, menurut Ustadz Hafiz, inti dari ibadah haji justru terletak pada keikhlasan dan kesiapan hati.

“Ka’bah tidak pernah bertanya berapa isi rekening kita. Yang ditanya adalah seberapa tulus kita memenuhi panggilan Allah,” lanjutnya.

Haji Bukan Wisata Religi
Dalam tausiahnya, Ustadz Hafiz mengingatkan bahwa haji bukan perjalanan prestise, bukan pula ajang pamer gelar “H” dan “Hj”.

Ia menyoroti fenomena sebagian orang yang pulang dari Tanah Suci tetapi tidak mengalami perubahan sikap maupun akhlak.

“Jangan bangga pulang membawa gelar haji kalau lisan masih menyakiti tetangga, masih mudah marah, masih gemar merendahkan orang lain. Haji mabrur itu terlihat dari akhlaknya,” ujarnya.

Menurutnya, ukuran kemabruran bukan pada pakaian putih, oleh-oleh, atau foto di depan Ka’bah, melainkan perubahan perilaku setelah kembali ke tanah air.

Ia bahkan menyebut, ibadah haji sejatinya adalah ujian besar terhadap ego manusia.

“Sabar Tidak Diuji di Rumah Ber-AC”
Suasana kembali hening ketika Ustadz Hafiz menjelaskan kerasnya ujian kesabaran selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

“Sabar itu tidak diuji saat kita nyaman di rumah ber-AC. Sabar diuji saat suhu 45 derajat di Arafah, saat berdesakan di Mina, saat koper hilang, saat tenaga habis, tapi kita tetap menjaga lisan dan emosi,” katanya.

Ia lalu mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197 tentang larangan berkata kasar dan berbuat fasik selama menjalankan ibadah haji.

Menurutnya, banyak orang mampu berangkat ke Tanah Suci, tetapi tidak semua mampu menjaga hati selama menjalani proses spiritual tersebut.

Jangan Habiskan Wukuf untuk Selfie
Dalam sesi yang paling menyentuh, Ustadz Hafiz juga mengingatkan para jemaah agar tidak menyia-nyiakan momentum wukuf di Arafah.

Ia menyebut hari Arafah sebagai salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa.

“Perbanyak doa dan dzikir. Jangan sibuk selfie atau membuat konten. Ada momen yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup,” pesannya.

Ia mengajak jemaah memperbanyak bacaan:
Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah…
yang disebut sebagai doa terbaik sepanjang sejarah manusia.

7.234 Jemaah Lampung Siap Berangkat.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Drs. H. Juanda Naim, M.H.I., menyampaikan bahwa sebanyak 7.234 jemaah haji asal Lampung akan diberangkatkan pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Kloter pertama dijadwalkan terbang pada 12 Mei 2026.

Menurut Juanda, pembekalan spiritual menjadi bagian penting sebelum keberangkatan jemaah ke Tanah Suci.

“Haji itu bukan hanya soal manasik. Ini perjalanan mental dan spiritual. Bahkan bisa dikatakan 90 persen adalah kesabaran,” ujarnya.

Ia berharap seluruh jemaah menjaga kesehatan, kekompakan, serta niat ibadah selama berada di Arab Saudi.

Haji Sejati Dimulai Saat Pulang
Tausiah malam itu ditutup dengan pesan yang kembali membuat suasana aula larut dalam haru.

Ustadz Hafiz menegaskan bahwa haji bukan akhir perjalanan hidup, melainkan awal perubahan diri.

“Kalau pulang dari Mekkah tapi masih korupsi, masih kasar kepada keluarga, masih suka menyebar fitnah, berarti yang sampai ke Tanah Suci hanya tubuhnya. Hatinya belum ikut berhaji,” tegasnya.

Ia lalu menutup tausiah dengan kalimat yang disambut tawa sekaligus isak para jemaah.

“Pulang haji itu harusnya seperti bayi baru lahir. Kalau masih suka gosip, berarti belum lahir-lahir.”

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *