Dunia Hanya Singgah: Mengapa Kita Terlalu Sibuk Mengejarnya?

 

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 23 Mei 2026)

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kenyataan yang sering diketahui, tetapi jarang benar-benar disadari: dunia ini hanya sementara, namun manusia sering hidup seolah akan tinggal selamanya di dalamnya.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Dalil

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 185)

Inti Pesan

Banyak manusia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk dunia.

Mengejar uang.
Mengejar jabatan.
Mengejar pengakuan.
Mengejar kenyamanan yang seolah tidak pernah cukup.

Sampai akhirnya hati terlalu sibuk dengan dunia,
dan perlahan melupakan akhirat.

Padahal semua yang ada di dunia ini pasti akan ditinggalkan.

Harta tidak ikut masuk ke liang kubur.
Jabatan tidak mampu menunda kematian.
Dan pujian manusia tidak akan menyelamatkan kita di hadapan Allah.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalām pernah diberikan kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang luar biasa. Namun semua itu tidak membuat beliau sombong dan terlena. Karena beliau tahu: dunia hanyalah titipan, bukan tujuan akhir kehidupan.

Dari situlah kita belajar: memiliki dunia bukan masalah. Yang berbahaya adalah ketika dunia mulai memiliki hati kita.

Hari ini banyak manusia rela mengorbankan waktu ibadah demi pekerjaan, kehilangan keluarga demi ambisi, bahkan kehilangan ketenangan demi mengejar standar hidup yang terus meningkat. Semakin dikejar, semakin terasa kurang.

Karena dunia memang tidak akan pernah benar-benar memuaskan hati manusia.

Kunci: dunia boleh ada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati.

Sebab banyak manusia terlihat kaya secara materi, tetapi miskin ketenangan. Dan sering kali, semakin jauh seseorang mengejar dunia tanpa arah akhirat, semakin kosong hidup yang ia rasakan.

Baca Juga:

Rezeki Sudah Diatur: Mengapa Kita Masih Terlalu Cemas?

 

Aksi Hari Ini

Belajar kembali menempatkan dunia pada tempatnya:

  • Bekerjalah, tetapi jangan sampai melupakan Allah
    Rezeki penting, tetapi iman jauh lebih penting.
  • Kurangi hidup hanya demi penilaian manusia
    Tidak semua yang terlihat mewah benar-benar membawa bahagia.
  • Sisihkan waktu untuk akhirat di tengah kesibukan dunia
    Jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk urusan sementara.
  • Belajar cukup dan bersyukur
    Karena hati yang terus merasa kurang tidak akan pernah tenang.
  • Tanyakan pada diri sendiri:
    Jika hari ini semua dunia hilang, apakah hati kita masih dekat dengan Allah?

Kadang manusia terlalu sibuk membangun kehidupan di dunia, sampai lupa bahwa dunia sendiri hanyalah tempat singgah yang sangat sementara. Dan yang paling menyedihkan bukan ketika kehilangan dunia, tetapi ketika hati kehilangan arah menuju akhirat.

Penutup

Dunia ini hanya persinggahan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menghias tempat singgah, tetapi lupa mempersiapkan tempat pulang.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *