TIGA MAKHLUK KECIL DALAM AL-QUR’AN MENGGUGAT MANUSIA MODERN: Saat Semut Mengajarkan Persatuan, Laba-Laba Menelanjangi Kesombongan, dan Lebah Menjadi Simbol Peradaban.

KABAR NEGERI PLUS | LAMPUNG — Di tengah gegap gempita penyambutan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, ketika jutaan umat Muslim mengumandangkan doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik, ada sebuah pertanyaan besar yang patut direnungkan bersama:

-Mengapa manusia yang dikaruniai akal, ilmu pengetahuan, teknologi canggih, dan kekuasaan justru sering terjerumus dalam keserakahan, perpecahan, dan kehampaan hidup?

-Mengapa semakin tinggi gedung yang dibangun, semakin rendah kepedulian sosial yang dirasakan?

-Mengapa semakin maju teknologi komunikasi, semakin banyak manusia yang merasa kesepian?

-Mengapa semakin mudah memperoleh informasi, semakin sulit menemukan kebijaksanaan?

Jawaban atas kegelisahan zaman ini sesungguhnya telah Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an sejak lebih dari 14 abad lalu melalui tiga makhluk kecil yang sering dianggap remeh oleh manusia: semut, laba-laba, dan lebah.

Ketiga makhluk tersebut bahkan diabadikan menjadi nama surah dalam Al-Qur’an, yakni Surah An-Naml (Semut), Surah Al-Ankabut (Laba-Laba), dan Surah An-Nahl (Lebah).

Ini bukan sekadar kisah tentang binatang. Ini adalah pelajaran peradaban, petunjuk moral, dan cermin bagi perilaku manusia sepanjang zaman.

SEMUT: KETIKA MAKHLUK KECIL MENGAJARKAN ARTI KEPEDULIAN DAN PERSATUAN.

Dalam Surah An-Naml, Allah mengisahkan bagaimana seekor semut memperingatkan koloninya agar segera masuk ke sarang demi menghindari pasukan Nabi Sulaiman AS.

“Wahai para semut, masuklah ke sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 18)

Ayat ini tampak sederhana, namun menyimpan pelajaran luar biasa.
Seekor semut tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ia memikirkan keselamatan seluruh komunitasnya.
Di sinilah letak keagungan akhlak semut.

Semut mengajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun oleh individu-individu yang hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan oleh kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian.

Ironisnya, nilai luhur ini justru mulai memudar di tengah kehidupan modern.

Media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi sering berubah menjadi arena pertengkaran.
Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan.

Kritik berubah menjadi hujatan.
Nasihat berubah menjadi ejekan.
Bahkan sesama saudara, tetangga, hingga sesama umat Islam dapat terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik, kelompok, atau kepentingan duniawi.

Padahal semut yang tidak memiliki gelar, jabatan, ataupun kekuasaan mampu menunjukkan solidaritas yang jauh lebih tinggi daripada sebagian manusia yang mengaku beradab.

Semut seolah bertanya kepada manusia:

“Jika kami yang kecil mampu hidup saling menjaga, mengapa kalian yang memiliki akal justru gemar saling menjatuhkan?”

LABA-LABA: SIMBOL RAPUHNYA KEHIDUPAN YANG HANYA BERGANTUNG PADA DUNIA

Jika semut mengajarkan persatuan, maka laba-laba mengajarkan tentang bahaya ketergantungan kepada selain Allah.

Dalam Surah Al-Ankabut ayat 41, Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.”
Jaring laba-laba terlihat indah.
Terlihat rumit.
Terlihat kuat.

Namun kenyataannya sangat rapuh.
Hanya dengan sentuhan kecil, ia dapat hancur.

Begitulah gambaran kehidupan manusia modern saat ini.
Banyak orang membangun “rumah kehidupan” di atas fondasi yang rapuh.
Ada yang menggantungkan harga dirinya pada jabatan.

Ada yang menggantungkan kebahagiaannya pada kekayaan.
Ada yang menggantungkan ketenangannya pada popularitas.
Ada pula yang menggantungkan keberadaannya pada jumlah pengikut dan tanda suka di media sosial.
Ketika semua itu ada, mereka merasa kuat.

Namun ketika jabatan hilang, bisnis bangkrut, kesehatan menurun, atau popularitas meredup, kehidupan mereka runtuh seperti jaring laba-laba yang diterpa angin.

Fenomena meningkatnya gangguan kecemasan, stres, depresi, hingga krisis identitas di berbagai belahan dunia menjadi bukti bahwa kemajuan material tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan jiwa.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa tidak ada tempat bergantung yang benar-benar kokoh selain Allah SWT.
Karena kekayaan bisa hilang.
Jabatan bisa dicabut.
Popularitas bisa lenyap.

Tetapi keimanan yang tertanam dalam hati akan tetap menjadi sandaran yang tidak pernah runtuh.

LEBAH: TELADAN PRODUKTIVITAS, DISIPLIN, DAN KEBERMANFAATAN

Di antara ketiga makhluk tersebut, lebah menjadi simbol paling sempurna tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.

Dalam Surah An-Nahl, Allah memuliakan lebah dan menjelaskan bagaimana makhluk kecil ini menghasilkan madu yang menjadi obat bagi manusia.

Lebah bekerja tanpa mengenal lelah.
Tidak merusak lingkungan.
Tidak mencuri milik makhluk lain.
Tidak membuat kerusakan.

Namun hasil kerjanya menjadi manfaat bagi banyak orang.
Inilah karakter yang semakin langka di era modern.

Hari ini banyak orang ingin sukses tanpa proses.
Ingin terkenal tanpa karya.
Ingin dihormati tanpa memberi manfaat.
Ruang digital dipenuhi konten yang mengejar sensasi sesaat.
Informasi bertebaran, tetapi hikmah semakin sulit ditemukan.

Lebah mengajarkan bahwa kemuliaan lahir dari manfaat.
Bukan dari pencitraan.
Bukan dari kemewahan.
Bukan dari banyaknya pengikut.

Rasulullah SAW bahkan menegaskan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Lebah tidak sibuk mencari pengakuan.
Ia sibuk menghasilkan manfaat.
Dan justru karena manfaat itulah ia dihormati.

MUHARRAM DAN KRISIS MORAL ZAMAN MODERN

Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, dunia menghadapi berbagai krisis yang tidak hanya bersifat ekonomi dan politik, tetapi juga krisis moral dan spiritual.

Korupsi masih terjadi.
Ketimpangan sosial semakin melebar.
Pejabat yang seharusnya melayani rakyat justru ada yang sibuk memperkaya diri.
Kekayaan alam dikuasai segelintir kelompok.

Sementara sebagian masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Di sisi lain, generasi muda menghadapi tantangan baru berupa kecanduan media sosial, degradasi moral, banjir informasi, serta hilangnya figur keteladanan.

Dalam kondisi seperti inilah pesan semut, laba-laba, dan lebah menjadi sangat relevan.

Allah seakan sedang mengingatkan manusia:

-Jika ingin kuat, belajarlah kepada semut tentang persatuan.
-Jika ingin selamat, jangan membangun kehidupan di atas jaring laba-laba kesombongan dunia.
-Jika ingin mulia, jadilah seperti lebah yang hadir membawa manfaat.

SAATNYA BERHIJRAH MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BERNILAI

Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender.
Muharram adalah momentum hijrah.
Hijrah dari kebencian menuju persaudaraan.

-Hijrah dari keserakahan menuju keberkahan.
-Hijrah dari kemalasan menuju produktivitas.
-Hijrah dari ketergantungan kepada dunia menuju ketergantungan kepada Allah SWT.

Karena sesungguhnya ukuran kemuliaan manusia bukanlah seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa dekat dirinya kepada Allah dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama.

Semut telah memberi contoh.
Laba-laba telah memberi peringatan.
Lebah telah menunjukkan jalan.

Kini pilihan ada pada manusia.
Apakah akan tetap dikuasai oleh hawa nafsu dan keserakahan, atau mengambil hikmah dari makhluk-makhluk kecil yang telah Allah jadikan pelajaran bagi seluruh alam?

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Saatnya berhijrah, bukan hanya berpindah waktu, tetapi berpindah menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli, dan lebih bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

(Opini Keislaman dan Refleksi Muharram | Kabar Negeri Plus)

(Dok.KN +/Jakfar sidiq)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *