Ibadah Itu Ringan: Tapi Mengapa Kita Terasa Berat Melakukannya?

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 6 Mei 2026)                                      

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kejujuran yang sering kita rasakan: bukan ibadahnya yang berat, tetapi hati kita yang belum sepenuhnya dekat.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Dalil

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
(QS Al-Baqarah [2]: 45)

Inti Pesan

Sering kita merasa berat untuk beribadah.

Salat terasa lambat.
Tilawah terasa malas.
Dzikir terasa ringan untuk ditinggalkan.

Padahal jika dilihat, ibadah tidaklah berat.

Hanya beberapa menit dalam sehari.
Tidak membutuhkan tenaga besar.
Tidak membutuhkan biaya.

Namun tetap terasa berat.

Di sinilah masalahnya.

Bukan pada ibadahnya, tetapi pada hati yang mulai jauh.

Semakin jauh hati dari Allah, semakin berat untuk mendekat.
Semakin dekat hati, semakin ringan ibadah dijalankan.

Baca Juga:

Lelah Bekerja, Tapi Lupa Beribadah: Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?

 

Aksi Hari Ini

Mulai mendekat secara bertahap dan konsisten:

  • Mulai dari yang kecil, tapi pasti
    Contoh: jangan langsung menargetkan banyak. Mulai dari salat tepat waktu, tambah tilawah 1 halaman, atau dzikir pagi-sore secara sederhana.
  • Bangun kebiasaan, bukan semangat sesaat
    Lebih baik sedikit tapi rutin, daripada banyak tapi hanya sekali lalu berhenti.
  • Perbaiki niat sebelum ibadah
    Hadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
  • Hindari penundaan ibadah
    Contoh: ketika masuk waktu salat, segera lakukan. Menunda hanya akan membuatnya terasa lebih berat.
  • Kurangi hal yang mengeraskan hati
    Terlalu banyak distraksi, hiburan berlebihan, atau kebiasaan lalai akan membuat hati semakin sulit menerima ibadah.

Banyak orang menunggu “mood” untuk beribadah. Padahal ibadah tidak bergantung pada perasaan, tetapi pada komitmen. Justru dengan memaksakan diri di awal, hati perlahan akan mengikuti. Dari kebiasaan kecil itulah kedekatan dibangun.

Kunci: beratnya ibadah adalah tanda hati perlu diperbaiki, bukan alasan untuk meninggalkannya.

Ketika kita tetap beribadah meski terasa berat, di situlah proses perubahan terjadi. Karena hati tidak akan berubah dengan menunggu, tetapi dengan dilatih. Dan setiap langkah kecil yang dipaksakan hari ini, akan terasa ringan di kemudian hari.

Penutup

Jangan tunggu ibadah terasa ringan untuk memulai.
Mulai saja, maka hati akan perlahan mengikuti.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *