
Lelah Bekerja, Tapi Lupa Beribadah: Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 3 Mei 2026)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu pertanyaan yang jujur: kita bekerja keras setiap hari, tetapi apakah semua itu benar-benar mendekatkan kita kepada Allah?
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS Al-An‘am [6]: 32)
Inti Pesan
Setiap hari kita bekerja.
Pagi berangkat, sore pulang dengan lelah.
Tenaga terkuras, pikiran penuh.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang sering hilang: ibadah.
Kita punya energi untuk pekerjaan.
Punya waktu untuk urusan dunia.
Tapi ketika sampai pada ibadah, kita merasa lelah.
Inilah yang perlu kita jujuri.
Apakah kita benar-benar tidak mampu, atau sebenarnya kita tidak memprioritaskan?
Karena jika sesuatu dianggap penting, kita akan tetap melakukannya, meski dalam keadaan lelah.
Baca Juga:
Waktu Selalu Ada: Masalahnya Kita yang Tidak Mengaturnya
Aksi Hari Ini
Seimbangkan kerja dan ibadah secara nyata:
- Sisakan energi khusus untuk ibadah
Contoh: setelah pulang kerja, jangan langsung larut dalam kelelahan atau hiburan. Luangkan waktu untuk salat tepat waktu, tilawah meski hanya 1 halaman, atau dzikir ringan sebelum istirahat. - Jangan jadikan lelah sebagai alasan
Lelah itu wajar, tetapi ibadah tidak harus selalu berat. Bahkan salat lima waktu adalah jeda yang justru menguatkan, bukan membebani. - Niatkan pekerjaan sebagai ibadah
Bekerja mencari nafkah adalah bagian dari ibadah jika diniatkan benar. Namun itu tidak menggantikan ibadah wajib yang sudah ditentukan. - Gunakan waktu istirahat dengan bijak
Contoh: daripada menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting, gunakan sebagian untuk mendekat kepada Allah—meski singkat, tapi konsisten.
Banyak orang kuat bekerja berjam-jam, tetapi merasa berat untuk beberapa menit ibadah. Ini bukan soal kemampuan, tetapi arah hati. Ketika hati lebih condong pada dunia, ibadah terasa berat. Namun ketika hati mulai kembali, ibadah justru menjadi sumber kekuatan.
Kunci: lelah itu wajar, tetapi lalai adalah pilihan.
Lelah tidak bisa dihindari, tetapi kelalaian bisa dicegah. Dari sinilah terlihat siapa yang benar-benar menjadikan Allah sebagai tujuan, dan siapa yang hanya menjadikan-Nya sebagai pelengkap. Karena pada akhirnya, bukan seberapa keras kita bekerja yang akan menyelamatkan, tetapi seberapa tulus kita beribadah.
Penutup
Jangan sampai kita kuat untuk dunia, tetapi lemah untuk akhirat.
Seimbangkan hari ini, sebelum semuanya terlambat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

