
Dunia Hanya Sementara: Mengapa Kita Terlalu Mengejarnya?
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan menguatkan iman, karena banyak yang mengejar dunia seolah akan hidup selamanya, padahal waktu kita di dalamnya sangat terbatas.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 185)
Inti Pesan
Kita hidup di dunia, tetapi sering kali menjadikannya tujuan utama.
Kita kejar harta, jabatan, pengakuan—seolah semua itu adalah segalanya. Kita habiskan waktu, tenaga, bahkan prinsip, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang pada akhirnya akan kita tinggalkan.
Ironisnya, kita tahu dunia ini sementara, tetapi tetap memperlakukannya seolah abadi.
Inilah yang membuat banyak orang lelah.
Karena mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa memuaskan.
Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi juga bukan untuk dijadikan tujuan akhir. Ia hanya tempat singgah—bukan tempat menetap.
Baca Juga:
Allah Tidak Pernah Meninggalkan: Kuatlah, Ini Semua Akan Berlalu
Aksi Hari Ini
Seimbangkan hidup dunia dan akhirat:
- Jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama
Gunakan dunia sebagai jalan menuju akhirat. - Batasi ambisi yang berlebihan
Tidak semua harus dimiliki. - Perbanyak amal yang bernilai akhirat
Karena itu yang akan kita bawa.
Banyak orang sibuk mengumpulkan dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal akhirat. Padahal yang kita kumpulkan hari ini tidak semuanya akan kita bawa. Ketika hidup hanya berputar pada dunia, hati akan mudah gelisah—karena dunia tidak pernah cukup. Namun ketika akhirat menjadi tujuan, dunia akan terasa lebih ringan, karena kita tahu apa yang benar-benar penting dan apa yang harus dilepaskan.
Kunci: dunia di tangan, bukan di hati.
Dunia bukan masalah selama ia tidak menguasai hati. Ketika dunia hanya di tangan, kita bisa menggunakannya dengan bijak. Tetapi ketika masuk ke hati, ia mengendalikan arah hidup kita. Dari sinilah banyak kegelisahan lahir. Karena itu, bukan soal memiliki atau tidak, tetapi apakah kita masih mengendalikan dunia, atau justru dikendalikan olehnya.
Penutup
Dunia tidak salah untuk dikejar, tetapi salah jika dijadikan segalanya.
Gunakan dunia secukupnya, dan siapkan diri untuk yang abadi.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

