“Data ‘Hidup-Mati’ Meledak, Penyakit Baru Mengintai!” — BPJS Lampung dan Jamkeswatch ‘Duduk Satu Meja’, Alarm Sistem Jaminan Kesehatan Berbunyi Keras

Bandar Lampung | Kabar Negeri Plus — Sistem jaminan kesehatan di Lampung kembali diguncang.

Persoalan klasik yang tak kunjung tuntas—mulai dari data peserta “hidup tapi tercatat mati” hingga “sudah meninggal namun masih aktif”—kini meledak ke permukaan. Di saat bersamaan, ancaman penyakit baru ikut membayangi.

Situasi ini memaksa BPJS Kesehatan Cabang Lampung dan Jamkeswatch turun tangan serius dalam satu forum koordinasi penting, Selasa (5/5/2026).

Pertemuan strategis yang digelar pukul 11.00 WIB itu bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah “ruang darurat” bagi dua pihak yang selama ini berada di garis depan pengawasan dan pelayanan jaminan kesehatan masyarakat.

Hadir dalam forum tersebut Sekretaris Jamkeswatch Provinsi Lampung, Ibnu Hafis, bersama Ketua Jamkeswatch Kota Bandar Lampung, Ahmad Syalahudin, yang membawa sederet temuan lapangan.

Mereka disambut langsung oleh Kepala Cabang BPJS Kesehatan Lampung, Herman Indratmo, didampingi jajaran kunci: Kepala Bagian Pelayanan Fasilitas Kesehatan, Sri Wahyuni, serta Kepala Bagian Kepesertaan, Ratu Syarifah.

Komposisi pejabat yang hadir menunjukkan bahwa persoalan yang dibahas bukan isu ringan—melainkan persoalan sistemik yang menyentuh hulu hingga hilir layanan.

Dalam pertemuan itu, Herman Indratmo secara terbuka mengakui bahwa tantangan di lapangan semakin kompleks. Ia menyoroti ketidaksinkronan data kepesertaan yang berdampak langsung pada akses layanan masyarakat.

“Kasus data peserta yang tidak valid masih terjadi. Ini bukan hanya soal administrasi, tapi menyangkut hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama. BPJS Kesehatan, kata dia, tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan pengawasan dan pelaporan dari Jamkeswatch yang selama ini bersentuhan langsung dengan masyarakat akar rumput.

Namun yang membuat pertemuan ini semakin “panas” adalah munculnya kekhawatiran terhadap penyakit baru yang mulai terdeteksi, yakni Penyakit Kawasaki.

Penyakit yang menyerang anak-anak ini dinilai berpotensi menjadi beban baru dalam sistem jaminan kesehatan jika tidak diantisipasi sejak dini.

Jamkeswatch dalam forum tersebut juga mengirim sinyal keras: pembenahan sistem tidak boleh lagi setengah hati.

Mereka menuntut transparansi data, percepatan validasi kepesertaan, hingga respons cepat terhadap kasus-kasus darurat di lapangan.

Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar koordinasi—ia berubah menjadi titik tekan bagi masa depan sistem Jaminan Kesehatan Nasional di Lampung.

Di tengah tumpukan persoalan yang tak kunjung reda, satu hal menjadi jelas: jika tidak ada langkah konkret dan terukur, krisis kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

(Dok.KN +/A.syahlahudin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *