
Jabatan Bukan untuk Sembarang Orang, Salah Menempatkan Amanah Bisa Berujung Kehancuran
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِأَدَاءِ الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sunyi maupun ramai, baik dalam urusan pribadi maupun urusan publik.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah di atas jalan perjuangan beliau hingga hari kiamat.
Hadirin Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah,
Pada hari yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah prinsip fundamental dalam Islam mengenai kepemimpinan, profesionalisme, dan amanah.
Prinsip ini adalah tolok ukur maju atau mundurnya sebuah umat, bangsa, maupun organisasi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
”Apabila suatu urusan (kepemimpinan/amanah) diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (kiamat).” (HR. Bukhari)
Hadis ini diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seorang sahabat bertanya tentang kapan terjadinya hari kiamat. Namun, alih-alih menyebutkan tanda-tanda alam seperti matahari terbit dari barat atau turunnya Dajjal, Rasulullah memberikan jawaban yang sangat mengejutkan:
Kiamat (kehancuran) akan terjadi jika amanah diberikan kepada yang bukan ahlinya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Apa makna “menyerahkan perkara kepada bukan ahlinya”?
Dalam bahasa Arab, kata Al-Amr (urusan/perkara) mencakup segala bentuk tanggung jawab. Mulai dari urusan negara, jabatan publik, manajemen perusahaan, hingga urusan terkecil di dalam keluarga.
Sedangkan “Ahli” berarti orang yang memiliki dua syarat utama:
- Kafa’ah (Kompetensi/Keahlian): Memiliki ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
- Amanah (Integritas/Akhlak): Memiliki ketakwaan, kejujuran, dan tidak akan mengkhianati tanggung jawab yang diembannya.
Jika kedua syarat ini diabaikan, maka kehancuranlah yang akan datang.
Hadirin yang Berbahagia,
Lihatlah realitas di sekeliling kita saat ini. Betapa banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi ini akibat prinsip ini dilanggar.· Ketika seorang dokter yang tidak kompeten ditunjuk untuk menangani pasien, maka nyawa yang menjadi taruhannya.
· Ketika seorang insinyur yang tidak ahli ditunjuk untuk membangun bendungan, maka banjir dan longsor yang akan menelan korban.
· Ketika jabatan publik, posisi strategis di pemerintahan, atau kepemimpinan perusahaan diberikan bukan karena kapasitas ilmunya, melainkan karena faktor nepotisme (kedekatan keluarga), suap, atau kepentingan golongan, maka rakyat dan masyarakatlah yang akan menanggung penderitaannya.
Korupsi merajalela, keadilan hilang, ekonomi hancur, dan kepercayaan masyarakat runtuh. Itulah “kehancuran” yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam sangat keras melarang praktik nepotisme dan favoritisme. Menyerahkan amanah kepada orang yang tidak berhak adalah bentuk pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslimin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (janganlah) kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita memiliki dua tanggung jawab besar terkait hadis ini:
Pertama, bagi mereka yang memiliki wewenang untuk memilih dan menunjuk (pemimpin, manajer, kepala keluarga), bertakwalah kepada Allah. Pilihlah orang yang paling cakap dan paling bertakwa untuk mengemban amanah. Jangan jual amanah umat dengan harga yang murah demi kepentingan pribadi atau golongan. Kedua, bagi kita yang diuji dengan jabatan dan tanggung jawab, sadarilah bahwa posisi yang kita pegang bukanlah hadiah atau hak milik, melainkan ujian yang sangat berat. Jika kita merasa tidak mampu atau tidak memiliki keahlian di bidang tersebut, maka tolaklah dengan cara yang baik, sebagaimana Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang meminta agar ia ditempatkan sebagai bendaharawan karena ia mampu menjaganya (Hafizhun ‘Alim).
Hadirin Rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah pertama ini, marilah kita introspeksi diri. Sudahkah kita menjadi “ahli” bagi amanah yang sedang kita pegang? Sudahkah kita mendidik anak-anak kita, memimpin bawahan kita, atau mengelola harta kita sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya?
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita hidayah untuk menunaikan amanah dengan baik, dan menyelamatkan kita dari murka-Nya akibat pengkhianatan terhadap amanah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu.
(Dok. KN+ Jakfar Sidik).

