
Jangan Balas Luka dengan Luka: Teladani Akhlak Rasulullah SAW
Lampung Barat, Kabar Negeri Plus, Jum’at 9 Oktober 2026.
Satu kebohongan dibalas dengan kebohongan yang lebih besar. Satu umpatan dibalas dengan seribu umpatan. Kebencian dibalas dengan dendam yang membara.
Kita pikir itu kemenangan. Padahal, kita baru saja kalah—kalah dari diri sendiri.
Hakikat hidup yang diajarkan Rasulullah SAW justru sebaliknya: Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Tapi kita memegang kendali penuh atas bagaimana kita memperlakukan mereka.
Inilah pelajaran akhlak terbesar dari Baginda Rasulullah SAW.
Ketika Batu-Batu Thaif Tak mampu mengubah beliau.
Bayangkan ini: Rasulullah SAW berdakwah di Kota Thaif. Bukan sambutan hangat yang beliau terima, melainkan lemparan batu dari penduduknya. Batu-batu itu menghujani tubuh beliau hingga berdarah-darah. Terompah kaki beliau dipenuhi darah segar.
Di saat genting itu, Malaikat penjaga gunung datang menawarkan: “Wahai Muhammad, izinkan aku menimpakan dua gunung besar kepada penduduk Thaif yang zalim ini.”
Bayangkan—kesempatan untuk balas dendam ada di depan mata. Kekuatan untuk menghancurkan musuh tersedia. Tapi apa jawaban Rasulullah SAW?
Beliau bersabda: “Aku justru berharap Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhari)
Manusia menyakiti beliau, tapi luka itu tidak mengubah beliau menjadi seorang penyakit. Beliau memutus rantai dendam itu seketika, lalu menggantinya dengan untaian doa kebaikan.
Ketika Kencing di Masjid Tidak Dibalas dengan Pukulan
Ingatlah pula kisah seorang Arab Badui yang masuk ke Masjid Nabawi lalu kencing di salah satu sudut masjid. Para sahabat yang melihat hal itu marah besar dan hendak memukulinya.
Tapi Rasulullah SAW segera mencegah mereka dan bersabda: “Biarkan dia, dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan, bukan untuk memberi kesulitan.” (HR. Bukhari)
Beliau tentu kecewa dengan perbuatan salah tersebut. Tapi beliau tidak membuat orang yang bodoh dan belum tahu itu menjadi terluka dua kali oleh amarah yang meledak-ledak.
Ketika Makkah Ditaklukkan, Tapi Dendam Dibiarkan Mati
Dan lihatlah puncak keluhuran akhlak beliau saat peristiwa Fathu Makkah—Pembebasan Kota Makkah.
Orang-orang Quraisy yang dahulu menyiksa sahabat, mengusir Nabi, dan memerangi beliau, kini tertunduk pasrah menunggu hukuman mati atau perbudakan. Mereka tahu apa yang akan terjadi. Mereka pantas mendapatkannya.
Tapi Rasulullah SAW justru memutus rantai dendam sejarah itu dengan berkata: “Pergilah, kalian semua bebas.”
Inilah Perintah Allah
Inilah yang Allah perintahkan dalam Al-Qur’an:
Idfa’ billati hiya ahsan — Balaslah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. (QS. Fussilat: 34)
Maka, Jangan Pernah Membalas Luka dengan Luka
Ketika seseorang menyakiti kita, jangan biarkan luka itu mengubah kita menjadi orang yang ikut menyakiti.
Ketika kita dikecewakan, jangan membuat orang lain yang tidak bersalah ikut menanggung kekecewaan kita.
Ketika kita marah, jangan biarkan kemarahan membuat kita kehilangan keadilan.
Jangan pernah membalas luka dengan luka.
Karena ketika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, kita bukan sedang menghancurkan musuh—kita sedang menghancurkan diri sendiri.
Gambar yang saya buat menggambarkan tangan yang terluka dan berdarah, namun alih-alih memukul balas, tangan itu justru menerima dan memberikan bunga yang indah.
Cahaya keemasan menembus awan gelap di latar belakang, melambangkan harapan dan kebaikan yang muncul dari tengah penderitaan.
Ini adalah visualisasi sempurna dari pesan “Jangan balas luka dengan luka” — bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan kita untuk menyakiti balik, tetapi pada keberanian kita untuk tetap memilih kebaikan meski telah disakiti.
(Dok. KN+ Jakfar/Junaidi).

