Jadilah Manusia Yang Kehadirannya Membawa Kebaikan

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian Hari 28 | 28 September 2026

Menjadi orang baik dalam Islam

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, kita masih diberi kesempatan untuk membuka mata, menghirup udara pagi, dan melanjutkan perjalanan hidup. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan hanya agar kita menjadi lebih baik untuk diri sendiri, tetapi juga agar kehadiran kita membawa kebaikan bagi orang lain.

Ada orang yang ketika datang membuat suasana menjadi lebih tenang. Ada yang kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai. Sebaliknya, ada pula orang yang mungkin tidak bermaksud buruk, tetapi kehadirannya justru membuat orang lain merasa takut, tertekan, atau terluka.

Islam mengajarkan kita untuk memperhatikan bukan hanya apa yang kita miliki, tetapi juga apa yang kita berikan kepada kehidupan orang lain melalui sikap, perkataan, dan perbuatan kita.

Menjadi Baik Bukan Sekadar Terlihat Baik

Menjadi orang baik dalam Islam bukan berarti harus selalu melakukan sesuatu yang besar.

Kebaikan bisa dimulai dari hal sederhana: membantu seseorang yang kesulitan, mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga ucapan, menghormati tetangga, memudahkan urusan orang lain, atau memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang berada dalam kesulitan.

Allah SWT berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak seharusnya hanya berpusat pada dirinya sendiri. Ada ruang untuk membantu, menguatkan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Kita tidak harus menunggu kaya untuk membantu. Tidak harus menunggu memiliki jabatan untuk berbuat baik. Bahkan terkadang, sesuatu yang menurut kita kecil justru sangat berarti bagi orang lain.

Jangan Sampai Kehadiran Kita Menjadi Beban bagi Orang Lain

Ada hal yang perlu kita renungkan.

Ketika kita berada di tengah keluarga, apakah mereka merasa nyaman?

Ketika kita berbicara dengan teman, apakah mereka merasa dihargai?

Ketika kita bekerja bersama orang lain, apakah kehadiran kita membantu menyelesaikan masalah atau justru menambah masalah?

Ketika seseorang datang kepada kita dalam keadaan sedih, apakah ia mendapatkan ketenangan atau malah mendapatkan penilaian?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini penting untuk muhasabah.

Sebab menjadi orang baik bukan hanya tentang seberapa banyak kebaikan yang kita lakukan ketika dilihat orang lain. Menjadi baik juga berarti berusaha agar keberadaan kita tidak menjadi sumber luka bagi orang lain.

Kebaikan yang Tidak Selalu Terlihat

Ada kebaikan yang tidak masuk kamera.

Tidak ada yang memotret ketika seseorang membantu tetangganya membawa barang. Tidak ada yang mengunggah ketika seorang anak mendengarkan keluhan orang tuanya. Tidak ada yang memberikan penghargaan ketika seorang teman memilih menenangkan suasana daripada memperpanjang pertengkaran.

Namun, Allah mengetahui semuanya.

Karena itu, jangan merasa bahwa kebaikan harus selalu mendapatkan pengakuan manusia.

Bisa jadi satu kalimat yang kita ucapkan dengan lembut menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan.

Bisa jadi bantuan kecil yang kita berikan membuat seseorang mampu melewati hari yang berat.

Bisa jadi kesediaan kita mendengarkan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang yang selama ini merasa sendirian.

Sebuah Kisah Sederhana

Bayangkan seorang pemuda yang setiap hari bekerja di sebuah tempat pelayanan masyarakat.

Ia bukan pimpinan. Ia tidak memiliki jabatan tinggi. Tugasnya pun sederhana.

Namun, setiap kali ada orang yang kebingungan, ia berusaha membantu. Ketika seorang lansia kesulitan memahami prosedur, ia menjelaskan dengan sabar. Ketika seseorang datang dalam keadaan terburu-buru, ia tidak membentak. Ketika ada orang yang melakukan kesalahan, ia memilih menjelaskan daripada mempermalukan.

Tidak semua orang mengingat namanya.

Tetapi banyak orang mengingat bagaimana mereka diperlakukan ketika bertemu dengannya.

Kisah tersebut merupakan ilustrasi, bukan kisah nyata tertentu.

Dari sana kita dapat belajar bahwa pengaruh seseorang tidak selalu diukur dari jabatan atau popularitasnya. Terkadang, ukuran kebaikan seseorang justru terlihat dari bagaimana orang lain merasa setelah berinteraksi dengannya.

Apakah mereka merasa lebih tenang?

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka menjadi lebih kuat?

Atau justru merasa semakin terluka?

Jadilah Orang yang Membawa Kebaikan

Menjadi orang baik tidak berarti kita harus sempurna.

Kita tetap bisa marah. Kita bisa salah. Kita bisa kecewa. Kita bisa memiliki hari yang buruk.

Namun, ketika menyadari kesalahan, kita belajar memperbaikinya.

Ketika menyakiti seseorang, kita belajar meminta maaf.

Ketika diberi kesempatan membantu, kita tidak sengaja menutup mata.

Ketika memiliki kelebihan, kita belajar berbagi.

Dan ketika tidak mampu memberikan sesuatu yang besar, setidaknya kita tidak menambah kesulitan orang lain.

Inilah bagian penting dari perjalanan memperbaiki akhlak.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya dapatkan hari ini?”

Sesekali bertanyalah:

“Kebaikan apa yang sudah saya tinggalkan hari ini?”

Renungan Pagi

Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi kita akan berada di dunia.

Karena itu, selama masih diberi kesempatan, mari berusaha menjadi manusia yang ketika hadir membawa ketenangan, ketika berbicara membawa kebaikan, ketika membantu membawa kemudahan, dan ketika pergi meninggalkan kesan yang baik.

Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik.

Mulailah dari rumah.

Mulailah dari keluarga.

Mulailah dari lingkungan kerja.

Mulailah dari orang yang kita temui hari ini.

Sebab boleh jadi, kebaikan yang kita anggap sederhana justru menjadi salah satu amal yang paling berarti di hadapan Allah.

Baca Juga:

Jaga Lisan, Karena Setiap Perkataan Akan Dipertanggungjawabkan

 

Aksi Hari Ini

Hari ini, pilih satu tindakan sederhana yang membuat hidup orang lain sedikit lebih mudah.

Bisa dengan membantu seseorang, mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, memberikan senyum, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau menahan diri dari perkataan yang dapat menyakiti.

Dan lakukan tanpa menunggu pujian.

Penutup

Semoga Allah SWT menjadikan kita bukan hanya manusia yang ingin menjadi baik, tetapi benar-benar berusaha menghadirkan kebaikan di mana pun berada.

Semoga keluarga merasa aman bersama kita.

Semoga teman merasa nyaman berbicara dengan kita.

Semoga tetangga merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Dan semoga ketika suatu hari kita tidak lagi berada di tengah mereka, masih ada kebaikan yang mereka ingat dari diri kita.

Karena hidup bukan hanya tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi juga tentang kebaikan apa yang kita tinggalkan.

Doa

Allahummahdina li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, laa yashrifu ‘annaa sayyi-ahaa illa anta.

Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada akhlak terbaik kecuali Engkau. Jauhkanlah dari kami akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkannya dari kami kecuali Engkau.

Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang kehadirannya membawa kebaikan, perkataannya menenangkan, perbuatannya bermanfaat, dan kehidupannya menjadi jalan kebaikan bagi sesama.

Ampunilah kesalahan kami, lembutkan hati kami, dan bimbinglah kami untuk terus memperbaiki diri.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *