KESIAPAN MENTAL MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI

KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan keamanan. Atas izin-Nya pula, pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul di rumah Allah untuk menunaikan shalat Jumat.


Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,


Sebagai khatib, pertama-tama saya berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah: marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.


Takwa bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat baik di hadapan manusia. Takwa adalah bagaimana kita tetap taat ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Takwa adalah kekuatan hati untuk tetap memilih yang halal ketika yang haram tampak lebih mudah, tetap berkata benar ketika kebohongan lebih menguntungkan, dan tetap memegang prinsip ketika dunia mengajak kita untuk mengikuti arus.


Jamaah yang dirahmati Allah,


Kita sedang hidup di zaman yang berubah sangat cepat.
Hari ini, dunia berada di dalam genggaman tangan. Hanya dengan sebuah telepon pintar, kita dapat mengetahui peristiwa di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Kita dapat belajar, berdagang, bekerja, berkomunikasi, bahkan berdakwah tanpa dibatasi jarak dan waktu.


Namun, di balik kemudahan itu terdapat sebuah pertanyaan besar:
Apakah kemajuan teknologi membuat iman kita semakin kuat, atau justru membuat hati kita semakin jauh dari Allah?


Inilah salah satu tantangan terbesar globalisasi.
Globalisasi tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang buruk. Ia membawa ilmu pengetahuan, kemajuan ekonomi, teknologi, komunikasi, dan berbagai peluang positif.

Tetapi pada saat yang sama, globalisasi juga menghadirkan arus informasi, gaya hidup, budaya, dan nilai yang tidak semuanya sesuai dengan ajaran Islam.


Karena itu, persoalan utama bukan apakah kita mampu mengikuti perkembangan zaman.


Persoalannya adalah: apakah kita mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan arah?


Jamaah Jumat rahimakumullah,


Di tengah derasnya arus globalisasi, kesiapan mental seorang Muslim setidaknya dibangun melalui beberapa kekuatan.


Pertama, memperkuat aqidah dan pemahaman keislaman.
Dunia digital menawarkan begitu banyak informasi, pendapat, gaya hidup, bahkan klaim tentang kebenaran.


Jika aqidah kita lemah dan pengetahuan agama kita dangkal, kita akan mudah terbawa arus.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menjadi manusia yang hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi.


Al-Qur’an dan Sunnah harus menjadi kompas kehidupan.
Kita boleh mengenal dunia, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri.


Kita boleh mengikuti perkembangan teknologi, tetapi jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi alat justru menjadi tuan yang mengendalikan kehidupan kita.


Kita boleh melihat keberhasilan orang lain, tetapi jangan sampai keberhasilan orang lain membuat kita meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada diri kita sendiri.
Kedua, membangun mental qana’ah dan syukur.


Jamaah yang dimuliakan Allah,


Salah satu jebakan kehidupan modern adalah budaya membandingkan diri.
Media sosial sering membuat kita melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna: rumahnya, pekerjaannya, kendaraannya, perjalanannya, pencapaiannya, bahkan kebahagiaannya.


Padahal yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka.
Akibatnya, seseorang dapat memiliki banyak nikmat tetapi tetap merasa kekurangan.
Di sinilah pentingnya qana’ah dan syukur.


Qana’ah bukan berarti malas berusaha. Qana’ah bukan berarti menolak kemajuan. Qana’ah adalah kemampuan hati untuk menerima dan mensyukuri apa yang Allah berikan, sembari tetap berikhtiar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


Allah SWT berfirman dalam QS At-Talaq ayat 2–3:


وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya:


“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”


Maka jangan ukur harga diri kita berdasarkan jumlah pengikut, jumlah tanda suka, komentar, jabatan, kendaraan, rumah, atau materi.


Nilai manusia di hadapan Allah bukan ditentukan oleh apa yang terlihat di dunia, tetapi oleh iman, ketakwaan, amal, dan akhlaknya.


Ketiga, memperkuat ukhuwah dan membiasakan tabayyun.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,


Ironisnya, zaman digital membuat manusia dapat terhubung dengan ribuan orang, tetapi pada saat yang sama bisa merasa sendirian.


Kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja, tetapi belum tentu mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang-orang terdekat.


Karena itu, masjid, keluarga, majelis ilmu, dan lingkungan yang baik harus menjadi tempat kita mendapatkan kekuatan spiritual dan sosial.
Lebih dari itu, kita harus berhati-hati terhadap informasi.


Hari ini, sebuah berita dapat viral sebelum kebenarannya diperiksa.
Sebuah potongan video dapat memancing kemarahan.


Sebuah unggahan dapat merusak nama baik seseorang.
Sebuah komentar dapat menjadi sumber fitnah.


Maka Islam mengajarkan tabayyun—memeriksa dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.


Jangan biarkan jari kita lebih cepat daripada akal sehat.
Jangan biarkan emosi mengalahkan tabayyun.


Dan jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran fitnah hanya karena ingin menjadi orang pertama yang membagikan sebuah informasi.


Menahan jari dari menyebarkan berita yang belum jelas adalah bagian dari menjaga kehormatan sesama Muslim.


Keempat, menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,


Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia.
Islam justru mengajarkan manusia agar menggunakan dunia dengan benar.
Internet dapat menjadi sarana mencari ilmu.


Teknologi dapat menjadi sarana bekerja.
Media sosial dapat menjadi sarana silaturahmi.
Komunikasi digital dapat menjadi sarana dakwah.


Kemajuan ekonomi dapat menjadi jalan untuk membantu keluarga dan sesama.


Namun semuanya bergantung kepada siapa yang mengendalikan.
Jika iman yang mengendalikan teknologi, teknologi menjadi alat kebaikan.

Tetapi jika hawa nafsu yang mengendalikan teknologi, kemajuan dapat berubah menjadi pintu kelalaian dan kemaksiatan.


Karena itu, jangan jadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Gunakan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.
Gunakan ilmu untuk memberi manfaat.


Gunakan harta untuk berbagi.
Gunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan.
Gunakan jabatan untuk melayani.


Dan gunakan usia yang Allah berikan untuk memperbanyak amal sebelum datang waktu ketika kesempatan itu tidak lagi ada.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,


Globalisasi tidak mungkin kita hentikan.
Teknologi akan terus berkembang.
Informasi akan terus bergerak.
Perubahan zaman akan terus terjadi.


Pertanyaannya bukan apakah kita mampu menghentikan arus zaman.


Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki mental dan iman yang cukup kuat untuk tetap berdiri tegak di tengah arus tersebut.


Jangan menjadi generasi yang gagap teknologi.
Tetapi jangan pula menjadi generasi yang kehilangan akidah karena teknologi.
Jangan menjadi manusia yang takut terhadap perubahan.


Namun jangan pula menerima setiap perubahan tanpa pertimbangan.
Jadilah Muslim yang terbuka terhadap kemajuan, tetapi kokoh dalam prinsip.
Jadikan iman sebagai jangkar, Al-Qur’an sebagai kompas, ilmu sebagai bekal, akhlak sebagai benteng, dan masjid sebagai tempat kembali.


Dengan bekal tersebut, insya Allah kita bukan hanya mampu bertahan menghadapi globalisasi, tetapi mampu menjadikan perubahan zaman sebagai peluang untuk memperbanyak manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Semoga Allah SWT memberikan kepada kita hati yang teguh, pikiran yang jernih, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang saleh, serta kekuatan untuk menghadapi setiap perubahan zaman tanpa kehilangan iman dan jati diri sebagai seorang Muslim.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


(Dok. KN+ Jakfar Sidik.)

 

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *