Pengajian Akbar HUT ke-35 Lampung Barat, Ustaz Das’ad Latif Soroti Gaya Hidup dan Integritas

LAMPUNG BARAT — Kabar Negeri Plus — Tawa ribuan jemaah pecah di Masjid Bintang Emas, Lampung Barat, Selasa (29/9/2026). Namun, di balik humor Ustaz Das’ad Latif tentang kerudung, tas, dan sepatu, terselip pesan serius: jangan sampai gaya hidup memaksa keluarga hidup di luar kemampuan hingga mengorbankan kejujuran.

Pesan itu disampaikan dai kondang nasional asal Makassar tersebut dalam Pengajian Akbar rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-35 Kabupaten Lampung Barat.

Di hadapan ribuan jemaah, Ustaz Das’ad mengajak masyarakat melakukan muhasabah, bukan hanya soal kehidupan beragama, tetapi juga tentang cara keluarga mengelola keinginan, kemampuan ekonomi, dan sumber penghasilan.

“Bu… hidup ini bukan masalah! Yang bikin hidupmu jadi masalah adalah gaya hidupmu!”
Kalimat tersebut sontak mengundang tawa jemaah, terutama kaum ibu.

Namun, di balik candaan itu, Ustaz Das’ad menyampaikan kritik terhadap pola hidup konsumtif yang dapat membuat kebutuhan keluarga semakin berat.

Dari kerudung, merembet ke tas dan sepatu
Ustaz Das’ad menggambarkan pola konsumtif yang kerap muncul dalam kehidupan rumah tangga dengan gaya bercerita yang ringan.

Awalnya, kata dia, seorang istri hanya meminta dibelikan kerudung baru.
“Pah, belikan kerudung baru ya, yang kemarin sudah jelek.”
Suami kemudian menyanggupi.

Namun, menurut ilustrasi yang disampaikannya, persoalan tidak berhenti di kerudung.

“Pah, kerudung sudah ada, tetapi tasnya tidak cocok dengan kerudung. Belikan tas yang warnanya sama.”
Setelah tas terpenuhi, muncul lagi kebutuhan berikutnya.

“Pah, kerudung sudah, tas sudah, tetapi sepatunya tidak cocok. Masa kerudung pink, tas pink, sepatu hitam? Harus pink juga!”
Jemaah kembali tertawa.

“Tadinya cuma minta kerudung seharga Rp50 ribu, akhirnya membengkak jadi Rp500 ribu. Kerudung, tas, sepatu!” ujar Ustaz Das’ad.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan terletak pada kerudung, tas, maupun sepatu. Yang perlu dikritisi adalah ketika keinginan mulai diperlakukan sebagai kebutuhan, lalu dipaksakan meski kemampuan ekonomi keluarga tidak mencukupi.

“Inilah namanya hidup ‘ada apanya’, Bu!” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat menjalani kehidupan secara sederhana dan tidak menjadikan standar hidup orang lain sebagai ukuran kebahagiaan.

“Punya kerudung, ya pakai kerudung itu. Tidak perlu tas dan sepatu harus sewarna. Allah tidak melihat warna tasmu, Bu. Yang dilihat Allah adalah hatimu,” katanya.

Jangan sampai gaya hidup berujung utang
Ustaz Das’ad kemudian mengingatkan bahwa persoalan akan menjadi lebih serius ketika tuntutan penampilan tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi keluarga.

“Kerudungnya dipaksakan ada, tasnya dipaksakan ada, sepatunya dipaksakan ada. Padahal uangnya tidak ada.

Akhirnya apa? Berutang! Terjebak cicilan!” ujarnya.
Ia mengajak keluarga membedakan secara jernih antara kebutuhan dan keinginan.

Sebab, dalam kehidupan rumah tangga, tekanan ekonomi tidak selalu berkaitan dengan besarnya penghasilan.

Cara mengelola penghasilan dan kemampuan menahan keinginan juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan keluarga.

Pesan tersebut semakin relevan di tengah budaya konsumsi yang mudah dipengaruhi tren, penampilan, lingkungan sosial, dan keinginan untuk mengikuti standar orang lain.

Dari gaya hidup menuju ujian integritas
Ceramah kemudian bergerak ke persoalan yang lebih serius: integritas dalam mencari dan menggunakan penghasilan.

Ustaz Das’ad mengaitkan tekanan gaya hidup dengan godaan yang dapat muncul ketika kebutuhan dan keinginan keluarga tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi.

Dalam tausiyahnya, ia juga menyinggung kisah sahabat Nabi Abu Ayyub Al-Anshari serta kandungan Surah Yasin ayat 65 yang sebelumnya disampaikan dalam rangkaian ceramah.

“Kenapa sekarang banyak suami yang tidak jujur di kantor? Kenapa banyak pejabat yang mengambil barang kantor? Karena di rumah ada ‘ratu’ yang menuntut kerudung, tas, dan sepatu harus selalu serasi!” ujarnya secara retoris.

Pernyataan tersebut disampaikannya sebagai kritik terhadap tekanan gaya hidup dan godaan memenuhi tuntutan keluarga dengan cara yang tidak benar.

Pesan utamanya jelas: ketika penghasilan halal belum mencukupi, jalan keluarnya bukan mengambil hak orang lain, melakukan korupsi, atau mencari uang melalui cara yang bertentangan dengan hukum dan agama.

“Tangan dan kaki akan bersaksi dari mana uang kerudung, tas, dan sepatu itu dibeli,” tuturnya.

Karena itu, pesan integritas tersebut tidak hanya ditujukan kepada istri atau kaum ibu. Suami juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kejujuran dan tidak memenuhi tuntutan keluarga dengan mengorbankan amanah pekerjaan maupun hak orang lain.

HUT ke-35 menjadi momentum muhasabah keluarga
Memasuki usia ke-35, pembangunan Kabupaten Lampung Barat tidak hanya dapat dilihat dari jalan, gedung, fasilitas publik, pendidikan, maupun pembangunan fisik.

Ada fondasi lain yang juga penting: keluarga yang kuat, sederhana, bersyukur, dan berintegritas.

Pesan yang disampaikan Ustaz Das’ad dalam pengajian akbar tersebut menjadi refleksi bahwa kesejahteraan keluarga tidak selalu diukur dari banyaknya barang yang dimiliki.

Keluarga yang tenang bukan selalu keluarga yang mampu memenuhi seluruh keinginan, melainkan keluarga yang mampu mengelola kebutuhan, menerima keterbatasan, bersyukur atas apa yang dimiliki, serta memastikan sumber penghasilan diperoleh dengan cara yang halal.

Ustaz Das’ad kemudian menyampaikan pesan sederhana kepada para istri.
“Bu, kalau suamimu membelikan kerudung, bilang Alhamdulillah.

Jangan minta tasnya. Kalau dibelikan tas, bilang Alhamdulillah. Jangan minta sepatunya.”
Kemudian ia menutupnya dengan kalimat yang kembali mengundang tawa sekaligus menjadi bahan renungan:

“Hidup apa adanya, jangan ada apanya. Kalau hidup apa adanya, rumahmu surga. Kalau hidup ada apanya, rumahmu neraka cicilan!”

Bukan sekadar kerudung, tas, dan sepatu
Pengajian Akbar HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat itu pada akhirnya tidak sekadar menghadirkan hiburan melalui gaya ceramah yang jenaka.

Pesan yang dibawa pulang jemaah jauh lebih besar: belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, mengelola kehidupan sesuai kemampuan, membangun rasa syukur, serta menjaga integritas dalam mencari nafkah.

Di tengah mudahnya masyarakat mengikuti tren dan tuntutan gaya hidup, muhasabah tersebut menjadi pertanyaan penting bagi setiap keluarga:

Apakah gaya hidup kita sudah mengikuti kemampuan, atau justru kemampuan kita yang terus dipaksa mengikuti gaya hidup?


(Dok. KN+ Jakfar/Junaidi)

 

Ustaz Das’ad Latif menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Akbar HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat di Masjid Bintang Emas.

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *