Dengungan Nyamuk di Telinga Bukan Sekadar Gangguan, Waspadai Risiko DBD dan Malaria

Lampung – Kabar Negeri Plus, 9 Oktober 2026.
‎Jangan anggap remeh suara “nging” di dekat telinga. Suara itu memang bukan pesan khusus yang sedang disampaikan nyamuk kepada manusia.

Namun, di balik dengungan kecil yang membuat seseorang terbangun dan merasa terganggu, ada proses biologis yang menarik—dan ada alasan mengapa keberadaan nyamuk patut diwaspadai.

‎Suara dengungan nyamuk terutama berasal dari kepakan sayapnya yang sangat cepat.

Getaran yang dihasilkan sayap saat terbang kemudian ditangkap oleh telinga manusia sebagai suara bernada dengung.

‎Menariknya, suara tersebut sering terdengar sangat jelas ketika nyamuk terbang di sekitar kepala, termasuk dekat telinga.
‎mengapa nyamuk sering terdengar di sekitar telinga?

‎Nyamuk tidak secara khusus datang ke telinga untuk “berkomunikasi” dengan manusia.

‎Mereka tertarik pada sejumlah petunjuk biologis dari tubuh manusia, termasuk karbon dioksida dari napas, panas tubuh, serta berbagai senyawa kimia dan bau dari kulit.

Karena hidung, mulut, wajah dan leher berada dalam satu kawasan, nyamuk yang sedang mencari sumber darah dapat melintas sangat dekat dengan telinga.

‎Itulah sebabnya suara dengungan sering kali terdengar begitu dekat dan mengganggu.

‎Bagi manusia, suara itu menjengkelkan. Bagi nyamuk, kepakan sayap merupakan bagian dari aktivitas hidupnya.

‎Pada beberapa jenis nyamuk, frekuensi kepakan sayap juga berperan dalam interaksi antarnyamuk, termasuk perilaku kawin.

Jadi, dengungan memang dapat menjadi bagian dari “bahasa biologis” nyamuk—tetapi bukan pesan yang sengaja ditujukan kepada manusia.
‎mengapa suara “nging” terasa sangat mengganggu?

‎Ada alasan sederhana: suara nyamuk muncul sangat dekat dengan telinga dan memiliki karakter nada yang mudah terdengar.

‎Ketika suara kecil muncul tiba-tiba di sekitar kepala, otak segera memberi perhatian terhadap sumber suara tersebut. Terlebih lagi, manusia mengetahui bahwa nyamuk dapat menggigit.

‎Namun, anggapan bahwa otak manusia secara pasti telah “diprogram secara evolusioner” untuk menganggap dengungan nyamuk sebagai alarm bahaya perlu disikapi hati-hati.

Secara ilmiah, yang lebih aman dikatakan adalah suara tersebut sangat mudah menarik perhatian karena datang tiba-tiba, berulang, dan berasal dari serangga yang berpotensi menggigit.

‎bukan sekadar suara, nyamuk tertentu bisa membawa penyakit
‎Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius.

‎Tidak semua nyamuk membawa penyakit. Namun, beberapa spesies merupakan vektor penyakit yang dapat menularkan virus atau parasit kepada manusia.

‎Demam berdarah dengue, misalnya, terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus dengue.

Penyakit ini dapat menimbulkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, hingga pada sebagian kasus berkembang menjadi dengue berat yang dapat mengancam jiwa.

‎Sementara itu, malaria berbeda. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles yang terinfeksi.

‎Artinya, istilah “penyakit akibat nyamuk” tidak boleh disamaratakan. Jenis nyamuk, patogen, pola penularan dan langkah pengendaliannya dapat berbeda.

‎jangan menunggu wabah untuk mulai membasmi sarang nyamuk
‎Pencegahan justru harus dimulai sebelum kasus meningkat.

‎Untuk dengue, pengendalian tempat berkembang biak nyamuk menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Genangan air dan wadah yang dapat menampung air di sekitar rumah perlu diperiksa secara rutin.

Tempat penampungan air juga perlu ditutup, dikosongkan dan dibersihkan secara berkala.

‎Masyarakat juga dapat melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan menggunakan pakaian yang menutup tubuh, memasang kasa pada jendela dan pintu, serta menggunakan repelan sesuai petunjuk.

‎Untuk wilayah dengan risiko malaria, perlindungan dari gigitan nyamuk pada malam hari juga penting, termasuk penggunaan kelambu dan langkah pencegahan lain sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan pemeriksaan segera apabila muncul gejala yang mengarah pada malaria, terutama setelah berada di daerah endemis.

‎puskesmas dan dinas kesehatan perlu hadir sebelum masalah membesar.

‎Upaya pemberantasan nyamuk bukan semata-mata pekerjaan rumah tangga.

‎Puskesmas, Dinas Kesehatan, pemerintah daerah dan masyarakat perlu bergerak bersama melalui edukasi, pemantauan kasus, surveilans vektor, pemberantasan tempat berkembang biak dan langkah pengendalian yang sesuai kondisi wilayah.

‎Masyarakat pun tidak boleh hanya menunggu petugas datang melakukan fogging.
‎Fogging bukan satu-satunya solusi.

Pengendalian sumber perkembangbiakan nyamuk dan perubahan perilaku masyarakat merupakan bagian penting dari pencegahan, terutama untuk dengue.
‎dari suara “nging” menjadi alarm kewaspadaan.

‎Pada akhirnya, dengungan nyamuk memang bukan ramalan, bukan pesan gaib dan bukan sinyal khusus kepada manusia.

‎Tetapi ketika suara “nging…” terdengar berkali-kali di sekitar rumah, mungkin itu cukup menjadi pengingat sederhana:
‎jangan hanya tepuk nyamuknya—periksa juga tempat nyamuk berkembang biak.

‎Sebab persoalannya bukan sekadar satu ekor nyamuk yang mengganggu tidur.

‎Persoalannya adalah lingkungan yang memungkinkan nyamuk terus berkembang, menggigit, dan dalam kondisi tertentu menjadi bagian dari rantai penularan penyakit.

‎Waspada bukan berarti panik. Membasmi bukan berarti menunggu wabah. Pencegahan dimulai dari rumah, lingkungan dan kepedulian bersama.


‎Dok. KN+ by Admin
‎

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *