
Orang yang Dicintai Allah Selalu Rendah Hati
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 2 Agustus 2026 | Hari 2 Minggu I)
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh.
Setelah kemarin kita belajar tentang keikhlasan sebagai rahasia diterimanya amal, hari ini kita melanjutkan perjalanan dengan satu akhlak yang sangat dicintai Allah, yaitu tawadhu’ atau rendah hati.
Di zaman sekarang, banyak orang berlomba untuk terlihat hebat.
Ingin dipuji.
Ingin dihormati.
Ingin dianggap lebih sukses daripada orang lain.
Tidak sedikit yang merasa dirinya lebih mulia karena jabatan.
Lebih tinggi karena kekayaan.
Lebih pintar karena ilmu.
Lebih terhormat karena keturunan.
Padahal di sisi Allah.
Kemuliaan bukan diukur dari apa yang dimiliki.
Melainkan dari ketakwaan dan kerendahan hati.
Semakin tinggi pohon, semakin ia merunduk.
Begitu pula seorang mukmin.
Semakin tinggi ilmunya.
Semakin banyak amalnya.
Semakin besar kedudukannya.
Seharusnya semakin rendah hatinya.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā.
Kesombongan menjauhkan seseorang dari Allah.
Sedangkan tawadhu’ mengangkat derajat seorang hamba di sisi-Nya.
Dalil
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang kasar, mereka membalas dengan ucapan yang baik.”
(QS Al-Furqan [25]: 63)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)
Inti Pesan
Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan.
Bukan pula merasa tidak berharga.
Tawadhu’ adalah menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
Ilmu adalah pemberian Allah.
Harta adalah titipan Allah.
Kedudukan adalah amanah Allah.
Karena semuanya berasal dari Allah.
Tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Orang yang tawadhu’ mudah menerima nasihat.
Tidak malu mengakui kesalahan.
Menghormati siapa pun tanpa melihat statusnya.
Tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Sebab ia tahu.
Boleh jadi orang yang sederhana di mata manusia justru lebih mulia di sisi Allah.
Kisah Teladan
Salah satu teladan paling agung dalam tawadhu’ adalah Rasulullah ﷺ sendiri.
Padahal beliau adalah manusia paling mulia yang pernah hidup di muka bumi.
Beliau adalah nabi terakhir.
Pemimpin seluruh umat manusia.
Kekasih Allah.
Namun beliau tetap hidup dengan penuh kerendahan hati.
Beliau menjahit sendiri sandal dan pakaiannya yang robek.
Memerah susu kambing.
Membantu pekerjaan rumah.
Duduk bersama orang miskin.
Makan bersama para sahabat tanpa membedakan kedudukan.
Bahkan ketika seorang lelaki datang menemui beliau dengan tubuh gemetar karena rasa hormat, Rasulullah ﷺ berkata:
“Tenanglah. Aku bukan seorang raja. Aku hanyalah anak seorang wanita dari Quraisy yang biasa memakan daging kering.”
(HR. Ibnu Majah)
Inilah kemuliaan sejati.
Semakin tinggi kedudukan Rasulullah ﷺ.
Semakin rendah hati beliau kepada manusia.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Hari ini cobalah melihat kembali diri kita.
Apakah kita mudah menerima kritik?
Apakah kita masih suka merasa lebih baik daripada orang lain?
Apakah kita menghormati orang yang lebih miskin?
Apakah kita tetap ramah kepada orang yang tidak memiliki jabatan?
Jika masih ada kesombongan.
Sekecil apa pun.
Segeralah memohon ampun kepada Allah.
Karena kesombongan adalah penyakit hati yang dapat menghapus keberkahan amal.
Kunci
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lembut akhlaknya dan semakin rendah hatinya kepada sesama.
Baca Juga:
Bekal Terbaik adalah Takwa, Bukan Dunia
Aksi Hari Ini
Sapa dan hormati setiap orang dengan ramah
Baik yang kaya maupun yang miskin, yang berpangkat maupun yang sederhana.
Terimalah nasihat dengan lapang dada
Karena kebenaran lebih berharga daripada gengsi.
Hindari membanggakan diri
Biarkan amal berbicara, bukan kesombongan.
Doakan orang yang lebih sukses darimu
Hilangkan iri dan gantilah dengan doa kebaikan.
Muhasabah sebelum tidur
Tanyakan kepada diri sendiri,
“Apakah hari ini aku lebih banyak meninggikan diriku, atau lebih banyak merendahkan hati karena Allah?”
Kerendahan hati tidak mengurangi kehormatan seseorang. Justru dengan tawadhu’, Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan di akhirat.
Penutup
Saudaraku yang dirahmati Allah.
Dunia mengajarkan kita untuk menjadi besar di mata manusia.
Tetapi Islam mengajarkan kita untuk menjadi mulia di sisi Allah.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ tetap hidup sederhana dan rendah hati meskipun menjadi manusia paling mulia, marilah kita menjadikan tawadhu’ sebagai pakaian hati dalam setiap keadaan.
Jangan mencari kemuliaan dengan kesombongan.
Karena kesombongan hanya akan menjauhkan manusia dari rahmat Allah.
Carilah kemuliaan melalui kerendahan hati.
Melalui akhlak yang lembut.
Melalui penghormatan kepada sesama.
Dan melalui kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, menghiasi jiwa kita dengan tawadhu’, menjadikan kita hamba yang dicintai-Nya, serta mengangkat derajat kita dengan akhlak yang mulia, sebagaimana Dia telah memuliakan Rasulullah ﷺ dengan kerendahan hati yang sempurna.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

