
Kopi Tanggamus tak boleh lagi hanya jadi wacana! Bupati Saleh Asnawi semprot program yang mandek di ruang rapat: petani harus kembali produktif dan sejahtera.
KABAR NEGERI PLUS | TANGGAMUS
Harga kopi boleh melambung, tetapi kesejahteraan petani belum otomatis ikut terbang. Di balik manisnya nilai jual komoditas unggulan Tanggamus, masih tersimpan persoalan klasik yang bertahun-tahun tak kunjung tuntas: produktivitas rendah, pupuk sulit diperoleh, akses permodalan terbatas, hingga program yang lebih sering berakhir di meja rapat daripada menyentuh kebun milik petani.
Pesan itulah yang disampaikan dengan nada tegas oleh Bupati Tanggamus, Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., saat menerima audiensi Balai Riset dan Monitoring Perkebunan (BRMP) Lampung bersama Tim I-Can (Initiative for Coffee & Cocoa Advancement in Nusantara) di Ruang Rapat Bupati Tanggamus, Selasa (30/6/2026).
Bagi Saleh Asnawi, tidak ada lagi ruang untuk program yang hanya menghasilkan laporan dan diskusi tanpa dampak nyata di lapangan. Ia menginginkan seluruh pihak yang terlibat benar-benar hadir di tengah petani, memberikan solusi, pendampingan, hingga memastikan produktivitas kebun kopi meningkat secara nyata.
“Kalau hanya teori di sini, bicara terus di ruang rapat, tidak akan ada hasilnya. Harus turun ke lapangan, membawa solusi, mengedukasi petani sampai ke kecamatan, desa, dan pekon. Jangan hanya berhenti pada teori,” tegasnya.
Audiensi tersebut dihadiri Kepala BRMP Lampung Endro Gunawan, Ketua Tim Teknis I-Can Lampung Fauziah Yulia Adriani, jajaran BRMP, Ahmad Sutarno selaku Fasilitator Forum FSP perwakilan GIZ, unsur koperasi, serta didampingi Asisten II Sekdakab Tanggamus Hendra Wijaya Mega, Kepala Bapperida Doni Sangaji Berisang, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Henry Patra, Kepala Dinas KPTPH Alkat Alamsyah, dan Kabag Protokol Hendra Ferry.
Dalam paparannya, Kepala BRMP Lampung Endro Gunawan mengungkapkan bahwa produktivitas kopi di sejumlah sentra perkebunan Tanggamus masih berkisar antara 800 hingga 900 kilogram per hektare. Angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi maksimal yang bisa dicapai apabila petani memperoleh pendampingan teknologi, pupuk, pembiayaan, dan tata kelola budidaya yang lebih baik.
Menurut Endro, kenaikan harga kopi tidak akan banyak mengubah tingkat kesejahteraan petani apabila produksi tetap rendah. Karena itu, ia mendorong agar forum kemitraan multipihak menjadi wadah yang mampu menyatukan seluruh program pengembangan kopi sehingga tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Bupati Saleh Asnawi pun mengingatkan bahwa denyut ekonomi Kabupaten Tanggamus bertumpu pada sektor pertanian. Hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat, katanya, bergerak karena hasil panen petani.
“Secara teori memang tidak akan pernah ada perputaran ekonomi di Tanggamus kalau tidak ada transaksi hasil komoditas pertanian. Artinya petani harus produktif. Kalau petani produktif, dampaknya akan positif untuk seluruh perputaran ekonomi di Tanggamus,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi petani yang menurutnya mengalami kemunduran dalam dua dekade terakhir. Banyak petani kesulitan memperoleh pupuk, terbentur akses modal, hingga akhirnya gagal meningkatkan hasil panen.
“Dua puluh tahun terakhir ini kita sangat prihatin. Petani sekarang miskin karena tidak produktif. Cari pupuk susah, pinjam uang untuk beli pupuk juga susah. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, masa depan anak-anak petani juga akan ikut terdampak,” katanya.
Saleh Asnawi menegaskan keberhasilan pembangunan pertanian tidak mungkin hanya mengandalkan semangat petani. Pemerintah harus hadir secara nyata melalui pendampingan intensif, penyediaan benih unggul, akses pupuk, teknologi budidaya, hingga penyuluhan berkelanjutan sebagaimana pernah dilakukan pada masa-masa ketika sektor pertanian mampu menjadi penyangga utama ekonomi nasional.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada implementasi program I-Care yang telah berjalan sejak 2022. Menurutnya, waktu empat tahun seharusnya sudah cukup untuk menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kalau program ini sudah berjalan sejak 2022 tetapi petani masih kesulitan pupuk dan belum produktif, berarti implementasi di lapangan harus diperkuat. Yang saya inginkan sekarang adalah benar-benar bekerja di bawah bersama petani,” pungkasnya.
Meski demikian, optimisme tetap terbuka. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanggamus Henry Patra melaporkan bahwa produktivitas kopi daerah menunjukkan tren positif. Jika pada 2014 rata-rata produksi hanya sekitar 800 kilogram per hektare, maka pada 2025 telah meningkat menjadi 1,25 ton per hektare.
Produksi kopi Tanggamus juga melonjak dari 32.443 ton pada 2024 menjadi 39.165 ton pada 2025, atau meningkat 17,16 persen. Sementara itu, produksi kakao turut tumbuh 14,93 persen dengan luas areal perkebunan mencapai sekitar 41.461 hektare.
Namun bagi Pemerintah Kabupaten Tanggamus, peningkatan angka statistik saja belum cukup. Target sesungguhnya adalah menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan petani melalui hasil panen yang lebih tinggi, pendapatan yang meningkat, dan kesejahteraan keluarga yang semakin baik.
Pesan Bupati pun menjadi penutup yang kuat: program pengembangan kopi tidak boleh lagi berhenti sebagai dokumen, presentasi, atau diskusi di ruang rapat. Ukuran keberhasilannya hanya satu—petani semakin produktif, kebun semakin menghasilkan, dan ekonomi Tanggamus benar-benar bergerak dari akar rumput.
(Dok.KN +/Akmaluddin)

