
JALAN HANCUR, EKONOMI TERANCAM! Warga Wonosobo Menjerit, Akses Pertanian dan Sekolah Nyaris Lumpuh
KABAR NEGERI PLUS | TANGGAMUS
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur yang terus digaungkan pemerintah, kondisi memprihatinkan justru terjadi di Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus. Sejumlah ruas jalan penghubung antarpekon dilaporkan mengalami kerusakan berat dan semakin memburuk tanpa penanganan yang memadai. Akibatnya, aktivitas ekonomi warga, akses pendidikan, hingga pelayanan kesehatan kini berada di ujung ancaman.
Pantauan dan laporan warga pada Selasa (23/6/2026) menunjukkan kerusakan parah terjadi di sejumlah titik strategis yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, mulai dari Pekon Sridadi, Sumur Tujuh, Padang Manis, Balak hingga Pekon Kejadian.
Di Pekon Sridadi, jalan utama menuju kawasan permukiman dan lahan pertanian dipenuhi lubang-lubang besar yang menganga. Kondisi tersebut tidak hanya memperlambat perjalanan warga, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara yang melintas setiap hari.
Situasi lebih mengkhawatirkan ditemukan di Pekon Sumur Tujuh. Saat hujan turun, badan jalan berubah menjadi kubangan air yang dalam sehingga lubang-lubang di bawahnya tidak terlihat. Warga mengaku sering menyaksikan pengendara roda dua terjatuh akibat terjebak dalam kubangan tersebut.
Sementara itu, akses di Pekon Padang Manis juga tidak kalah memprihatinkan. Ruas jalan menanjak yang menjadi jalur utama warga kini dipenuhi batu dan permukaan yang tidak rata, menyulitkan kendaraan pengangkut hasil pertanian untuk melintas dengan aman.
Kerusakan paling mencolok ditemukan di Pekon Balak. Sekitar dua kilometer jalan mengalami kerusakan berat. Padahal jalur tersebut merupakan akses penting menuju SMAN 1 Wonosobo serta penghubung ke wilayah Tanjung Kurung. Kondisi ini membuat para pelajar dan masyarakat harus menghadapi risiko keselamatan setiap kali berangkat maupun pulang dari aktivitas mereka.
Tak hanya itu, di Pekon Kejadian, warga mengeluhkan rusaknya jalan penghubung antarpekon yang menyebabkan akses transportasi menjadi tidak nyaman dan menghambat mobilitas masyarakat secara keseluruhan.
Berdasarkan keterangan warga dan aparatur pekon setempat, kerusakan jalan telah berlangsung cukup lama dan terus bertambah parah terutama saat musim hujan. Aspal yang terkelupas, badan jalan yang amblas, serta permukaan yang licin dan berlumpur menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi masyarakat.
Yang menjadi sorotan, ruas-ruas jalan tersebut bukan sekadar jalur biasa. Jalan-jalan itu merupakan akses vital yang menghubungkan kawasan pertanian dengan pusat distribusi hasil bumi. Ketika infrastruktur rusak, biaya angkut hasil panen otomatis meningkat dan berpotensi menekan pendapatan para petani.
“Kami bukan hanya kesulitan melintas, tapi juga rugi secara ekonomi. Biaya angkut hasil panen jadi lebih mahal dan kendaraan sering rusak,” ungkap salah seorang warga yang meminta pemerintah segera mengambil langkah nyata.
Selain berdampak pada sektor ekonomi, kerusakan jalan juga menghambat pelayanan publik. Kendaraan darurat kesehatan kesulitan menjangkau sejumlah wilayah, sementara para pelajar harus berjuang melewati jalan rusak setiap hari demi mendapatkan pendidikan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan masyarakat: sejauh mana perhatian pemerintah terhadap infrastruktur pedesaan yang menjadi penopang utama aktivitas warga?
Aparatur pekon diketahui telah melakukan pendataan terhadap titik-titik kerusakan dan menyampaikan laporan kepada instansi terkait. Namun hingga kini masyarakat masih menunggu realisasi perbaikan yang dinilai sangat mendesak.
Warga berharap Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tanggamus segera turun ke lapangan untuk melakukan penanganan darurat sekaligus menyusun program perbaikan permanen. Sebab jika terus dibiarkan, kerusakan jalan tidak hanya menghambat roda perekonomian desa, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan masyarakat setiap hari.
Bagi warga Wonosobo, persoalan ini bukan lagi sekadar jalan berlubang. Ini adalah soal akses hidup, akses pendidikan, akses kesehatan, dan masa depan ekonomi ribuan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada jalan-jalan yang kini perlahan hancur dimakan waktu.
(Dok.KN +/Halimi/TGS)

