Viral Kutipan Buya Hamka di Tengah Krisis Kepercayaan Publik: “Puncak Keberanian Adalah Menegakkan Keadilan”

JAKARTA, Kabar Negeri Plus — Ketika kepercayaan publik terhadap institusi, hukum, dan kekuasaan sedang diuji, sebuah kalimat tentang keberanian dan keadilan kembali bergaung di media sosial.


Kutipan yang dinisbatkan kepada ulama sekaligus sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka, tersebut ramai dibagikan warganet. Pesannya sederhana, tetapi tajam: keberanian sejati bukan sekadar berani menghadapi lawan, melainkan berani menegakkan keadilan ketika keputusan itu menyentuh kepentingan diri sendiri.


“Puncak dari segala keberanian adalah berani menegakkan keadilan meskipun menyangkut kepentingan pribadi.”
Kalimat tersebut kini terasa semakin relevan di tengah berbagai perdebatan mengenai integritas, penegakan hukum, kepemimpinan, dan kepercayaan masyarakat terhadap para pemegang amanah.


Namun, kutipan yang beredar di media sosial tetap perlu dibaca secara kritis. Tanpa rujukan primer yang jelas mengenai sumber asli perkataan tersebut, atribusinya kepada Buya Hamka sebaiknya diposisikan sebagai kutipan yang dinisbatkan atau beredar atas nama Buya Hamka, bukan sebagai kepastian historis.


Ketika keadilan berhadapan dengan kepentingan pribadi
Kekuatan pesan dalam kutipan tersebut justru terletak pada satu kata: kepentingan pribadi.
Menegakkan keadilan ketika keputusan tidak berdampak kepada diri sendiri mungkin terasa mudah. Persoalannya menjadi jauh lebih berat ketika kebenaran yang harus ditegakkan berpotensi mengganggu kenyamanan, jabatan, hubungan, kepentingan kelompok, bahkan masa depan pribadi.


Di titik itulah keberanian moral benar-benar diuji.
Seseorang dapat terlihat gagah ketika menghadapi lawan. Tetapi ukuran keberanian yang lebih tinggi adalah kemampuan untuk tetap berkata benar ketika kebenaran tersebut tidak memberikan keuntungan bagi dirinya.
Sebab, keadilan yang hanya ditegakkan ketika menguntungkan diri sendiri bukanlah keadilan yang utuh.


Integritas bukan slogan
Di tengah kehidupan publik yang semakin kompleks, integritas sering kali menjadi kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dipertahankan.
Kekuasaan membawa kepentingan. Jabatan menghadirkan tekanan. Kedekatan dengan kelompok tertentu dapat melahirkan konflik kepentingan. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin, pejabat, penegak hukum, maupun masyarakat biasa dituntut untuk mampu memisahkan antara apa yang benar dan apa yang menguntungkan.


Keadilan tidak seharusnya berubah hanya karena siapa yang sedang berhadapan dengannya.
Jika hukum keras kepada yang lemah tetapi lunak kepada yang memiliki kekuasaan, maka yang rusak bukan hanya sebuah keputusan. Yang perlahan terkikis adalah kepercayaan masyarakat.


Buya Hamka dan warisan keteladanan
Buya Hamka dikenal sebagai ulama, sastrawan, pemikir, dan tokoh bangsa yang meninggalkan warisan pemikiran luas mengenai agama, moral, kehidupan sosial, dan kemanusiaan.


Karena itu, tidak mengherankan apabila berbagai kutipan yang membawa namanya terus beredar dan mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
Tetapi pesan moral seharusnya tidak berhenti pada siapa yang mengucapkannya.
Yang jauh lebih penting adalah apakah pesan tersebut mampu menjadi cermin bagi kehidupan kita hari ini.


Keadilan bukan hanya urusan ruang sidang, gedung pemerintahan, atau lembaga penegak hukum. Keadilan dimulai dari ruang yang paling dekat dengan manusia: keluarga, lingkungan kerja, organisasi, persahabatan, hingga kehidupan bermasyarakat.


Berani adil ketika tidak ada yang melihat
Pertanyaan terbesarnya bukan apakah kita berani membela kebenaran ketika banyak orang mendukung.


Pertanyaannya: apakah kita tetap berani membela yang benar ketika tidak ada yang melihat, ketika teman sendiri melakukan kesalahan, atau ketika keputusan yang adil justru merugikan kepentingan kita?


Di situlah kualitas moral seseorang terlihat.
Sebab, keberanian bukan hanya soal suara yang keras. Keberanian adalah keteguhan hati untuk tidak menjual prinsip ketika tekanan datang.
Dan keadilan bukan hanya tentang menghukum yang salah. Keadilan juga berarti berani mengakui ketika diri sendiri keliru.


Pesan lama, tamparan untuk zaman sekarang
Di tengah derasnya informasi, pertarungan kepentingan, dan perdebatan publik yang semakin tajam, pesan tentang keberanian menegakkan keadilan layak menjadi bahan renungan bersama.


Bagi para pemegang kekuasaan, ia adalah pengingat bahwa jabatan merupakan amanah.
Bagi penegak hukum, ia adalah pengingat bahwa hukum harus berdiri di atas kepentingan.
Bagi masyarakat, ia adalah pengingat bahwa membela kebenaran tidak selalu berarti membela orang yang kita sukai.


Dan bagi kita semua, pesan itu menjadi pertanyaan sederhana tetapi berat:
Ketika keadilan berbenturan dengan kepentingan pribadi, di pihak mana kita akan berdiri?


Barangkali di situlah makna keberanian yang sesungguhnya.
Bukan seberapa keras kita berbicara tentang kebenaran, melainkan seberapa kuat kita mempertahankannya ketika kebenaran itu mulai menyakitkan.
Kabar Negeri Plus — Tajam Mengabarkan, Cerdas Mengawal.


Catatan redaksi: Kutipan di atas ditulis sebagai kutipan yang beredar/dinisbatkan kepada Buya Hamka. Keaslian redaksi dan sumber primer kutipan perlu diverifikasi sebelum diposisikan sebagai kutipan autentik Buya Hamka.


(Dok. KN+ By Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *