khutbah jumatpemimpin adil, negeri menjadi baik

khutbah pertama


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Di atas mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa.


Laksanakan segala perintah-Nya dan tinggalkan segala larangan-Nya. Sebab kehidupan yang baik tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau kemajuan pembangunan, tetapi juga dari sejauh mana manusia menjalankan amanah dan menegakkan keadilan.


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,


Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu perkara yang sangat menentukan baik dan buruknya kehidupan masyarakat: kepemimpinan dan keadilan.
Pemimpin yang adil bukan sekadar membuat rakyat merasa aman. Kepemimpinan yang amanah juga menjadi bagian dari sebab terciptanya ketenteraman, kepercayaan, dan keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat.


Sebaliknya, ketika kezaliman dibiarkan, amanah dikhianati, hukum diperlakukan secara tidak adil, dan jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi, maka yang rusak bukan hanya pemerintahan. Kepercayaan masyarakat pun dapat hilang dan kehidupan sosial menjadi semakin berat.
Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap masalah kepemimpinan.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang takut kepada Allah ketika mengambil keputusan.
Ia tidak menjadikan jabatan sebagai jalan untuk mencari keuntungan pribadi. Ia tidak menindas orang yang lemah. Ia tidak membeda-bedakan manusia karena harta, keluarga, kedudukan, ataupun kepentingan tertentu.


Sebab seorang pemimpin harus menyadari bahwa jabatan bukanlah sekadar kehormatan di dunia. Jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ


“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, di antaranya adalah pemimpin yang adil.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Betapa mulianya kedudukan pemimpin yang adil.
Dengan keadilannya, orang lemah mendapatkan perlindungan. Dengan amanahnya, masyarakat mendapatkan ketenangan. Dengan kejujurannya, kepercayaan tumbuh. Dan dengan kebijaksanaannya, perbedaan dapat dikelola tanpa menimbulkan kezaliman.


Jamaah Jumat rahimakumullah,


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ


“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)


Ayat ini sering kita dengarkan di penghujung khutbah Jumat.
Namun, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah keadilan benar-benar kita tegakkan dalam kehidupan kita?


Sebab keadilan bukan hanya urusan presiden, gubernur, bupati, wali kota, kepala desa, atau pejabat negara.


Keadilan dimulai dari diri kita sendiri.
Seorang ayah harus adil kepada anak-anaknya.
Seorang guru harus adil kepada murid-muridnya.


Seorang atasan harus adil kepada bawahannya.
Seorang pedagang harus jujur kepada pembelinya.
Dan setiap orang yang diberi amanah harus melaksanakan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Tidak sedikit manusia yang menginginkan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitas yang menyertainya.


Namun, sedikit yang benar-benar memikirkan beratnya pertanggungjawaban di balik jabatan tersebut.


Setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban.
Setiap amanah akan diperhitungkan.
Dan setiap hak orang lain yang diambil secara zalim tidak akan hilang begitu saja di hadapan Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu:


يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا


“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah. Pada hari kiamat, ia menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya.”
(HR. Muslim)


Karena itu, jangan sampai jabatan yang seharusnya menjadi jalan pengabdian justru berubah menjadi jalan menuju penyesalan.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ


“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96)


Ayat ini mengingatkan kita bahwa keberkahan sebuah negeri bukan hanya dibangun dengan gedung-gedung tinggi, jalan yang panjang, dan pembangunan yang megah.


Keberkahan juga lahir dari iman, ketakwaan, kejujuran, amanah, dan keadilan.
Negeri yang baik membutuhkan pemimpin yang baik.


Tetapi pemimpin yang baik juga membutuhkan masyarakat yang baik.
Sebab tidak mungkin kita hanya menuntut pemimpin untuk jujur sementara masyarakat masih membiasakan kebohongan.


Tidak mungkin kita menuntut pejabat menjauhi suap sementara masyarakat masih menganggap suap sebagai jalan pintas.


Tidak mungkin kita meminta keadilan ditegakkan jika kita sendiri masih senang berlaku tidak adil kepada sesama.


Jamaah Jumat rahimakumullah,


Maka marilah kita memulai perubahan dari diri kita sendiri.
Jika kita diberi amanah menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang adil.
Jika kita menjadi pegawai, bekerjalah dengan jujur.


Jika kita menjadi pedagang, jangan curangi timbangan.
Jika kita menjadi orang tua, berlaku adillah kepada anak-anak.


Jika kita menjadi masyarakat, jangan membiasakan suap, fitnah, kebohongan, dan mengambil hak orang lain.


Karena negeri yang baik bukan hanya lahir dari pemimpin yang baik, tetapi juga dari masyarakat yang menjaga kebaikan.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Mari kita berdoa agar Allah menghadirkan pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Nya.


Pemimpin yang lebih mencintai keadilan daripada kepentingan pribadi.


Pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.


Pemimpin yang melindungi yang lemah, memperhatikan masyarakat kecil, dan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.


Semoga Allah memperbaiki para pemimpin kita dan memperbaiki pula masyarakat kita.


Semoga Allah menjadikan negeri kita negeri yang aman, adil, tenteram, dan penuh keberkahan.


آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

(Dok. KN+ Jakfar Sidik.)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *