
Berani Menjadi Benar, Meski Harus Berdiri Sendirian
Kabar Negeri Plus — Kebenaran tidak selalu berada di pihak yang ramai. Tidak selamanya sesuatu yang didukung banyak orang otomatis menjadi benar. Ada kalanya kebenaran justru berdiri sendirian, sunyi, bahkan harus berhadapan dengan suara mayoritas yang jauh lebih besar.
Di situlah keberanian dan integritas seseorang benar-benar diuji.
Dalam kehidupan sosial, seseorang terkadang lebih mudah mengikuti arus. Ketika banyak orang mengatakan sesuatu itu benar, tidak sedikit yang memilih ikut membenarkan tanpa terlebih dahulu bertanya: benarkah demikian?
Padahal, dalam dunia hukum, ukuran kebenaran bukan ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyetujuinya. Kebenaran harus berdiri di atas fakta, bukti, proses yang adil, serta prinsip hukum yang berlaku.
Mayoritas memang dapat membentuk opini. Namun, mayoritas tidak selalu melahirkan kebenaran.
Karena itu, seseorang yang memilih berdiri pada prinsip ketika orang lain memilih mengikuti arus tidak semestinya dianggap sebagai pihak yang salah hanya karena jumlahnya sedikit. Justru dalam situasi seperti itulah integritas menemukan maknanya.
Pesan-pesan yang sering dikaitkan dengan sosok Baharuddin Lopa tentang keberanian menjaga integritas menjadi relevan untuk direnungkan. Dalam penegakan hukum, keberanian bukan sekadar berani berbicara, tetapi juga berani mempertahankan kebenaran ketika tekanan datang dari berbagai arah.
Sebab, mempertahankan prinsip ketika semua orang mendukung kita adalah hal yang relatif mudah.
Namun, mempertahankan prinsip ketika kita sendirian, ditentang, bahkan disalahpahami, itulah ujian sesungguhnya.
Ketika banyak orang memilih jalan yang keliru, tetap berada di jalan yang diyakini benar bukanlah kelemahan. Itu adalah bentuk keteguhan karakter.
Seorang yang berintegritas tidak seharusnya mengubah prinsip hanya karena takut kehilangan dukungan. Ia tidak menjadikan jumlah pengikut sebagai ukuran kebenaran. Ia juga tidak boleh mengorbankan fakta demi sekadar mendapatkan penerimaan dari lingkungan.
Dalam konteks hukum, prinsip tersebut menjadi semakin penting.
Hukum tidak boleh bekerja berdasarkan siapa yang paling banyak bersuara, siapa yang paling kuat pengaruhnya, atau siapa yang paling banyak memiliki pendukung. Hukum harus bekerja berdasarkan fakta dan alat bukti yang sah, prosedur yang benar, serta keadilan.
Sebab apabila kebenaran ditentukan oleh jumlah suara, maka orang yang tidak bersalah dapat dengan mudah dikalahkan hanya karena tidak memiliki cukup banyak orang yang membelanya.
Begitu pula sebaliknya, seseorang tidak serta-merta menjadi benar hanya karena berada di tengah kelompok yang besar.
Kebenaran tidak membutuhkan keramaian untuk menjadi benar.
Sejarah pun telah berkali-kali menunjukkan bahwa tidak semua orang yang berdiri sendirian berada di pihak yang salah. Bahkan, perubahan besar sering kali dimulai dari seseorang atau sekelompok kecil orang yang berani mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Mereka mungkin tidak langsung dipercaya.
Mereka mungkin dicemooh.
Mereka mungkin dianggap berbeda.
Namun, waktu sering kali menjadi hakim yang paling jujur. Ketika kepentingan telah berlalu dan suara keramaian mulai mereda, prinsip dan fakta akan menemukan tempatnya sendiri.
Karena itu, jangan takut ketika suatu saat harus berjalan sendirian demi mempertahankan sesuatu yang diyakini benar.
Berdiri sendiri bukan berarti kalah.
Tidak populer bukan berarti salah.
Berbeda pendapat bukan berarti tidak memiliki kepedulian.
Dan mempertahankan prinsip bukan berarti membenci mereka yang berbeda pandangan.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa apa yang kita perjuangkan memiliki dasar yang kuat, bukan sekadar dorongan emosi atau kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling banyak mendapatkan tepuk tangan. Sejarah lebih sering menghormati mereka yang tetap memegang prinsip ketika keadaan memaksa mereka untuk menyerah.
Sebab keberanian terbesar bukanlah berdiri bersama banyak orang ketika semuanya terasa mudah.
Keberanian terbesar adalah tetap berdiri di jalan yang benar ketika kita tahu bahwa kita mungkin harus berjalan sendirian.
“Beranilah menjadi benar, meskipun harus berdiri sendirian.”
— Catatan untuk kita semua: kebenaran tidak membutuhkan keramaian untuk menjadi benar.
(Dok KN+ Jakfar Sidik.)

