
Jangan Tunggu Bencana Datang Baru Panik! Kapolres Tanggamus Bongkar Titik Lemah Kesiapsiagaan, Inventaris hingga Personel Disisir Total
TANGGAMUS | KABAR NEGERI PLUS – Bencana tidak pernah mengirim undangan. Dalam hitungan menit, banjir, longsor, gempa, hingga pohon tumbang bisa mengubah situasi menjadi darurat. Di tengah tingginya potensi ancaman tersebut, Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H. memilih mengambil langkah tegas: memastikan seluruh personel dan perlengkapan benar-benar siap, bukan sekadar terlihat siap.
Pesan keras itu disampaikan Kapolres saat kegiatan Ngopi Bareng Kamtibmas (Ngobarmas), Selasa (21/7/2026). Di hadapan pejabat utama, para Kapolsek, dan personel, ia menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi data inventaris yang asal-asalan ataupun kesiapsiagaan yang hanya berhenti di atas kertas.
Menurutnya, seluruh aset milik Polres maupun Polsek jajaran harus didata secara rinci, mulai dari jumlah, kondisi, hingga kelayakan operasional. Pendataan tersebut harus dilakukan secara jujur tanpa ada upaya menutupi kerusakan ataupun kekurangan yang ada.
“Yang paling utama adalah jumlah barangnya harus benar-benar sesuai data. Setelah itu kondisinya juga harus dipastikan, apakah masih layak operasional, rusak ringan, atau rusak berat. Semua harus dipahami dan dilaporkan apa adanya,” tegas AKBP Rahmad Sujatmiko.
Kapolres mengingatkan bahwa kejujuran dalam administrasi bukan sekadar memenuhi laporan, tetapi menjadi dasar penting dalam proses perawatan, pengadaan, hingga pertanggungjawaban saat dilakukan pemeriksaan. Ia tidak ingin persoalan inventaris justru menjadi hambatan ketika masyarakat membutuhkan kehadiran polisi di lapangan.
Namun perhatian Kapolres tidak berhenti pada urusan logistik. Ia juga menyoroti kesiapan Kompi Siaga Bencana, yang menurutnya harus dibangun melalui kemampuan nyata, bukan hanya formalitas apel siaga.
Setiap personel diwajibkan memahami cara mengoperasikan seluruh peralatan penyelamatan, mulai dari perahu karet, pompa air, alat pemadam api ringan (APAR), hingga gergaji mesin (chainsaw). Latihan rutin menjadi kewajiban agar seluruh anggota mampu bergerak cepat ketika bencana benar-benar terjadi.
“Jangan hanya berbaris saat apel siaga. Personel harus memegang alatnya, mencoba mengoperasikan, mengetahui cara menghidupkan, menggunakan, hingga menyimpannya kembali. Ketika terjadi bencana, seluruh anggota sudah siap bergerak tanpa harus belajar dari awal,” ujarnya.
Penekanan tersebut dinilai sangat relevan mengingat Kabupaten Tanggamus merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, pohon tumbang hingga ancaman bencana di kawasan pesisir.
Untuk mempercepat respons, Kapolres juga menginstruksikan pembagian personel secara terstruktur, mulai dari kompi utama, kompi cadangan hingga personel siaga di Markas Komando (Mako). Dengan pola itu, kekuatan cadangan dapat segera diterjunkan apabila terjadi peningkatan gangguan kamtibmas maupun kondisi darurat akibat bencana.
Di sisi lain, Kapolres turut memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan senjata api inventaris dinas. Ia meminta prosedur penyimpanan, pemeriksaan, hingga penyerahan senjata kepada personel jaga dilakukan secara ketat sesuai standar operasional, dengan pengawasan langsung Kasat Samapta maupun Kapolsek.
Melalui arahan tersebut, AKBP Rahmad Sujatmiko menegaskan bahwa profesionalisme kepolisian tidak hanya diukur dari keberhasilan menangani kasus kriminal, tetapi juga dari kesiapan personel, kelengkapan logistik, dan kemampuan memberikan respons cepat saat masyarakat menghadapi situasi darurat.
“Kesiapan logistik dan sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam mendukung pelaksanaan tugas kepolisian yang optimal serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tandasnya.
(Dok.KN +/Akmaluddin/Tgs)

