Syukur Membuka Pintu Nikmat yang Lebih Besar

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 4 Juli 2026 | Hari 4 Minggu I)

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus kembali mengajak kita mengawali hari dengan hati yang penuh syukur.

Beberapa hari terakhir kita telah belajar menjaga hati, memperbanyak dzikir, dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

Hari ini kita diajak memahami satu amalan yang sering diucapkan, tetapi belum tentu benar-benar dirasakan.

Yaitu bersyukur kepada Allah.

Banyak orang mengira syukur hanya diucapkan ketika mendapatkan rezeki yang besar.

Padahal setiap tarikan napas.

Setiap kesehatan.

Setiap kesempatan untuk beribadah.

Setiap keluarga yang masih berkumpul.

Semuanya adalah nikmat yang pantas disyukuri.

Sering kali manusia lebih sibuk menghitung apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah berikan.

Akibatnya, hati menjadi mudah mengeluh, sulit merasa cukup, dan kehilangan ketenangan.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillāh.

Syukur adalah pengakuan dalam hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan melalui amal yang diridhai-Nya.

Dalil

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.'”

(QS Ibrahim [14]: 7)

Inti Pesan

Janji Allah dalam ayat ini sangat jelas.

Syukur bukan membuat nikmat berkurang.

Justru syukur menjadi sebab Allah menambah nikmat.

Tambahan itu tidak selalu berupa harta.

Bisa berupa kesehatan.

Ketenangan hati.

Keberkahan rezeki.

Keluarga yang harmonis.

Ilmu yang bermanfaat.

Sahabat yang baik.

Atau kekuatan untuk terus beribadah.

Sebaliknya, hati yang terus mengeluh akan sulit merasakan nikmat, meskipun memiliki banyak hal.

Karena ukuran kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki.

Tetapi pada kemampuan hati untuk mensyukuri apa yang telah Allah titipkan.

Kisah Teladan

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah salah satu nabi yang diberikan kerajaan yang sangat besar.

Beliau memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki manusia lain.

Allah menundukkan angin, jin, manusia, dan berbagai nikmat luar biasa kepadanya.

Namun semua itu tidak menjadikan beliau sombong.

Ketika melihat nikmat Allah yang begitu besar, Nabi Sulaiman justru berkata:

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).”

(QS An-Naml [27]: 40)

Beliau menyadari bahwa setiap nikmat bukan sekadar hadiah, tetapi juga ujian.

Apakah nikmat itu akan mendekatkannya kepada Allah atau justru membuatnya lalai.

Karena itulah Nabi Sulaiman selalu memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk bersyukur.

Kisah beliau mengajarkan bahwa semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula kewajiban untuk bersyukur.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Sering kali kita baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.

Kesehatan baru terasa berharga ketika sakit datang.

Waktu bersama orang tua baru terasa mahal ketika mereka telah tiada.

Kesempatan beribadah baru terasa istimewa ketika usia semakin senja.

Orang yang bersyukur tidak menunggu hidup menjadi sempurna.

Ia memilih bersyukur di setiap keadaan.

Karena ia yakin bahwa semua yang Allah tetapkan pasti mengandung hikmah.

Hati yang bersyukur adalah hati yang paling mudah merasakan kebahagiaan.

Kunci

Syukur adalah kunci keberkahan. Semakin seorang hamba mensyukuri nikmat Allah, semakin terbuka pintu-pintu kebaikan yang Allah sediakan baginya.

Baca Juga:

Amal Kecil yang Bisa Menyelamatkan di Akhirat

 

Aksi Hari Ini

Awali hari dengan mengucapkan Alhamdulillāh

Rasakan bahwa setiap napas adalah karunia Allah.

Tuliskan lima nikmat yang Allah berikan hari ini

Agar hati terbiasa melihat karunia, bukan kekurangan.

Gunakan nikmat untuk berbuat kebaikan

Karena syukur yang sejati diwujudkan melalui amal.

Kurangi mengeluh

Gantilah setiap keluhan dengan doa dan rasa syukur.

Berdoalah sebagaimana doa Nabi Sulaiman

Mohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Banyak orang mengejar nikmat yang belum dimiliki, sementara lupa merawat nikmat yang sudah ada. Padahal hati yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia, bahkan di tengah ujian sekalipun.

Penutup

Jika hari ini engkau masih bisa membuka mata,

bersyukurlah.

Jika hari ini engkau masih bisa bersujud,

bersyukurlah.

Jika hari ini keluargamu masih dapat berkumpul,

bersyukurlah.

Jika hari ini Allah masih memberimu kesempatan memperbaiki diri,

itulah nikmat yang sangat besar.

Jangan hanya mengingat Allah ketika kehilangan.

Ingatlah Allah ketika masih memiliki.

Karena syukur bukan hanya membuat hati lebih tenang.

Syukur juga mengundang keberkahan yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur, menjaga setiap nikmat dengan ketaatan, dan menggunakan seluruh karunia-Nya untuk meraih ridha-Nya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *