Kematian Tidak Pernah Menunggu Kita Siap

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 26 Juni 2026 | Hari 26 Minggu IV)

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus mengajak kita melanjutkan renungan tentang perjalanan hidup yang sedang kita jalani.

Kemarin kita belajar bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir. Hari ini kita akan membahas sebuah kenyataan yang pasti datang kepada setiap manusia, namun sering dihindari untuk dipikirkan.

Yaitu kematian.

Banyak orang siap merencanakan masa depan.

Siap menyiapkan pendidikan.

Siap membangun usaha.

Siap mengejar cita-cita.

Namun sedikit yang benar-benar mempersiapkan diri untuk kematian.

Padahal kematian adalah satu-satunya kepastian yang dimiliki setiap manusia.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Manusia sering berkata:

“Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.”

“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan lebih dekat kepada Allah.”

“Nanti kalau urusan dunia sudah beres saya akan fokus pada akhirat.”

Padahal kematian tidak pernah menunggu semua rencana itu selesai.

Dalil

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

(QS Ali ‘Imran [3]: 185)

Inti Pesan

Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari kematian.

Tidak ada jabatan yang mampu menolaknya.

Tidak ada kekayaan yang mampu membelinya.

Tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkannya.

Kematian datang kepada orang kaya maupun miskin.

Datang kepada orang tua maupun muda.

Datang kepada yang sehat maupun yang sakit.

Datang kepada siapa saja sesuai waktu yang telah Allah tetapkan.

Masalahnya bukan apakah kita akan mati atau tidak.

Karena jawabannya sudah pasti.

Masalah sebenarnya adalah:

Dalam keadaan bagaimana kita akan menghadap Allah?

Banyak manusia hidup seolah kematian masih sangat jauh.

Padahal setiap hari umur terus berkurang.

Setiap hari kita semakin dekat dengan akhir perjalanan.

Mengingat kematian bukan untuk membuat hidup menjadi suram.

Bukan untuk membuat seseorang kehilangan semangat.

Justru sebaliknya.

Mengingat kematian membuat manusia lebih menghargai waktu.

Lebih menghargai ibadah.

Lebih menghargai kesempatan berbuat baik.

Lebih berhati-hati dalam berbuat dosa.

Karena ia sadar bahwa hidup ini tidak berlangsung selamanya.

Para ulama terdahulu menjadikan ingatan tentang kematian sebagai sarana memperbaiki hati.

Saat muncul kesombongan, mereka mengingat kematian.

Saat muncul kecintaan berlebihan terhadap dunia, mereka mengingat kematian.

Saat muncul keinginan menunda taubat, mereka mengingat kematian.

Karena kematian mampu mengembalikan manusia kepada kenyataan yang sesungguhnya.

Hari ini mungkin kita masih memiliki kesempatan.

Masih bisa memperbaiki kesalahan.

Masih bisa meminta maaf.

Masih bisa bertaubat.

Masih bisa beramal.

Namun tidak ada yang tahu sampai kapan kesempatan itu tersedia.

Kunci

Orang yang bijak bukanlah yang selalu mengingat berapa lama ia akan hidup, tetapi yang selalu mempersiapkan diri jika hari ini adalah hari terakhirnya.

Baca Juga:

Jangan Menunggu Tua untuk Menjadi Baik

 

Aksi Hari Ini

Perbanyak mengingat akhirat

Agar hati tidak terlalu terikat pada dunia.

Perbaiki ibadah yang masih sering dilalaikan

Karena kita tidak tahu kapan kesempatan berakhir.

Selesaikan kesalahan yang masih bisa diperbaiki

Jangan menunggu waktu yang belum tentu datang.

Perbanyak istighfar dan taubat

Karena Allah masih membuka pintu ampunan.

Lakukan kebaikan hari ini juga

Jangan menunda amal yang mampu dilakukan sekarang.

Banyak orang takut membicarakan kematian. Padahal yang lebih berbahaya adalah hidup tanpa mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karena kematian bukanlah akhir dari perjalanan manusia, melainkan awal dari kehidupan yang sesungguhnya.

Penutup

Jika hari ini Allah masih memberi kita umur,

maka gunakanlah dengan baik.

Jika hari ini Allah masih memberi kesempatan,

maka manfaatkanlah dengan sungguh-sungguh.

Jangan menunggu waktu yang dianggap sempurna.

Jangan menunggu usia yang dianggap cukup tua.

Jangan menunggu keadaan yang dianggap ideal.

Karena kematian tidak pernah menunggu kita siap.

Kematian datang sesuai ketetapan Allah.

Dan ketika saat itu tiba,

yang akan menemani bukan harta.

Bukan jabatan.

Bukan popularitas.

Melainkan iman dan amal yang telah kita persiapkan.

Maka sebelum waktu itu datang,

perbaikilah hubungan dengan Allah.

Perbaikilah hubungan dengan sesama.

Dan perbaikilah diri kita selagi kesempatan masih ada.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *