Dunia Hanya Tempat Singgah, Bukan Tujuan Akhir

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 25 Juni 2026 | Hari 25 Minggu IV)

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus mengajak kita melanjutkan perjalanan renungan di penghujung bulan Juni.

Kemarin kita belajar bahwa amal kecil dapat menjadi bekal besar di akhirat. Hari ini kita akan merenungkan hakikat kehidupan yang sering membuat manusia terlena.

Yaitu kehidupan dunia.

Tidak sedikit manusia yang menghabiskan seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya hanya untuk urusan dunia.

Mengejar harta.

Mengejar jabatan.

Mengejar popularitas.

Mengejar pengakuan manusia.

Padahal semua itu pada akhirnya akan ditinggalkan.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Dunia memang penting.

Islam tidak melarang manusia bekerja, berusaha, dan mencari kehidupan yang baik.

Namun Islam mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan utama hidup.

Karena dunia hanyalah tempat singgah.

Sedangkan tujuan akhirnya adalah akhirat.

Dalil

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

(QS Ali ‘Imran [3]: 185)

Inti Pesan

Bayangkan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh.

Di tengah perjalanan ia singgah sejenak di sebuah tempat peristirahatan.

Tempat itu nyaman.

Makanannya tersedia.

Pemandangannya indah.

Namun ia tahu bahwa itu bukan tujuan akhirnya.

Karena itu, ia tidak akan membangun rumah permanen di tempat persinggahan tersebut.

Ia akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang sebenarnya.

Begitulah kehidupan dunia.

Kita berada di sini hanya sementara.

Tidak ada manusia yang tinggal selamanya.

Tidak ada kekayaan yang dibawa ke alam kubur.

Tidak ada jabatan yang terus menemani setelah kematian.

Tidak ada kemegahan dunia yang bertahan selamanya.

Semua akan ditinggalkan.

Yang tersisa hanyalah amal.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin hidup di dunia seperti seorang musafir.

Artinya, menggunakan dunia seperlunya tanpa menjadikan dunia sebagai pusat kehidupannya.

Masalahnya, banyak manusia terbalik dalam memandang kehidupan.

Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Sementara akhirat hanya menjadi perhatian tambahan.

Akibatnya, hati mudah gelisah.

Mudah kecewa.

Mudah iri kepada orang lain.

Karena ukuran kebahagiaan hanya dilihat dari urusan dunia.

Padahal kebahagiaan sejati lahir ketika dunia berada di tangan, bukan di hati.

Kita boleh memiliki harta.

Tetapi jangan sampai harta memiliki kita.

Kita boleh mengejar kesuksesan.

Tetapi jangan sampai melupakan Allah.

Kita boleh menikmati nikmat dunia.

Tetapi jangan sampai lupa bahwa semua itu hanya sementara.

Hari ini apa yang kita banggakan bisa saja hilang.

Apa yang kita miliki bisa saja berpindah.

Dan apa yang kita kejar bisa saja berakhir.

Karena dunia memang bukan tempat tinggal yang abadi.

Kunci

Gunakan dunia sebagai sarana menuju akhirat, jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan.

Baca Juga:

Hati yang Kotor: Awal dari Jauh dan Dekatnya Kita kepada Allah

 

Aksi Hari Ini

Evaluasi apa yang paling banyak memenuhi hati

Apakah Allah ataukah urusan dunia semata.

Syukuri nikmat dunia yang dimiliki

Tanpa menjadikannya sumber kebahagiaan utama.

Perbanyak amal untuk akhirat

Karena itulah bekal yang akan menemani selamanya.

Kurangi membandingkan diri dengan orang lain

Agar hati lebih tenang dan bersyukur.

Ingat bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan

Yang suatu saat akan kembali kepada Allah.

Banyak manusia bekerja keras untuk kehidupan yang hanya berlangsung beberapa puluh tahun. Namun sering lupa mempersiapkan kehidupan akhirat yang tidak akan pernah berakhir. Padahal orang yang paling cerdas adalah orang yang mampu menyeimbangkan keduanya.

Penutup

Jika hari ini engkau memiliki harta,

bersyukurlah.

Jika hari ini engkau memiliki jabatan,

bersyukurlah.

Jika hari ini engkau memiliki berbagai nikmat dunia,

bersyukurlah.

Tetapi jangan gantungkan hatimu kepada semuanya.

Karena semua itu hanya titipan.

Dan suatu hari nanti akan ditinggalkan.

Ingatlah,

dunia hanyalah tempat singgah.

Bukan tujuan akhir.

Maka jangan habiskan seluruh hidup hanya untuk mengejar apa yang akan ditinggalkan.

Gunakan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah.

Gunakan dunia sebagai ladang amal.

Gunakan dunia sebagai kesempatan mempersiapkan akhirat.

Karena perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai setelah kehidupan ini berakhir.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *