
Iri dan Dengki: Penyakit Hati yang Menghancurkan Tanpa Disadari
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan menguatkan iman, karena banyak kerusakan dalam hidup bukan karena kekurangan, tetapi karena hati yang tidak mampu menerima kelebihan orang lain.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”
(QS An-Nisa [4]: 32)
Inti Pesan
Iri dan dengki sering kali tidak disadari. Ia muncul halus—melihat orang lain berhasil, lalu hati terasa sempit. Melihat orang lain bahagia, tetapi diri sendiri sulit menerima.
Inilah penyakit hati yang berbahaya, karena tidak terlihat, tetapi perlahan merusak.
Iri membuat kita tidak tenang. Dengki membuat kita sulit bersyukur. Bahkan tanpa disadari, kita bisa berharap nikmat orang lain hilang.
Baca Juga:
Sombong yang Tersembunyi: Saat Hati Merasa Lebih Baik dari Orang Lain
Padahal setiap rezeki sudah diatur. Apa yang dimiliki orang lain bukan ancaman, tetapi bagian dari ketetapan Allah.
Jika hati tidak dijaga, iri dan dengki akan terus tumbuh—menghancurkan ketenangan, merusak hubungan, dan melemahkan iman.
Aksi Hari Ini
Lawan iri dan dengki dengan kesadaran:
- Latih diri untuk bersyukur
Fokus pada apa yang dimiliki, bukan pada apa yang dimiliki orang lain. - Doakan kebaikan untuk orang lain
Ini cara paling kuat untuk menghancurkan rasa iri dalam hati. - Batasi membandingkan diri
Tidak semua yang terlihat adalah kenyataan yang sebenarnya.
Kunci: syukur adalah penawar iri dan dengki.
Ketika seseorang benar-benar bersyukur, ia tidak lagi sibuk melihat ke atas, tetapi fokus memperbaiki apa yang ada dalam dirinya. Ia sadar bahwa setiap orang memiliki ujian dan rezekinya masing-masing. Dari rasa syukur lahir ketenangan, dari ketenangan lahir penerimaan, dan dari penerimaan lahir hati yang lapang. Di titik ini, iri tidak punya ruang untuk tumbuh, karena hati sudah penuh dengan rasa cukup dan percaya pada ketetapan Allah.
Penutup
Iri dan dengki tidak akan menambah apa pun, selain kegelisahan dalam hidup.
Bersyukurlah, maka hati akan tenang.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

