Ada Apa di Balik Seleksi Paskibra Jati Agung?” Camat Bungkam, Dugaan Ketidakadilan Mencuat!

JATI AGUNG — Kabar Negeri Plus-Seleksi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, yang seharusnya menjadi ajang menjaring putra-putri terbaik bangsa, justru diterpa polemik serius.

Dugaan ketidakterbukaan hingga praktik yang dinilai tidak adil memicu gelombang kritik dari kalangan sekolah.

Panitia seleksi mengklaim seluruh tahapan Paskibra 2026 telah berjalan sesuai petunjuk teknis (juknis), termasuk telah mengantongi rekomendasi dari Camat Jati Agung, Rizwan Efendi.

Namun, saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan WhatsApp, camat tak memberikan respons hingga berita ini diturunkan.

Undangan Seleksi Dipertanyakan, Sekolah Merasa Dikesampingkan
Sorotan keras datang dari salah satu kepala sekolah di Kecamatan Jati Agung.

Ia mengungkap adanya kejanggalan dalam proses seleksi, khususnya terkait distribusi undangan yang dinilai tidak merata.

“Seharusnya undangan seleksi ini terbuka untuk seluruh SMA/SMK se-Kecamatan Jati Agung. Tapi faktanya, hanya satu sekolah yang dilibatkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa undangan seleksi sebenarnya telah dikirim oleh Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lampung Selatan ke pihak kecamatan.

. Namun, informasi tersebut diduga tidak diteruskan kepada seluruh sekolah.
“Kalau undangan sudah sampai di kecamatan, kenapa tidak disampaikan ke semua sekolah? Ini yang jadi pertanyaan besar,” tambahnya.

Kesbangpol Klaim Prosedur Sudah Dijalankan.

Pihak Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lampung Selatan disebut telah menjalankan seluruh tahapan sesuai prosedur, mulai dari rapat persiapan hingga penerbitan surat rekomendasi yang diklaim telah berada di tangan camat.

Namun, kondisi di lapangan justru memperlihatkan ketimpangan dalam pelaksanaan teknis.

Hal ini memunculkan dugaan adanya miskomunikasi atau kelalaian di tingkat kecamatan yang berdampak langsung pada kesempatan siswa.

“Ini Merugikan Siswa!” Desakan Seleksi Ulang Menguat.

Kepala sekolah tersebut menyayangkan situasi ini dan mendesak agar proses seleksi diulang demi menjamin keadilan.

“Anak-anak kami kehilangan kesempatan untuk ikut seleksi. Ini sama saja mereka kalah sebelum bertanding,” tegasnya.

Menurutnya, seleksi Paskibra bukan sekadar agenda seremonial, tetapi momentum penting bagi siswa untuk berprestasi hingga tingkat nasional.

Transparansi Dipertanyakan, Publik Menanti Klarifikasi.

Seleksi Paskibra tingkat kecamatan merupakan tahap awal sebelum peserta terbaik melaju ke tingkat kabupaten.

Dalam juknis, peserta wajib memenuhi berbagai syarat, mulai dari fisik, kesehatan, akademik, hingga rekomendasi resmi dari sekolah dan kecamatan.

Meski panitia menyatakan proses berjalan transparan dan akuntabel, fakta di lapangan justru memunculkan keraguan.

Hingga kini, publik masih menunggu klarifikasi dari pihak kecamatan. Sementara itu, hasil seleksi disebut akan diumumkan oleh pihak kecamatan bersama Purna Paskibraka Indonesia.

Polemik ini belum berakhir—dan pertanyaan besarnya masih menggantung: apakah seleksi ini benar-benar adil, atau ada yang sengaja ditutup-tutupi?

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *