
Waktu Selalu Ada: Masalahnya Kita yang Tidak Mengaturnya
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 2 Mei 2026)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kesadaran yang sering kita abaikan: waktu tidak pernah berkurang, tetapi sering kita habiskan tanpa arah yang jelas.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS Al-‘Asr [103]: 1–2)
Inti Pesan
Kita sering berkata: tidak sempat.
Padahal waktu tidak pernah berubah—tetap 24 jam, tidak kurang, tidak lebih.
Yang berbeda bukan jumlah waktunya, tetapi bagaimana kita menggunakannya.
Anehya, kita bisa berjam-jam untuk hal yang tidak penting.
Scrolling tanpa tujuan.
Ngobrol tanpa arah.
Menunda tanpa alasan jelas.
Namun ketika masuk waktu ibadah, kita merasa waktu sempit.
Ini bukan masalah waktu.
Ini masalah prioritas.
Karena pada kenyataannya, kita selalu punya waktu untuk apa yang kita anggap penting.
Baca Juga:
Waktu Terus Berjalan: Kita yang Mendekat ke Akhir, Bukan Sekadar Hari yang Berlalu
Aksi Hari Ini
Mulai mengatur waktu dengan sadar dan terarah:
- Buat jadwal ibadah harian sederhana
Contoh: tetapkan waktu tetap untuk salat tepat waktu, tilawah minimal 1 halaman setelah Subuh, dan dzikir pagi sebelum memulai aktivitas. Jangan menunggu “kalau sempat”, tapi jadikan bagian dari rutinitas. - Kurangi aktivitas yang tidak bernilai
Contoh: batasi penggunaan media sosial (misalnya maksimal 30–60 menit sehari), hindari kebiasaan scroll tanpa tujuan, dan ganti dengan aktivitas yang lebih bermanfaat seperti membaca atau berdzikir ringan. - Gunakan sela waktu untuk amal kecil
Contoh: saat menunggu, di perjalanan, atau jeda kerja—isi dengan istighfar, shalawat, atau membaca ayat pendek. Waktu kecil yang sering terbuang bisa jadi bernilai besar. - Prioritaskan yang berdampak akhirat
Jangan semua waktu habis untuk dunia. Sisihkan secara sadar waktu untuk mendekat kepada Allah, karena itu yang akan kita bawa.
Banyak orang merasa waktunya habis, padahal yang habis bukan waktunya, tapi kesempatannya. Waktu tetap berjalan, tetapi jika tidak diisi dengan benar, ia akan hilang tanpa makna. Di sinilah pentingnya kesadaran—bahwa setiap detik bisa bernilai, atau justru terbuang sia-sia.
Kunci: yang tidak diatur, pasti berantakan.
Waktu yang tidak diarahkan akan mengikuti kebiasaan, dan kebiasaan yang tidak dijaga akan membawa pada kelalaian. Karena itu, mengatur waktu bukan sekadar soal disiplin, tetapi bagian dari menjaga hidup agar tidak habis tanpa nilai.
Penutup
Jangan salahkan waktu yang tidak pernah kurang.
Perbaiki cara kita menggunakannya, sebelum waktu habis tanpa makna.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

