Marsinah Tak Pernah Diam!” — Simbol Perlawanan Buruh Kini Kembali Menggema, Kabar Negeri Plus: Ketidakadilan Masih Jadi Musuh Bersama.

Kabar Negeri Plus | Nasional — Nama Marsinah kembali menggema di tengah meningkatnya sorotan terhadap nasib kaum pekerja di Indonesia. Puluhan tahun setelah kematiannya yang tragis, Marsinah masih dianggap sebagai simbol keberanian rakyat kecil melawan ketidakadilan dan tekanan kekuasaan.

Perempuan buruh pabrik asal Jawa Timur itu dikenang bukan hanya karena akhir hidupnya yang memilukan, tetapi juga karena keberaniannya memperjuangkan hak-hak pekerja di masa ketika suara buruh kerap dibungkam.

Marsinah dikenal sebagai sosok yang lantang menyuarakan tuntutan kesejahteraan pekerja dan menolak perlakuan tidak adil terhadap buruh. Namun perjuangan itu harus dibayar mahal. Pada tahun 1993, ia ditemukan meninggal dunia setelah aktif memperjuangkan hak-hak pekerja dan mempertanyakan tekanan terhadap rekan-rekan buruh usai aksi mogok kerja.

Kasus tersebut hingga kini masih menjadi catatan kelam dalam sejarah perjuangan buruh di Indonesia.

Di berbagai momentum peringatan Hari Buruh Internasional, foto dan nama Marsinah masih kerap dibawa dalam aksi-aksi massa. Bagi kalangan aktivis dan kaum pekerja, Marsinah bukan sekadar sejarah, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang dinilai masih terus terjadi hingga hari ini.

Partai Buruh menjadi salah satu kekuatan politik yang kerap mengangkat semangat perjuangan Marsinah dalam berbagai gerakan sosial dan perjuangan hak pekerja. Isu upah layak, penghapusan outsourcing, perlindungan buruh perempuan, hingga jaminan sosial dinilai menjadi bagian dari perjuangan yang dahulu diperjuangkan Marsinah.

Wakil Direktur Media Kabar Negeri Plus, Djakfar Siddik, menilai bahwa perjuangan Marsinah hingga kini masih sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat pekerja di Indonesia.

“Perjuangan Marsinah merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Apa yang diperjuangkan beliau dahulu sesungguhnya masih dirasakan sebagian kaum pekerja hari ini. Karena itu, semangat Marsinah tidak boleh dilupakan,” ujar Djakfar Siddik kepada Kabar Negeri Plus.

Menurutnya, keberanian Marsinah menjadi pengingat bahwa suara rakyat kecil tidak boleh dipandang remeh. Ia menilai, perjuangan buruh bukan semata soal upah, melainkan juga menyangkut martabat manusia dan hak memperoleh perlakuan yang adil.

“Marsinah telah menunjukkan bahwa keberanian bisa lahir dari rakyat biasa. Ia menjadi simbol bahwa ketidakadilan harus dilawan, bukan didiamkan,” tambahnya.

Djakfar juga berharap generasi muda, khususnya kaum pekerja, dapat memahami sejarah perjuangan buruh di Indonesia agar tidak mudah melupakan pentingnya solidaritas sosial dan keadilan bagi seluruh pekerja.

Di tengah perubahan dunia kerja modern, gelombang PHK, hingga persoalan kesejahteraan pekerja yang masih menjadi sorotan, nama Marsinah kembali menjadi pengingat bahwa perjuangan keadilan sosial belum selesai.

Dan selama masih ada ketimpangan serta suara rakyat kecil yang belum didengar, nama Marsinah diyakini akan terus hidup dalam denyut perjuangan kaum buruh Indonesia.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *