
Istiqamah Itu Sepi: Mengapa Bertahan di Jalan Baik Terasa Sendiri?
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 13 Mei 2026)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kenyataan yang sering tidak diucapkan: menjaga kebaikan itu tidak selalu ramai, bahkan sering kali terasa sendiri.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau (di jalan yang benar) sebagaimana diperintahkan.”
(QS Hud [11]: 112)
Inti Pesan
Memulai kebaikan itu tidak terlalu sulit.
Yang sulit adalah bertahan.
Karena saat kita mulai berubah,
tidak semua orang ikut berubah.
Saat kita mulai menjaga diri,
tidak semua lingkungan mendukung.
Saat kita mulai serius dengan ibadah,
tidak semua akan memahami.
Dan di situlah rasa sepi muncul.
Bukan karena tidak ada orang,
tetapi karena tidak banyak yang berjalan di arah yang sama.
Namun justru di situlah nilai istiqamah.
Bertahan, meski tidak banyak yang melihat.
Tetap berjalan, meski tidak ada yang menemani.
Baca Juga:
Tetap Dekat di Tengah Sibuk: Inilah Tanda Iman yang Sebenarnya
Aksi Hari Ini
Bangun kekuatan bertahan, bukan sekadar semangat awal:
- Terima bahwa jalan baik tidak selalu ramai
Jangan ukur kebenaran dari jumlah orang yang melakukannya. - Kurangi kebutuhan untuk selalu dimengerti
Tidak semua orang akan paham perubahan kita, dan itu tidak masalah. - Fokus pada tujuan, bukan suasana
Kita berjalan bukan untuk dilihat, tetapi untuk sampai. - Cari satu lingkungan pendukung, meski kecil
Tidak perlu banyak, cukup satu atau dua yang sejalan. - Perkuat hubungan dengan Allah, bukan dengan validasi manusia
Karena saat manusia tidak ada, Allah tetap melihat.
Banyak orang berhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa sendiri. Padahal jalan yang benar memang tidak selalu penuh. Dari situlah terlihat siapa yang benar-benar ingin sampai, dan siapa yang hanya ikut suasana.
Kunci: istiqamah itu bukan tentang ramai, tetapi tentang bertahan.
Ketika seseorang tetap berjalan meski sendiri, di situlah iman diuji pada level yang lebih dalam. Karena yang membuat kita bertahan bukan lagi dukungan luar, tetapi keyakinan dalam.
Penutup
Tidak apa-apa jika terasa sepi.
Selama arah kita benar, kita tidak benar-benar sendiri.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

