VIRAL! SOPIR TRUK MENGAMUK DI SPBU, TUDING SOLAR ‘RAIB’ SAAT ANTRE, BERUJUNG DUGAAN PEMUKULAN

KABAR NEGERI PLUS | PAREPARE

Suasana di sebuah SPBU di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, mendadak berubah ricuh. Seorang sopir truk bernama Ardi meluapkan kemarahannya setelah mengaku gagal memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar meski telah lama mengantre. Insiden tersebut semakin memanas ketika upayanya merekam kejadian sebagai bukti justru berujung dugaan aksi kekerasan oleh oknum operator SPBU.

Menurut Ardi, dirinya merasa telah dirugikan karena solar yang ditunggu-tunggu tiba-tiba dinyatakan habis saat tiba gilirannya mengisi BBM. Ia menduga terjadi ketidakberesan dalam proses pelayanan sehingga memicu protes keras di lokasi.

Untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut, Ardi kemudian merekam situasi menggunakan telepon genggam. Namun, tindakan itu disebut memicu emosi salah seorang operator SPBU yang diduga tidak terima direkam.

“Karena marah dia divideo, jadi sempat dia pukul itu keponakanku. Kena di belakang sini,” ujar Ardi.

Tak hanya menuding terjadi pemukulan terhadap keponakannya, Ardi juga mengaku operator SPBU melontarkan kata-kata kasar dan makian di hadapan masyarakat yang sedang mengantre. Insiden itu pun menjadi perhatian warga yang berada di lokasi.

Di sisi lain, pihak operator SPBU membantah adanya kecurangan dalam penyaluran solar. Operator bernama Umi Suardi menjelaskan, kejadian bermula ketika seorang pengemudi kendaraan menanyakan apakah masih bisa mendapatkan solar.

Menurut Umi, dirinya telah memberikan jawaban bahwa ketersediaan solar belum bisa dipastikan.

“Dia pergi tanya, dibilang ‘Dek, ada jigah saya dapat?’. Saya bilang ‘Kak, ya insyaallah ada jiga kayaknya. Tapi tidak ku janji dibilang ada jiga kita dapat’,” jelasnya.

Umi menuturkan, saat kendaraan tersebut tiba di depan nosel untuk mengisi BBM, stok solar ternyata telah habis sehingga petugas tidak dapat lagi melayani pengisian.

Ia juga menjelaskan adanya kendaraan yang melakukan pengisian pada sore hari merupakan armada perusahaan rekanan yang telah terdaftar sebagai pelanggan resmi SPBU. Kendaraan tersebut, kata dia, melayani distribusi logistik dan LPG sehingga memiliki mekanisme pelayanan yang berbeda sesuai ketentuan yang berlaku.

Peristiwa ini memunculkan sorotan publik terkait transparansi distribusi BBM bersubsidi dan pelayanan di SPBU. Selain dugaan kecurangan dalam antrean, tudingan adanya tindakan kekerasan terhadap warga juga diharapkan dapat diusut secara objektif oleh pihak berwenang.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari aparat kepolisian mengenai tindak lanjut atas dugaan pemukulan maupun laporan terkait insiden yang terjadi di SPBU tersebut. Publik kini menanti hasil penyelidikan agar fakta sebenarnya dapat terungkap dan tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *