
Al-Qur’an yang Mulai Ditinggalkan: Tanda Hati Mulai Jauh
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan menguatkan iman, karena kedekatan dengan Al-Qur’an adalah tanda hidupnya hati dan arah kehidupan seorang Muslim.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”
(QS Al-Furqan [25]: 30)
Inti Pesan
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca, tetapi petunjuk hidup yang seharusnya selalu dekat dengan kita. Namun kenyataannya, banyak yang perlahan menjauh.
Bukan karena tidak mampu membaca, tetapi karena mulai kehilangan kebiasaan.
Hari demi hari berlalu tanpa tilawah. Waktu lebih banyak habis untuk hal lain, sementara Al-Qur’an dibiarkan diam.
Inilah tanda yang sering tidak disadari: hati mulai jauh.
Ketika Al-Qur’an ditinggalkan, arah hidup menjadi kabur. Sebaliknya, ketika Al-Qur’an dijaga, hati akan tetap hidup, tenang, dan terarah.
Baca Juga:
Salat Subuh: Ujian Iman yang Paling Nyata Setiap Hari
Aksi Hari Ini
Dekatkan kembali diri dengan Al-Qur’an secara nyata:
- Baca minimal 1 halaman setiap hari
Tidak harus banyak, yang penting konsisten agar hati tetap terhubung dengan petunjuk Allah. - Tentukan waktu khusus setelah Subuh
Waktu pagi adalah saat terbaik untuk membangun kebiasaan tilawah. - Renungkan maknanya walau singkat
Tidak hanya membaca, tetapi berusaha memahami agar Al-Qur’an hadir dalam kehidupan.
Kunci: jangan tunggu sempat, tetapi luangkan waktu.
Penutup
Al-Qur’an tidak akan menjauh, tetapi kita yang sering menjauh darinya.
Kembalilah, maka hati akan kembali hidup.
Sebab ketika Al-Qur’an kembali hadir dalam keseharian, ia tidak hanya dibaca, tetapi menuntun arah hidup, menenangkan kegelisahan, dan memperbaiki cara kita memandang dunia. Ia menjadi cahaya di tengah kebingungan dan penyejuk di tengah kerasnya kehidupan. Maka jangan tunggu hati benar-benar kering untuk kembali, karena setiap langkah mendekat kepada Al-Qur’an adalah langkah menuju hidup yang lebih tenang, lebih terarah, dan lebih bermakna.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

