Jangan Sampai Kita Menjadi Orang yang Merugi

 

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 28 Juli 2026 | Hari 28 Minggu IV)

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus kembali mengajak kita mengawali pagi dengan sebuah renungan yang sederhana, tetapi sangat menentukan nasib kita di dunia dan akhirat.

Tidak ada manusia yang ingin merugi.

Setiap orang ingin memperoleh keuntungan.

Dalam berdagang.

Dalam bekerja.

Dalam berusaha.

Dalam kehidupan.

Namun ada satu kerugian yang jauh lebih besar daripada kehilangan harta.

Lebih besar daripada kehilangan jabatan.

Lebih besar daripada kehilangan kesempatan dunia.

Yaitu ketika seseorang kehilangan waktunya tanpa mendekatkannya kepada Allah.

Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Uang yang hilang masih bisa dicari.

Rumah yang rusak masih bisa dibangun.

Usaha yang gagal masih bisa dimulai kembali.

Tetapi satu hari yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulang.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā.

Waktu adalah modal terbesar yang Allah titipkan kepada setiap manusia.

Siapa yang menggunakannya untuk ketaatan, ia beruntung.

Siapa yang menyia-nyiakannya, dialah orang yang sesungguhnya merugi.

Dalil

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

(QS Al-‘Ashr [103]: 1–3)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

(HR. Al-Bukhari)

Inti Pesan

Surah Al-‘Ashr adalah salah satu surah terpendek dalam Al-Qur’an.

Namun para ulama mengatakan bahwa seandainya manusia benar-benar merenungkan kandungannya, niscaya surah itu telah cukup menjadi pedoman hidup.

Allah bersumpah dengan waktu.

Ini menunjukkan bahwa waktu memiliki kedudukan yang sangat agung.

Kerugian terbesar bukanlah miskin.

Bukan pula gagal dalam urusan dunia.

Kerugian terbesar adalah ketika umur habis, tetapi iman tidak bertambah.

Ilmu tidak bertambah.

Amal tidak bertambah.

Akhlak tidak membaik.

Dan hubungan dengan Allah semakin jauh.

Orang yang cerdas bukanlah yang paling sibuk.

Tetapi yang paling pandai mengubah waktunya menjadi pahala.

Kisah Teladan

Salah satu teladan terbaik dalam menjaga waktu adalah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Beliau dikenal sangat menghargai setiap detik kehidupannya.

Waktunya dipenuhi dengan belajar, mengajar, menulis, beribadah, dan berdzikir.

Beliau pernah memberikan nasihat yang sangat terkenal:

“Waktu itu bagaikan pedang. Jika engkau tidak menggunakannya untuk memotong, maka ia akan memotongmu.”

Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata bijak.

Melainkan gambaran bahwa waktu akan terus berjalan.

Jika kita tidak mengisinya dengan kebaikan, maka waktu itu sendiri akan menjadi saksi atas kelalaian kita di hadapan Allah.

Karena itulah Imam Asy-Syafi’i mampu meninggalkan warisan ilmu yang terus dipelajari hingga hari ini.

Beliau memanfaatkan umur dengan penuh keberkahan.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Hari ini cobalah melihat kembali bagaimana waktu kita digunakan.

Berapa lama untuk bekerja.

Berapa lama untuk media sosial.

Berapa lama untuk hiburan.

Dan berapa lama untuk Al-Qur’an.

Untuk salat sunnah.

Untuk berdzikir.

Untuk keluarga.

Untuk membantu sesama.

Jangan sampai aktivitas dunia menghabiskan seluruh umur kita.

Sementara bekal akhirat terus berkurang.

Kunci

Setiap hari adalah lembaran baru yang tidak akan pernah kembali. Orang yang beruntung adalah yang mengisinya dengan iman, ilmu, amal saleh, dan manfaat bagi sesama.

Baca Juga:

Surga Tidak Dicapai dengan Angan-Angan, Tetapi dengan Amal

 

Aksi Hari Ini

Susun kembali prioritas waktumu

Dahulukan apa yang mendekatkan kepada Allah.

Kurangi waktu untuk hal yang tidak bermanfaat

Gunakan waktumu untuk sesuatu yang bernilai ibadah.

Luangkan waktu membaca Al-Qur’an setiap hari

Walaupun hanya beberapa ayat.

Jadikan setiap aktivitas bernilai ibadah

Luruskan niat dalam bekerja, belajar, dan melayani keluarga.

Muhasabah sebelum tidur

Tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah hari ini waktuku lebih banyak menghasilkan pahala atau justru terbuang sia-sia?”

Setiap matahari yang terbenam membawa satu hari dari umur kita. Pertanyaannya bukan berapa banyak waktu yang telah berlalu, tetapi seberapa banyak waktu itu telah kita ubah menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.

Penutup

Jika hari ini Allah masih memberimu waktu,

jangan sia-siakan.

Jika hari ini engkau masih mampu berdiri,

gunakan untuk salat.

Jika hari ini engkau masih mampu berpikir,

gunakan untuk mencari ilmu.

Jika hari ini engkau masih mampu berbicara,

gunakan untuk berdzikir dan menenangkan hati orang lain.

Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa banyak lembaran umur yang masih tersisa.

Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i rahimahullah memanfaatkan setiap detik kehidupannya untuk ilmu dan ibadah, demikian pula marilah kita menjadikan waktu sebagai ladang amal yang akan kita panen di akhirat.

Jangan sampai ketika waktu telah habis.

Barulah kita menyadari bahwa kesempatan itu tidak akan pernah kembali.

Semoga Allah menjadikan waktu yang kita miliki penuh keberkahan, melindungi kita dari kelalaian, memudahkan kita mengisi hari-hari dengan amal saleh, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *