
MPLS DIMULAI, JANGAN BIARKAN SEKOLAH MENJADI TEMPAT INTIMIDASI! Direktur Kabar Negeri Plus Ingatkan: Tak Ada Ruang untuk Perpeloncoan Berkedok Tradisi
KABAR NEGERI PLUS – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran Baru segera dimulai. Ribuan siswa baru tingkat SMP hingga SMA/SMK akan memasuki gerbang sekolah dengan harapan, semangat, sekaligus rasa gugup menghadapi lingkungan yang benar-benar baru.
Namun di balik momen yang seharusnya menjadi awal perjalanan pendidikan yang menyenangkan, masih tersimpan kekhawatiran akan munculnya praktik perpeloncoan, intimidasi, hingga tindakan yang merendahkan martabat peserta didik dengan dalih “tradisi senior”.
Direktur Kabar Negeri Plus, Dang Yuli Fransyah, berharap seluruh rangkaian MPLS tahun ini dapat berlangsung secara edukatif, humanis, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan. Ia menegaskan, tidak boleh ada lagi tindakan yang mengarah pada pembulian oleh kakak kelas terhadap peserta didik baru.
“Jadikan MPLS sebagai ruang untuk mengenalkan budaya sekolah yang positif, bukan ajang menunjukkan kekuasaan senior kepada junior. Tidak boleh ada pembulian, intimidasi, ataupun perlakuan yang membuat siswa baru merasa takut datang ke sekolah,” tegas Dang Yuli Fransyah.
Menurutnya, sekolah adalah tempat membangun karakter, bukan tempat melanggengkan budaya yang dapat meninggalkan luka psikologis bagi peserta didik. Tradisi yang mengandung unsur penghinaan, hukuman tidak mendidik, maupun tekanan mental sudah seharusnya ditinggalkan.
Dang Yuli Fransyah juga mengajak seluruh kepala sekolah, guru, panitia MPLS, orang tua, hingga siswa senior untuk bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pengawasan selama pelaksanaan MPLS harus diperketat agar tidak ada celah bagi oknum yang mencoba melakukan tindakan di luar ketentuan.
“MPLS adalah pintu pertama siswa mengenal sekolahnya. Kesan pertama itu akan menentukan semangat belajar mereka ke depan. Jangan sampai hari pertama justru menjadi pengalaman traumatis yang membekas seumur hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan MPLS tidak diukur dari kerasnya disiplin atau banyaknya aktivitas fisik yang dijalani siswa baru, melainkan dari seberapa baik sekolah mampu menanamkan nilai integritas, kedisiplinan, toleransi, etika, serta membangun rasa aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Kabar Negeri Plus berharap seluruh sekolah di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung, menjadikan MPLS tahun ajaran baru sebagai momentum melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, serta bebas dari budaya perpeloncoan, bullying, dan segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Sebab, sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang ditakuti siswanya, melainkan sekolah yang mampu menjadi rumah kedua yang aman, nyaman, dan membanggakan bagi setiap anak bangsa.
(Dok.KN +/Admin)

