
BANYAK ORANG BERKURBAN, TAPI TAK PERNAH MENYEMBELIH EGONYA!” — Kisah Nabi Ibrahim Disebut Jadi Tamparan Keras Bagi Manusia Modern yang Terlalu Mencintai Dunia.
Kabar Negeri Plus | Religi — Di tengah gemerlap kehidupan modern, ketika manusia berlomba mengejar jabatan, popularitas, uang, hingga pengakuan sosial, makna sejati dari kisah Nabi Ibrahim justru dinilai semakin jauh dipahami.
Banyak orang selama ini mengira inti dari kisah Nabi Ibrahim terletak pada darah kurban, ketajaman pisau, dan pengorbanan seorang anak.
Padahal, esensi terbesar dari peristiwa itu bukan tentang penyembelihan, melainkan tentang hati manusia yang diuji oleh rasa memiliki.
Dalam refleksi spiritual yang kembali ramai diperbincangkan menjelang momentum Iduladha, kisah Nabi Ibrahim disebut sebagai kritik paling tajam terhadap kerakusan manusia dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Allah tidak sedang meminta nyawa Nabi Ismail. Yang sedang diuji adalah apakah Ibrahim mampu melepaskan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Tuhan.
Pesan itulah yang dinilai sangat relevan dengan kondisi manusia modern saat ini.
“Ismail” hari ini bukan lagi anak yang dibaringkan di altar kurban. “Ismail” modern telah berubah menjadi rekening, jabatan, validasi media sosial, popularitas, gelar, hingga ego yang dipeluk terlalu erat oleh manusia.
Fenomena itu terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang rela kehilangan keluarga demi karier, kehilangan nurani demi keuntungan, bahkan mengorbankan harga diri demi status sosial.
Media sosial pun dianggap turut memperparah kondisi tersebut. Manusia perlahan didorong mencintai citra dibanding makna hidupnya sendiri. Kehidupan tak lagi dibangun atas nilai dan ketulusan, melainkan demi pengakuan dan pujian.
Ironisnya, semakin besar rasa memiliki terhadap dunia, semakin besar pula rasa takut kehilangan. Dari situlah manusia dinilai mulai menjadikan dunia sebagai “berhala modern” tanpa disadari.
Kisah Nabi Ibrahim akhirnya bukan sekadar cerita ritual tahunan yang diperingati lewat penyembelihan hewan kurban.
Lebih dari itu, kisah tersebut dipahami sebagai simbol perjuangan melawan kesombongan, ketamakan, ambisi tanpa batas, serta ego yang terus tumbuh dalam diri manusia.
Sebab pada akhirnya, tidak semua orang yang mampu membeli sapi benar-benar mampu menyembelih egonya sendiri.
Banyak yang tampak religius di luar, namun hidupnya masih sepenuhnya dikendalikan ambisi dunia yang tak pernah selesai.
Pesan terbesar dari kisah Ibrahim disebut tetap sama hingga hari ini: setiap manusia pasti memiliki “Ismail” dalam hidupnya.
Persoalannya bukan pada seberapa besar rasa cinta terhadapnya, melainkan apakah manusia mampu ikhlas melepaskannya ketika Tuhan meminta hati untuk tidak diperbudak oleh dunia.
(Dok.KN +/Jakfar sidiq)

