Pagar Kekuasaan: Saat Kesombongan Menjadi Penjara yang Mengubur Kemanusiaan

KABAR NEGERI PLUS

Ironisnya, di zaman ketika manusia mengaku semakin modern dan beradab, semakin sedikit yang sibuk menanam pohon, merawat kebun, atau membangun ruang hidup yang memberi manfaat bagi sesama. Yang justru tumbuh subur adalah pagar-pagar tak kasat mata—dibangun dari jabatan, kekuasaan, kekayaan, birokrasi, dan gengsi sosial.

Pagar-pagar itu memang tidak terbuat dari besi atau beton, tetapi jauh lebih berbahaya. Ia memisahkan manusia dari nuraninya sendiri. Ia menghalangi empati, menutup telinga terhadap kritik, dan menjadikan kekuasaan sebagai benteng yang sulit ditembus oleh suara keadilan.

Semakin tinggi pagar itu dibangun, semakin jauh pula pemiliknya dari rakyat yang seharusnya mereka layani.

Di balik kemegahan jabatan, sering kali tersembunyi jiwa yang rapuh. Orang yang merasa harus terus dipuja sesungguhnya sedang menyembunyikan ketakutannya kehilangan pengaruh. Mereka membangun jarak bukan karena kuat, melainkan karena takut dianggap biasa.

Pemikir besar **** telah lama menjelaskan gejala ini melalui konsep amour-propre, yakni cinta diri yang telah tercemar oleh obsesi terhadap pengakuan sosial. Manusia tidak lagi hidup untuk menjadi pribadi yang baik, tetapi hidup demi memperoleh pujian, penghormatan, dan status.

Ketika penyakit ini menjangkiti seorang pemegang kekuasaan, lahirlah birokrasi yang anti kritik, kepemimpinan yang alergi terhadap kebenaran, dan budaya feodal yang memandang rakyat hanya sebagai pelengkap legitimasi.

Di titik inilah kesombongan berubah menjadi penyakit sosial.

Rasulullah SAW telah memberikan definisi yang begitu sederhana namun sangat mendalam:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

Hadis ini menjadi cermin yang memantulkan wajah asli banyak pagar kekuasaan hari ini. Ia bukan lagi sekadar simbol kewibawaan, melainkan alat untuk menolak kritik, membungkam suara berbeda, serta merendahkan martabat manusia yang berada di luar lingkaran kepentingan.

Lebih jauh lagi, filsuf Jerman **** berbicara mengenai Wille zur Macht—kehendak untuk berkuasa. Namun, kehendak itu kehilangan makna ketika seseorang gagal menguasai dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu mengendalikan ego akan selalu berusaha mengendalikan orang lain.

Kekuasaan pun berubah menjadi candu.

Jabatan tidak lagi menjadi amanah, melainkan identitas.

Kritik dianggap ancaman.

Rakyat dipandang sebagai angka statistik.

Sementara manusia perlahan kehilangan nilainya sebagai sesama makhluk.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran **** yang menegaskan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai alat untuk mencapai tujuan. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.

Namun, ketika kesombongan telah menguasai hati, rakyat hanya diposisikan sebagai objek politik, buruh hanya menjadi mesin produksi, dan konsumen sekadar sumber keuntungan. Nilai kemanusiaan dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan dan ekonomi.

Al-Qur’an telah mengingatkan jauh sebelum teori-teori modern lahir:

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Yunus: 44).

Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman tidak pernah benar-benar menguatkan pelakunya. Sebaliknya, setiap tindakan yang dibangun di atas kesombongan perlahan sedang menghancurkan fondasi moral dirinya sendiri.

Semakin tinggi seseorang meninggikan pagar kekuasaannya, semakin sempit ruang kemanusiaan yang tersisa di dalam hatinya.

Karena itu, peradaban tidak membutuhkan lebih banyak tembok, protokoler, atau simbol-simbol superioritas. Yang dibutuhkan adalah keberanian meruntuhkan pagar ego.

Pemimpin besar tidak dikenang karena banyaknya pengawal atau tingginya pagar rumah dinasnya. Mereka dikenang karena pintunya terbuka, telinganya mau mendengar, dan keberaniannya berdiri bersama rakyat ketika keadaan sulit.

Al-Qur’an kembali menegaskan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah.” (QS. An-Nisa: 40).

Jika Tuhan Yang Maha Kuasa saja menegakkan keadilan hingga perkara yang paling kecil, mengapa manusia yang hanya sementara memegang kekuasaan justru sibuk membangun benteng keangkuhan?

Sudah saatnya manusia modern berhenti berlomba memperkokoh pagar kekuasaan. Kita perlu kembali “berkebun”—menanam kejujuran, menyiram kesabaran, memupuk kerendahan hati, dan membuka ruang bagi empati untuk tumbuh tanpa sekat.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah mengabadikan siapa yang memiliki pagar paling tinggi.

Sejarah hanya akan mengingat siapa yang paling banyak membuka pintu bagi sesama.

(Dok. KN +/Jakfar sidiq)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *