
Sibuk Bukan Alasan: Mengapa Ibadah Sering Jadi yang Pertama Ditinggalkan?
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 1 Mei 2026)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kejujuran sederhana: kita tidak kekurangan waktu, tetapi sering salah menempatkan prioritas.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”
(QS Al-Ma‘un [107]: 4–5)
Inti Pesan
Kita sering mengatakan: sibuk.
Sibuk kerja.
Sibuk urusan.
Sibuk mencari rezeki.
Namun anehnya, di tengah semua kesibukan itu, ibadah justru sering jadi yang pertama dikorbankan.
Kita bisa tepat waktu untuk pekerjaan.
Bisa meluangkan waktu untuk hal yang kita suka.
Tapi sering menunda saat waktu salat tiba.
Ini bukan soal tidak punya waktu.
Ini soal apa yang kita anggap penting.
Karena pada kenyataannya, kita selalu punya waktu untuk apa yang kita prioritaskan.
Baca Juga:
Hidup Ini Singkat: Jangan Sampai Kita Sadar Saat Sudah Terlambat
Aksi Hari Ini
Ubah prioritas, bukan alasan:
- Jaga salat tepat waktu
Apa pun kesibukannya, jangan ditunda. - Sisihkan waktu khusus untuk Allah
Bukan sisa waktu, tapi waktu yang memang disiapkan. - Evaluasi aktivitas harian
Mana yang penting, mana yang hanya menghabiskan waktu.
Banyak orang merasa sibuk, padahal tidak semua kesibukan itu bernilai. Kita mengisi hari dengan banyak aktivitas, tetapi tidak semuanya membawa manfaat. Ketika ibadah mulai tersisih, itu tanda bahwa ada yang salah dalam prioritas. Kesibukan tidak akan pernah habis, tetapi waktu kita terbatas. Karena itu, bukan soal bagaimana kita menambah waktu, tetapi bagaimana kita menempatkan yang paling penting di atas segalanya.
Kunci: kita selalu punya waktu untuk apa yang kita anggap penting.
Jika ibadah terasa sempit, bukan karena waktunya kurang, tetapi karena prioritasnya tergeser. Dari sinilah semuanya harus diperbaiki. Ketika Allah ditempatkan di posisi utama, waktu akan menyesuaikan. Dan ketika Allah diabaikan, kesibukan tidak akan pernah memberi ruang.
Penutup
Sibuk bukan alasan untuk menjauh dari Allah.
Justru di tengah kesibukan, kita paling membutuhkan-Nya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

