
Ketika Dunia Membuat Hati Terlalu Sibuk
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 13 Juni 2026 | Hari 13 Minggu II)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita merenungkan sebuah fenomena yang semakin sering terjadi di zaman ini.
Tubuh semakin sibuk.
Pikiran semakin penuh.
Aktivitas semakin padat.
Tetapi hati justru semakin lelah.
Sejak bangun pagi hingga menjelang tidur, manusia terus bergerak mengejar berbagai urusan dunia. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada target yang harus dicapai. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada berbagai hal yang terus meminta perhatian.
Tanpa disadari, kesibukan itu perlahan memenuhi seluruh ruang dalam hati.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Pada Hari ke-12 kita belajar bahwa ada luka yang hanya bisa disembuhkan oleh sujud. Hari ini kita belajar mengapa banyak hati kehilangan ketenangannya, yaitu karena terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan Allah.
Dalil
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam harta dan anak-anak.”
(QS Al-Hadid [57]: 20)
Inti Pesan
Islam tidak pernah melarang manusia bekerja.
Islam tidak melarang mencari rezeki.
Islam tidak melarang memiliki harta.
Islam juga tidak melarang mengejar kesuksesan.
Namun Islam mengingatkan agar dunia berada di tangan, bukan di dalam hati.
Masalah muncul ketika dunia mengambil tempat yang terlalu besar dalam kehidupan seseorang.
Ketika bangun tidur yang pertama diingat adalah urusan dunia.
Ketika sepanjang hari hati dipenuhi kecemasan tentang dunia.
Ketika malam tiba, pikiran masih dipenuhi ambisi dunia.
Dan ketika waktu salat tiba, hati terasa berat untuk menghadap Allah.
Di sinilah tanda bahwa dunia mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam hati.
Padahal dunia hanyalah tempat singgah.
Bukan tujuan akhir.
Banyak orang mengira bahwa semakin banyak yang dimiliki, maka semakin tenang hidupnya.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada yang hartanya bertambah, tetapi kegelisahannya juga bertambah.
Ada yang jabatannya naik, tetapi ketenangannya justru berkurang.
Ada yang semakin sukses, tetapi semakin jauh dari Allah.
Karena ketenangan tidak lahir dari banyaknya dunia yang dimiliki.
Ketenangan lahir dari hati yang mampu menempatkan dunia pada posisi yang semestinya.
Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling mulia.
Jika beliau menginginkan kemewahan dunia, Allah mampu memberikannya.
Namun beliau memilih hidup sederhana.
Karena beliau memahami bahwa dunia hanyalah kendaraan menuju akhirat.
Hari ini banyak orang tidak memiliki waktu untuk membaca Al-Qur’an.
Tidak memiliki waktu untuk berdzikir.
Tidak memiliki waktu untuk merenung.
Tetapi mampu menghabiskan berjam-jam untuk urusan yang tidak mendekatkan dirinya kepada Allah.
Bukan karena tidak ada waktu.
Tetapi karena hati sudah terlalu sibuk dengan dunia.
Karena itu sesekali kita perlu berhenti.
Mengevaluasi diri.
Menanyakan kepada hati:
Apakah dunia yang sedang saya kejar membuat saya semakin dekat kepada Allah?
Atau justru semakin menjauh?
Kunci
Dunia bukan musuh. Tetapi ketika dunia menguasai hati, saat itulah ketenangan mulai menghilang dan hubungan dengan Allah mulai melemah.
Baca Juga:
Musuh Terbesar Itu Ada di Dalam Diri Sendiri
Aksi Hari Ini
Luangkan waktu khusus tanpa gangguan dunia
Matikan sejenak telepon genggam dan gunakan waktu untuk berdzikir atau membaca Al-Qur’an.
Periksa kembali prioritas hidup
Pastikan Allah tetap berada di posisi utama dalam kehidupan.
Jaga salat tepat waktu
Jangan biarkan kesibukan menjadi alasan menunda ibadah.
Kurangi hal-hal yang tidak bermanfaat
Agar hati memiliki ruang untuk mengingat Allah.
Biasakan merenung setiap malam
Evaluasi apakah aktivitas hari ini mendekatkan atau menjauhkan diri dari Allah.
Sering kali manusia merasa lelah bukan karena terlalu banyak bekerja, tetapi karena terlalu banyak memikirkan dunia dan terlalu sedikit mengingat Allah. Ketika hati kembali terhubung kepada Allah, kesibukan yang sama bisa terasa lebih ringan dan lebih bermakna.
Penutup
Jika hari ini hidup terasa terlalu sibuk,
berhentilah sejenak.
Jika hati terasa penuh,
tenangkanlah dengan mengingat Allah.
Jika dunia mulai menguasai pikiran,
ingatlah bahwa dunia hanyalah tempat singgah.
Jangan biarkan kesibukan membuatmu lupa kepada Allah.
Jangan biarkan ambisi membuatmu kehilangan arah.
Dan jangan biarkan dunia memenuhi seluruh ruang dalam hatimu.
Karena hati yang dipenuhi dunia akan mudah gelisah.
Tetapi hati yang dipenuhi Allah akan selalu menemukan ketenangan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

