Bumi Kian Terancam, Lampung Bergerak!” — Aliansi Energi Bersih Turun ke Jalan, Desak Perubahan Nyata di Hari Bumi

Bandar Lampung | Kabar Negeri Plus – Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang kian nyata, gelombang kesadaran publik akhirnya menggema dari jantung Kota Bandar Lampung.

Momentum Hari Bumi, Rabu (22/4/2026), menjadi titik balik bagi Aliansi Masyarakat Peduli Energi Bersih Lampung untuk turun ke jalan, menyuarakan tuntutan tegas: saatnya beralih ke energi bersih, atau bersiap menghadapi konsekuensi yang lebih besar.

Dengan membawa spanduk bertuliskan seruan penyelamatan bumi dan poster bernada kritis terhadap ketergantungan energi fosil, puluhan massa aksi dari berbagai elemen—mulai dari aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga komunitas masyarakat sipil—memadati titik aksi di pusat kota.

. Suasana penuh semangat, namun sarat keprihatinan, terlihat jelas dari orasi-orasi yang menggema lantang di tengah keramaian.

Koordinator aksi dalam pernyataannya menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi tidak boleh berhenti pada seremoni simbolik semata.

Ia menilai, kondisi lingkungan saat ini sudah berada pada fase yang mengkhawatirkan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali serta minimnya komitmen serius terhadap energi terbarukan.

“Lampung punya potensi besar—tenaga surya melimpah, biomassa tersedia, bahkan peluang energi angin di beberapa wilayah. Tapi yang terjadi, kita masih terlalu bergantung pada energi fosil. Ini bukan hanya soal kebijakan, tapi soal masa depan,” tegasnya
.
Lebih jauh, massa aksi juga menyoroti perlunya keberpihakan pemerintah daerah dalam mendorong kebijakan energi bersih yang konkret dan berkelanjutan.

. Mereka mendesak adanya peta jalan (roadmap) transisi energi di tingkat daerah, insentif bagi penggunaan energi terbarukan, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas industri yang berpotensi merusak lingkungan.

Tak hanya itu, aspek edukasi publik juga menjadi sorotan utama. Menurut peserta aksi, perubahan besar tidak akan terjadi tanpa keterlibatan aktif masyarakat.

Kampanye hemat energi, penggunaan panel surya rumah tangga, hingga pengurangan jejak karbon dinilai sebagai langkah sederhana namun berdampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Aksi ini tidak hanya diisi dengan orasi, tetapi juga aksi simbolik berupa penanaman pohon sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan.

Selain itu, massa membagikan selebaran edukatif kepada masyarakat yang melintas, mengajak mereka untuk mulai peduli terhadap isu energi dan lingkungan dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta aksi menyampaikan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan bumi. Ia menilai, suara anak muda harus menjadi kekuatan pendorong perubahan kebijakan yang selama ini berjalan lambat.

“Kita tidak bisa menunggu sampai semuanya terlambat. Krisis iklim itu nyata, dan dampaknya sudah kita rasakan. Ini saatnya bergerak bersama,” ujarnya penuh semangat.

Melalui aksi ini, Aliansi Masyarakat Peduli Energi Bersih Lampung berharap peringatan Hari Bumi 2026 menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif, sekaligus titik tekan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk lebih serius dalam mengembangkan energi bersih di Provinsi Lampung.

Lebih dari sekadar aksi, ini adalah peringatan keras bahwa bumi tidak bisa terus menunggu.

(Dok.KN +/Ibnu hafiz)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *