KUA Way Lima Perkuat Kerukunan, Cegah Konflik Lewat Ngopi Bareng

PESAWARAN, KABAR NEGERI PLUS, 9 OKTOBER 2026 — Kerukunan tidak cukup dijaga setelah perselisihan terjadi. Ia harus dirawat sejak dini, ketika perbedaan masih bisa dibicarakan, kesalahpahaman masih bisa diluruskan, dan kepercayaan masih bisa dibangun.

Semangat itulah yang diusung Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran, melalui kegiatan Ngopi Bareng bersama unsur pimpinan kecamatan (Uspika) dan berbagai elemen masyarakat pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah kecamatan, TNI-Polri, KUA, penyuluh agama, tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas), pengasuh pondok pesantren, hingga pemerintah desa se-Kecamatan Way Lima.

Pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi. Lebih dari itu, Ngopi Bareng menjadi ruang komunikasi lintas sektor untuk menyatukan persepsi, menyerap aspirasi, memperkuat koordinasi, serta mengenali sejak dini potensi persoalan sosial dan keagamaan yang dapat mengganggu keharmonisan masyarakat.

Pesannya jelas: menjaga kerukunan tidak bisa hanya mengandalkan aparat ketika masalah sudah membesar. Semua unsur masyarakat harus terlibat sejak awal.

Moderasi beragama harus hadir di tengah masyarakat
Kepala KUA Way Lima menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama dan menjaga kerukunan umat.

ā€œModerasi beragama itu bukan hanya konsep. Harus dipraktikkan. Adil, seimbang, menghargai perbedaan, dan menolak kekerasan atas nama agama.

KUA di tingkat kecamatan harus menjadi simpul komunikasi sosial,ā€ ujarnya dalam sambutan.
Selama ini, KUA kerap dipersepsikan sebatas lembaga yang mengurus pencatatan pernikahan.

Padahal, perannya juga mencakup pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat sesuai tugas dan kewenangannya.

Melalui penyuluh agama, pembinaan majelis taklim, serta komunikasi dengan tokoh agama dan pengasuh pesantren, KUA dapat mengambil peran strategis dalam membangun pemahaman keagamaan yang damai, memperkuat toleransi, dan membuka ruang dialog ketika muncul persoalan di tengah masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Ngopi Bareng menjadi salah satu pendekatan untuk mendekatkan para pemangku kepentingan sekaligus memperkuat budaya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.

Deteksi dini dan tabayyun menjadi kunci
Salah satu pokok pembahasan dalam forum tersebut adalah pentingnya deteksi dini terhadap potensi ketegangan sosial.

Perbedaan pandangan antarwarga, persoalan yang melibatkan kelompok masyarakat, hingga beredarnya informasi provokatif perlu disikapi secara proporsional. Setiap persoalan harus ditangani berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, melalui komunikasi yang terbuka, dan tanpa memperkeruh keadaan.

Pencegahan konflik bukan semata-mata tugas aparat keamanan. Tokoh agama dapat menyampaikan pesan yang menyejukkan, penyuluh agama memperkuat edukasi tentang toleransi, pemerintah memfasilitasi koordinasi, sedangkan TNI-Polri menjalankan tugas menjaga keamanan sesuai kewenangannya.

Semua pihak memiliki ruang kontribusi untuk memastikan persoalan tidak berkembang menjadi pertentangan yang lebih luas.

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat juga perlu memperkuat literasi informasi. Prinsip tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya menjadi penting agar kabar yang belum terverifikasi tidak memicu kesalahpahaman maupun permusuhan.

Dengan demikian, menjaga kerukunan tidak hanya dilakukan melalui pertemuan formal, tetapi juga melalui sikap bijak dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun di ruang digital.

Komitmen bersama, bukan sekadar seremoni
Kegiatan Ngopi Bareng tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan, keamanan, dan ketertiban di wilayah Kecamatan Way Lima.

Komitmen itu dituangkan melalui penandatanganan bersama sebagai bentuk kesediaan kolektif seluruh unsur yang terlibat untuk memperkuat kerja sama.

Forum tersebut juga disepakati akan dilaksanakan secara rutin setiap triwulan. Pertemuan berkala ini diharapkan menjadi sarana mengevaluasi situasi di masyarakat, membahas persoalan aktual, serta memperkuat jejaring komunikasi antarpemangku kepentingan.

ā€œKeberhasilan forum ini bukan diukur dari meriahnya acara, tapi dari seberapa kuat kepercayaan yang terbangun dan seberapa cepat persoalan bisa diidentifikasi sebelum menjadi konflik terbuka,ā€ kata salah satu perwakilan Uspika Way Lima.

Komitmen tersebut menjadi penting karena keberhasilan menjaga kerukunan tidak berhenti pada kesepakatan tertulis. Ukurannya terletak pada konsistensi komunikasi, tindak lanjut terhadap persoalan yang muncul, serta kemampuan seluruh unsur untuk bekerja sama ketika masyarakat membutuhkan penyelesaian.

KUA dan masyarakat, merawat damai dari tingkat kecamatan
Langkah KUA Way Lima membangun komunikasi lintas sektor menunjukkan bahwa upaya menjaga kerukunan dapat dimulai dari ruang sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sebagai institusi Kementerian Agama yang bersentuhan langsung dengan warga, KUA memiliki peluang untuk memperkuat pembinaan keagamaan dan menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.

Peran tersebut bukan untuk mengambil alih kewenangan instansi lain, melainkan memperkuat kolaborasi sesuai tugas masing-masing.

Sebab, kerukunan bukan sekadar keadaan ketika tidak ada pertengkaran.

Kerukunan tumbuh ketika masyarakat saling percaya, menghormati perbedaan, mampu berdialog, dan memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan persoalan.

Dari Way Lima, pesan itu disampaikan melalui sebuah pertemuan sederhana: secangkir kopi dapat membuka percakapan, percakapan dapat menumbuhkan kepercayaan, dan kepercayaan menjadi salah satu fondasi penting bagi perdamaian.

Kini, tantangannya adalah memastikan semangat tersebut tidak berhenti di meja pertemuan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.


(Dok. KN+ Jakfar/Junaidi)

Ā 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *