
“KUR Bukan untuk yang Siap Alasan!” — Fakta Keras yang Terungkap di Balik Gagalnya UMKM Dapat Modal
LAMPUNG | Kabar Negeri Plus – Di tengah gencarnya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digadang-gadang sebagai “angin surga” bagi pelaku UMKM, fakta di lapangan justru berkata lain.
Bukan karena sulit diakses, tetapi banyak pelaku usaha yang ternyata belum siap memenuhi standar dasar perbankan.
Hal ini terungkap dalam workshop UMKM yang menghadirkan perwakilan dari Bank Lampung dan Bank Mandiri, yang secara terbuka membedah realita di balik program pembiayaan murah tersebut.
KUR Mudah, Tapi Tidak Semua Bisa Masuk
Dalam pemaparannya, pihak Bank Lampung menegaskan bahwa secara aturan, KUR memang dirancang untuk memudahkan UMKM mendapatkan modal usaha, dengan bunga ringan dan plafon pembiayaan hingga Rp4,8 miliar per tahun.
Namun, ada batasan yang sering tidak dipahami pelaku usaha.
“Untuk sektor perdagangan, pengajuan KUR umumnya hanya bisa diakses maksimal dua kali. Dan jika omzet usaha sudah di atas Rp4,8 miliar, maka secara kapasitas sudah tidak masuk kategori penerima KUR,” jelas narasumber.
Artinya, KUR memang ditujukan bagi usaha yang masih berkembang, bukan yang sudah masuk skala besar.
Bank Lampung Perkuat Peran, Hadir di 39 Titik Layanan
Sebagai bank daerah, Bank Lampung kini telah memiliki 39 kantor yang tersebar di Provinsi Lampung hingga Jakarta
. Kehadiran ini menjadi bukti keseriusan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya sektor UMKM.
Harapannya, masyarakat tidak lagi hanya mengenal Bank Lampung sebagai bank pemerintah, tetapi sebagai mitra utama dalam pengembangan usaha.
Kunci Lolos KUR: Bukan Sekadar Syarat, Tapi Karakter
Pertanyaan klasik pun mencuat dalam forum: bagaimana agar pengajuan KUR mudah disetujui?
Jawabannya ternyata sederhana—namun sering diabaikan.
Secara administratif, syaratnya hanya:
- KTP
- Kartu Keluarga
- Surat Keterangan Usaha atau NIB
Namun menurut pihak bank, faktor penentu justru ada pada karakter dan track record calon debitur.
“Tidak punya riwayat kredit macet, punya itikad baik, dan usaha yang jelas. Itu yang paling utama,” tegasnya.
Masalah Utama UMKM: Tidak Punya Catatan Keuangan
Banyak pelaku UMKM yang masih menjalankan usaha tanpa pencatatan keuangan, meski hanya sederhana.
Padahal, catatan seperti:
- Modal pembelian barang
- Harga jual
- Keuntungan harian
menjadi dasar penting bagi bank untuk menilai kelayakan usaha.
“Tidak harus pakai sistem rumit. Bahkan catatan manual pun sudah cukup untuk memberikan gambaran usaha,” tambahnya.
Bank Mandiri: KUR Itu Peluang, Tapi Harus Siap
Senada dengan itu, perwakilan Bank Mandiri menegaskan bahwa seluruh bank penyalur KUR mengacu pada regulasi pemerintah yang sama.
Namun, kendala terbesar justru berasal dari internal pelaku usaha itu sendiri.
“Program ini peluang besar dari pemerintah. Tapi kalau usaha belum tertata, tidak punya pembukuan, atau pernah macet kredit, tentu akan sulit disetujui,” ujarnya.
Kesimpulan: Bukan KUR yang Sulit, Tapi Kesiapan UMKM
Workshop ini menjadi tamparan sekaligus motivasi bagi pelaku UMKM. Bahwa akses permodalan sebenarnya terbuka lebar, namun membutuhkan kesiapan yang matang.
Mulai dari:
- Disiplin mengelola keuangan
- Menjaga reputasi kredit
- Menjalankan usaha secara profesional.
Jika itu dilakukan, maka KUR bukan lagi sekadar wacana—melainkan peluang nyata untuk naik kelas.
(Dok.KN +/Admin)

