Marsinah Tak Pernah Mati! Dari Lantai Pabrik ke Dunia Digital, Semangat Perlawanan Perempuan Terus Menyala.

BANDAR LAMPUNG | Kabar Negeri Plus — Tiga dekade telah berlalu sejak nama Marsinah mengguncang Indonesia.

Namun waktu ternyata tidak mampu menghapus jejak perjuangannya. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan dunia kerja yang semakin kompleks, sosok buruh perempuan itu justru kembali menemukan relevansinya sebagai simbol keberanian, perlawanan, dan perjuangan menuntut keadilan.

Ketika jutaan pekerja modern hari ini bergantung pada aplikasi, platform digital, dan sistem kerja fleksibel yang sering kali tidak memberikan kepastian pendapatan maupun perlindungan sosial yang memadai, semangat Marsinah seakan hadir kembali dalam wajah zaman yang berbeda.

Jika dahulu Marsinah berjuang melawan ketidakadilan di lingkungan pabrik dengan keterbatasan akses informasi, kini perjuangan serupa berlangsung di ruang digital.

Para pekerja platform, pengemudi daring, kurir, pekerja lepas digital, hingga tenaga kerja informal menghadapi tantangan baru berupa tekanan target, ketidakpastian penghasilan, dan minimnya jaminan kesejahteraan.

Perubahan teknologi memang membawa kemajuan, namun tidak selalu menghadirkan keadilan. Di balik kecanggihan algoritma dan kemudahan layanan digital, masih terdapat jutaan pekerja yang berjuang mempertahankan hak-hak dasarnya sebagai manusia.

Media sosial yang kini menjadi ruang publik baru telah menjelma menjadi medan perjuangan modern. Berbagai gerakan solidaritas, advokasi ketenagakerjaan, hingga kampanye keadilan sosial berkembang pesat melalui platform digital.

Suara yang dahulu mudah dibungkam kini dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Ketua Suara Marsinah Kota Bandar Lampung, Nurma, menilai bahwa semangat perjuangan Marsinah harus terus dihidupkan sebagai inspirasi bagi generasi perempuan masa kini.

“Perjuangan seorang Marsinah agar dapat menjadi suatu sumber inspirasi bagi seluruh kaum perempuan saat ini. Marsinah mengajarkan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bersuara, memperjuangkan haknya, dan menjadi agen perubahan di tengah tantangan zaman yang terus berkembang,” tegas Nurma.

Menurutnya, perempuan modern tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan sosial dan ekonomi. Mereka harus mampu mengambil peran aktif, meningkatkan kapasitas diri, serta berani memperjuangkan keadilan sebagaimana yang pernah dilakukan Marsinah.

Nurma juga menegaskan bahwa perjuangan Marsinah bukan sekadar kisah masa lalu yang tersimpan dalam buku sejarah, melainkan warisan nilai yang tetap relevan bagi generasi saat ini.

“Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, perempuan harus menjadikan Marsinah sebagai sumber inspirasi masa depan. Semangat keberanian, keteguhan, dan kepeduliannya terhadap sesama pekerja harus terus hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia,” ujarnya.

Fenomena ketidakpastian kerja, rendahnya perlindungan terhadap pekerja informal, hingga berbagai persoalan ketenagakerjaan yang masih terjadi menunjukkan bahwa perjuangan Marsinah belum benar-benar selesai.

Hanya bentuk dan medan perjuangannya yang berubah.
Dari gerbang pabrik hingga layar telepon genggam, dari selebaran aksi hingga kampanye media sosial, semangat Marsinah terus bergerak mengikuti zaman.

Ia telah menjadi simbol bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan martabat manusia.

Hari ini, Marsinah memang telah menjadi bagian dari sejarah bangsa. Namun semangatnya tetap hidup dalam setiap suara yang menuntut keadilan, dalam setiap perempuan yang berani melawan ketidakadilan, dan dalam setiap perjuangan untuk menciptakan dunia kerja yang lebih manusiawi.

Marsinah mungkin telah gugur, tetapi api perjuangannya masih menyala. Dan selama masih ada ketidakadilan, nama Marsinah akan terus hidup sebagai simbol perlawanan yang tak pernah padam.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *