Tutup September Dengan Syukur Dan Tekad Menjadi Lebih Baik

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian Hari 30 | 30 September 2026

SEO Utama: bersyukur dan memperbaiki diri

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Hari ini kita sampai pada penghujung September. Tiga puluh hari telah berlalu dengan segala cerita di dalamnya. Ada doa yang mungkin telah Allah kabulkan, ada harapan yang masih menunggu, ada kesalahan yang kita sesali, dan ada banyak nikmat yang terkadang luput kita syukuri.

Hari ini bukan sekadar akhir sebuah bulan.

Ini adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, lalu mengucapkan:

“Alhamdulillāh atas semuanya.”

Bukan berarti semua yang terjadi selalu mudah.

Bukan berarti tidak ada kesedihan.

Bukan berarti seluruh keinginan telah terpenuhi.

Tetapi karena di balik setiap keadaan, masih ada nikmat Allah yang sering kali tidak kita sadari.

Bersyukur Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…”
(QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillāh ketika mendapatkan sesuatu yang kita sukai.

Syukur juga berarti menyadari bahwa dalam keadaan sulit sekalipun, masih ada nikmat yang Allah berikan.

Ketika kita sakit, mungkin kita baru menyadari betapa berharganya kesehatan.

Ketika kehilangan sesuatu, mungkin kita baru memahami betapa besar nikmat yang pernah kita miliki.

Ketika menghadapi kesulitan, mungkin kita belajar tentang kesabaran.

Dan ketika doa belum sesuai dengan keinginan, kita belajar untuk tetap percaya kepada Allah.

Karena itu, syukur bukan berarti menyangkal kesedihan.

Syukur berarti tetap melihat nikmat Allah di tengah keadaan yang belum sempurna.

Jangan Lupa Menghitung Nikmat yang Sering Dianggap Biasa

Coba kita renungkan.

Hari ini kita masih bisa melihat.

Masih bisa mendengar.

Masih bisa berjalan.

Masih bisa berbicara dengan orang yang kita sayangi.

Masih bisa bersujud.

Masih bisa membuka Al-Qur’an.

Masih bisa meminta ampun kepada Allah.

Masih bisa memperbaiki kesalahan.

Bukankah semua itu adalah nikmat?

Sering kali manusia sibuk menghitung apa yang belum dimiliki sampai lupa menghargai apa yang sudah diberikan.

Kita melihat kehidupan orang lain dan merasa kurang.

Kita melihat keberhasilan orang lain dan merasa tertinggal.

Kita melihat kebahagiaan orang lain dan lupa bahwa kita juga memiliki banyak alasan untuk bersyukur.

Padahal nikmat tidak selalu berbentuk harta.

Kesempatan untuk beribadah adalah nikmat.

Keluarga yang masih bisa ditemui adalah nikmat.

Kesempatan untuk bertaubat adalah nikmat.

Hari baru yang masih diberikan Allah adalah nikmat.

Syukur Harus Melahirkan Perubahan

Syukur yang benar tidak berhenti pada ucapan.

Ketika Allah memberikan kesehatan, gunakan untuk melakukan kebaikan.

Ketika Allah memberikan rezeki, gunakan sebagian untuk berbagi.

Ketika Allah memberikan ilmu, gunakan untuk membantu orang lain.

Ketika Allah memberikan kesempatan hidup, gunakan untuk memperbaiki amal.

Dan ketika Allah memberikan kesempatan bertaubat, jangan sengaja kembali kepada kesalahan yang sama.

Karena itu, penghujung September sebaiknya bukan hanya menjadi momen untuk mengenang apa yang telah terjadi.

Tetapi juga menjadi momentum untuk bertanya:

“Apa yang akan saya lakukan dengan nikmat Allah setelah ini?”

Sebuah Ilustrasi Tentang Syukur

Bayangkan seseorang yang sepanjang bulan merasa hidupnya tidak berjalan sesuai rencana.

Pekerjaannya belum seperti yang diharapkan.

Beberapa keinginannya belum tercapai.

Ada persoalan keluarga yang belum selesai.

Ia sempat merasa bahwa September adalah bulan yang berat.

Suatu pagi, ia duduk sendirian dan mulai menuliskan apa saja yang masih ia miliki.

Ia masih memiliki keluarga.

Masih memiliki pekerjaan.

Masih memiliki kesehatan.

Masih memiliki kesempatan untuk beribadah.

Masih memiliki orang-orang yang peduli.

Dan yang paling penting, ia masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki kehidupannya.

Ia kemudian tersenyum dan berkata dalam hati:

“Ternyata nikmat Allah jauh lebih banyak daripada keluhan saya.”

Kisah tersebut merupakan ilustrasi, bukan kisah nyata tertentu.

Kadang-kadang yang perlu berubah bukan keadaan kita terlebih dahulu, tetapi cara kita melihat keadaan tersebut.

September Boleh Berakhir, Tekad Jangan Berakhir

Hari ini September selesai.

Tetapi perjalanan hidup belum selesai.

Apa yang kita pelajari selama bulan ini harus dibawa ke bulan berikutnya.

Jika kita belajar menjaga lisan, pertahankan.

Jika kita belajar lebih sabar, lanjutkan.

Jika kita mulai memperbaiki shalat, jangan berhenti.

Jika kita mulai dekat dengan Al-Qur’an, jangan tinggalkan.

Jika kita mulai belajar memaafkan, teruskan.

Jika kita mulai memahami pentingnya bersyukur, jadikan syukur sebagai bagian dari kehidupan.

Jangan sampai semangat memperbaiki diri hanya muncul ketika membaca tulisan dakwah, kemudian hilang ketika kita kembali menjalani rutinitas.

Kebaikan membutuhkan kesinambungan.

Tidak harus langsung sempurna.

Yang penting, terus berjalan.

Jangan Membawa Semua Kesalahan ke Bulan Berikutnya

Setiap manusia memiliki masa lalu.

Ada keputusan yang salah.

Ada perkataan yang seharusnya tidak pernah diucapkan.

Ada kesempatan berbuat baik yang kita lewatkan.

Ada ibadah yang pernah kita lalaikan.

Namun masa lalu tidak harus menjadi penjara.

Jadikan ia pelajaran.

Jika pernah salah, bertaubat.

Jika pernah menyakiti, minta maaf.

Jika pernah lalai, kembali memperbaiki diri.

Jika pernah jauh dari Allah, mendekatlah kembali.

Jangan membawa kesalahan lama sebagai alasan untuk berhenti menjadi baik.

Allah membuka jalan bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya.

Renungan Akhir September

Sebelum September benar-benar kita tinggalkan, mari berhenti sejenak.

Lihat perjalanan satu bulan ini.

Tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.

Tidak perlu merasa paling baik.

Tidak perlu pula merasa paling buruk.

Cukup jujur kepada diri sendiri.

Apa yang sudah membaik?

Apa yang masih harus diperbaiki?

Apa yang harus ditinggalkan?

Apa yang harus dipertahankan?

Dan tanyakan satu hal yang paling penting:

“Jika Allah masih memberikan saya kesempatan memasuki bulan berikutnya, untuk apa kesempatan itu akan saya gunakan?”

Semoga jawabannya bukan sekadar mengejar lebih banyak dunia.

Tetapi juga menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah, lebih baik kepada sesama, dan lebih bermanfaat dalam kehidupan.

Baca Juga:

Hidup Ini Singkat: Jangan Sampai Kita Sadar Saat Sudah Terlambat

 

Aksi Hari Ini

Sebelum tidur malam ini, ambil waktu beberapa menit untuk mengucapkan syukur.

Sebutkan setidaknya lima nikmat Allah yang masih kita miliki.

Kemudian tetapkan tiga tekad sederhana untuk bulan berikutnya:

  • Satu hal dalam ibadah yang ingin diperbaiki.
  • Satu akhlak buruk yang ingin dikurangi.
  • Satu kebaikan yang ingin dibiasakan.

Jangan membuat terlalu banyak target.

Pilih yang benar-benar mampu kita jalankan.

Kemudian serahkan hasilnya kepada Allah sambil terus berusaha.

Penutup

September telah memberikan kita tiga puluh hari.

Ada yang berhasil kita isi dengan kebaikan.

Ada yang mungkin masih penuh kekurangan.

Namun semuanya telah menjadi bagian dari perjalanan kita.

Mari menutup bulan ini dengan syukur, bukan dengan keluhan.

Dengan taubat, bukan dengan kesombongan.

Dengan harapan, bukan dengan keputusasaan.

Dan dengan tekad, bukan sekadar rencana.

Semoga Allah menerima amal baik kita, mengampuni kekurangan kita, dan memberikan kesempatan untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan hati yang lebih bersih dan langkah yang lebih baik.

September boleh berakhir. Tetapi perjalanan menuju menjadi hamba yang lebih baik tidak boleh berhenti.

Doa

Ya Allah, kami bersyukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami sepanjang bulan ini.

Atas kesehatan yang masih Engkau titipkan.

Atas keluarga yang masih Engkau hadirkan.

Atas rezeki yang masih Engkau cukupkan.

Atas kesempatan beribadah yang masih Engkau berikan.

Dan atas kesempatan untuk bertaubat serta memperbaiki diri.

Ya Allah, jika selama bulan ini kami banyak melakukan kesalahan, maka ampunilah kami.

Jika kami lalai, ingatkanlah kami.

Jika kami sombong, lembutkanlah hati kami.

Jika kami jauh dari-Mu, dekatkanlah kami kembali.

Jadikan bulan yang telah berlalu sebagai pelajaran dan bulan yang akan datang sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Berikan kami kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan keikhlasan dalam menjalankan setiap amal.

Rabbana taqabbal minna innaka antas-sami‘ul-‘alim, wa tub ‘alaina innaka antat-tawwabur-rahim.

Ya Allah, terimalah amal kami. Terimalah taubat kami. Dan bimbinglah langkah kami menuju kehidupan yang Engkau ridhai.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *