
INVESTIGASI KN+ | JALAN SUDAH DIBANGUN, TAPI APAKAH KESEJAHTERAAN PETANI AKAN BENAR-BENAR MENYUSUL? Gubernur Mirza Turun Langsung ke Suoh, Mengungkap Persoalan yang Selama Ini Nyaris Tak Terdengar
KABAR NEGERI PLUS | LAMPUNG BARAT
Di balik hamparan sawah yang subur dan kekayaan alam Kecamatan Suoh, tersimpan pertanyaan besar yang selama bertahun-tahun menghantui masyarakat: mengapa daerah dengan potensi pertanian melimpah belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para petaninya?
Pertanyaan itulah yang seolah dijawab langsung oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, saat meninjau pembangunan Ruas Jalan Suoh–SP Blok 9 di Kabupaten Lampung Barat.
Namun, kunjungan tersebut bukan sekadar seremoni proyek infrastruktur. Di lapangan, Gubernur memilih mendengar langsung keluhan masyarakat yang selama ini menjadi mata rantai persoalan pembangunan. Jalan rusak, cuaca yang tidak menentu, hingga minimnya fasilitas pengering gabah (dryer) terbukti membuat kualitas hasil panen menurun drastis. Dampaknya bukan hanya pada produksi, tetapi juga langsung menekan harga jual yang diterima petani.
Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan pertanian tidak berhenti pada proses tanam dan panen. Ada rantai distribusi, infrastruktur, hingga fasilitas pascapanen yang selama ini menjadi titik lemah dan membuat nilai ekonomi hasil pertanian sulit meningkat.
Suoh sendiri menyimpan potensi luar biasa. Padi, kopi, kakao, lada, kelapa hingga pisang menjadi komoditas unggulan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Sayangnya, tanpa dukungan akses jalan yang memadai dan fasilitas penunjang, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi peningkatan pendapatan petani.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan pembangunan tidak berhenti pada pengaspalan jalan. Program peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan sarana pertanian, hingga pemberian Program Pupuk Hayati Cair (PHC) secara gratis turut disiapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian hingga sekitar 15–30 persen.
“Potensi yang dimiliki daerah harus benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” menjadi komitmen yang kembali ditegaskan Gubernur Mirza dalam kunjungannya.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, pada tahun 2026 Pemprov Lampung juga melanjutkan preservasi Ruas Pekon Balak–Suoh serta Ruas Liwa–Batas Sumatera Selatan. Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi jalur penggerak pertanian, UMKM, pariwisata, dan distribusi hasil bumi yang selama ini terkendala akses.
Meski demikian, masyarakat kini menaruh harapan sekaligus perhatian. Akankah pembangunan jalan ini benar-benar mengubah nasib petani, atau hanya menjadi proyek fisik tanpa dampak ekonomi yang signifikan? Jawabannya akan bergantung pada konsistensi pemerintah dalam memastikan seluruh mata rantai pembangunan—dari akses jalan, fasilitas pascapanen, hingga pemasaran hasil pertanian—berjalan beriringan.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari panjang jalan yang selesai dibangun, melainkan dari seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat di dapur mereka.
(Dok.KN +/Admin

