
Lisan yang Dijaga Akan Menyelamatkan Hati
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 5 Juli 2026 | Hari 5 Minggu I)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus kembali mengajak kita mengawali hari dengan sebuah renungan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kemarin kita belajar bahwa syukur membuka pintu nikmat yang lebih besar.
Hari ini kita diajak menjaga salah satu nikmat terbesar yang sering kali justru menjadi sebab datangnya penyesalan.
Yaitu lisan.
Banyak persahabatan hancur karena lisan.
Banyak keluarga retak karena lisan.
Banyak permusuhan lahir karena lisan.
Dan tidak sedikit dosa yang terus mengalir karena ucapan yang dianggap sepele.
Padahal lisan yang hanya beberapa sentimeter panjangnya mampu menentukan keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Allah memberikan manusia dua mata untuk melihat.
Dua telinga untuk mendengar.
Tetapi hanya satu lisan untuk berbicara.
Seakan mengajarkan bahwa kita seharusnya lebih banyak melihat dan mendengar daripada berbicara.
Dalil
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS Qaf [50]: 18)
Inti Pesan
Setiap kata yang keluar dari lisan tidak pernah sia-sia.
Allah memerintahkan malaikat untuk mencatat semuanya.
Ucapan yang baik menjadi pahala.
Ucapan yang menyakiti menjadi dosa.
Ucapan yang menghibur menjadi amal.
Ucapan yang memfitnah menjadi beban yang akan dipertanggungjawabkan.
Karena itu, menjaga lisan bukan hanya soal sopan santun.
Tetapi juga bagian dari menjaga hati.
Lisan adalah cermin isi hati.
Jika hati dipenuhi keimanan, lisan akan lebih mudah mengucapkan kebaikan.
Sebaliknya, jika hati dipenuhi iri, sombong, dan amarah, maka lisan akan menjadi jalan keluarnya semua keburukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Diam dari keburukan sering kali lebih mulia daripada banyak berbicara tanpa manfaat.
Kisah Teladan
Nabi Yusuf ‘alaihissalam memberikan teladan yang sangat indah tentang menjaga lisan.
Beliau difitnah, dimasukkan ke dalam penjara tanpa kesalahan, dan dipisahkan dari keluarganya selama bertahun-tahun.
Namun ketika Allah mempertemukan kembali beliau dengan saudara-saudaranya yang dahulu telah melemparkannya ke dalam sumur, Nabi Yusuf tidak membalas dengan kata-kata yang menyakitkan.
Beliau justru berkata:
لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ
“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian.”
(QS Yusuf [12]: 92)
Padahal beliau memiliki kesempatan untuk membalas.
Beliau memiliki kekuasaan.
Beliau memiliki kedudukan.
Namun beliau memilih memaafkan.
Lisan beliau menjadi jalan lahirnya kasih sayang, bukan dendam.
Inilah bukti bahwa hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang menenangkan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Menjaga lisan bukan berarti tidak pernah berbicara.
Tetapi memilih berbicara hanya ketika ucapan itu membawa manfaat.
Seseorang yang mampu mengendalikan lisannya biasanya juga mampu mengendalikan emosinya.
Sebaliknya, banyak penyesalan dalam hidup berasal dari kata-kata yang diucapkan saat marah.
Karena itu, sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah ucapan ini benar?
Apakah bermanfaat?
Apakah akan menyakiti orang lain?
Jika jawabannya tidak, maka diam sering kali menjadi pilihan yang lebih baik.
Kunci
Lisan yang dijaga akan menjaga hati tetap bersih, menjaga hubungan dengan sesama, dan menjadi sebab datangnya ridha Allah.
Baca Juga:
Jangan Hanya Mengingat Allah Saat Susah
Aksi Hari Ini
Mulailah hari dengan dzikir
Agar lisan terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang baik.
Berpikirlah sebelum berbicara
Pastikan ucapan membawa manfaat dan tidak menyakiti.
Hindari ghibah, fitnah, dan ucapan kasar
Karena dosa lisan sering dianggap ringan, padahal sangat berat di sisi Allah.
Biasakan mengucapkan kata-kata yang menenangkan
Berikan doa, semangat, dan nasihat yang baik kepada orang lain.
Mohon kepada Allah agar menjaga lisan
Karena lisan yang terjaga adalah tanda hati yang terus dibimbing oleh-Nya.
Banyak orang mampu menjaga penampilan di hadapan manusia, tetapi sulit menjaga lisannya. Padahal satu kalimat yang baik dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah, sedangkan satu kalimat yang buruk dapat menyeretnya kepada penyesalan yang panjang.
Penutup
Jika hari ini engkau ingin memperbaiki hidup,
mulailah dari lisanmu.
Jika hari ini engkau ingin menjaga hati,
mulailah dari ucapanmu.
Jika hari ini engkau ingin menjadi pribadi yang dicintai manusia,
biasakanlah berkata dengan lembut.
Karena ucapan yang baik adalah sedekah.
Kata-kata yang santun adalah ibadah.
Dan lisan yang selalu mengingat Allah akan membawa ketenangan bagi pemiliknya.
Semoga Allah menjaga lisan kita dari dusta, ghibah, fitnah, dan segala ucapan yang tidak diridhai-Nya.
Semoga setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi sebab bertambahnya pahala dan menjadi jalan menuju surga-Nya.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

